Aneh cara markesot memperlakukan hari idul fitri. sejak sehari sebelum idul fitri, pintu kamar rumahnya di tutup rapat rapat dan ia ngendon di dalam , entah apa yang di lakukannya .
memang semenjak di tinggal ayahanda tercintanya serta teman yg di sayanginya praktis markesot selalu menyendiri jadi markesot menikmati kesendirian dan kesunyian hidupnya tanpa ada yang mengganggu . hidup ini memang sendiri , di perut ibu sendiri , dalam kuburan yang sendiri ,nanti menanggu pahala dan dosa juga sendiri. dalam kenyataan hidup sehari hari , kelihatannya saja orang berkumpul dan berteman atau berkeluarga, tapi senantiasa setiap orang bertempat tinggal di dalam dirinya sendiri , punya "kesibukan hati " yang sendiri dan diam diam - sehingga orang lain tak ada yang tahu , sehingga pepatah mengatakan " dalamnya laut bisa di duga , hati orang siapa tahu "
hidup ini sendiri. amat sendiri. kalau kita berjalan ke suatu tempat , orang berkata . "O.. , di mau ke pasar , "O..., dia mau makan " atau "O.. dia lapar kelihatannya. " semuanyabenar , sebab kita memang lapar dan berjalan mau makan di pasar. tapi , semuanya juga salah , karena yang kita lakukan sesungguhnya jauh lebih dalam sekedar makan. kita jadi "sendiri" , karena orang lain tidak benar benar tahu siapa kita dan apa yang sesungguhnya kita lakukan. kita ini "sendiri " , karena anggapan kita tentang diri sendiri dan apa yang kita lakukan sering berbeda jauh dengan apa yang dianggap oleh orang lain.
hidup ini sendiri . hanya berdua dengan ALLAH . tapi kelak jika tauhid sudah tercapai , tak lagi "berdua" , sebab tauhid itu artinya penyatuan. Hasil dari penyatuan ialah satu.
Markesot menutup pintu rumahnya rapat rapat , entah ia bersembahyang sholat 'Id dimana , tapi pasti bukan seperti para wali atau kiai tertentu yang kalau shalat Jumat langsung di Masjidil Haram di Makkah.
selesai hari kedua syawwal , baru pintu di buka. keluarrumah mengunjungi tetangga tetangga dan handai tolan. bermaaf maafan , bikin skor kosong - kosong .
markesot terlihat agak pendiam. berusaha selalu tersenyum tapi masih kaku dan kidung. kalau omong , agak sedikit lebih serius dibandingkan kebiasaannya.
baju nya tetap itu itu juga , dan seorang teman menggodannya: " kok, tidak pakai baju baru ? " kan menurut Rasulullah , itu sunah hukumnya " ?
jawaban markesot serius sehingga nampak lucu : " jawabannya ada dua . pertama , bajuku tidak baru , tapi caraku memandang , menilai , dan memperlakukan baju ini insya Allah baru. dengan demikian , baju lama ini menjadi baru , kan ? karena hidup ini bukan bergantung apa bedanya , melainkan bagaimana kamu memandang . dua orang menggenggam tanah liat , yang satu bikin keramik dengantanah liat itu , lainnya memakai tanah liat itu untuk menyumpal mulut. itu karena dua pandangan yang berbeda atas benda yang sama. jadi , baju saya ini baru , sebab bagi mata pandang saya yang baru. baju ini bukan baju yang kemarin. baju ini lahir kembali , alias ber- Idul Fitri. demikian juga saya harapkan segala sesuatu yang lain. itu jawaban saya yang pertama. jawaban kedua : baju saya tetap baju yang kemarin kemarin sebab kamu tidak pernah punya inisiatif untuk membelikan saya baju..." ^_^
temannya tertawa... " lha , dari mana duitnya ? sini kasih saya duit nanti sya belikan baju dua lembar , satu untuk saya satu lagi untuk kamu.. hehehe jawab temannya.
teman teman lain juga selalu bertanya selama tiga hari ini selama lebaran ngapain aja markesot ? kok ngeleng di dalam rumah saja.
jawabannya macam macam , tergantung sedang di wilayah teman mana mood dan konsentrasinya. " saya nglungsungi , " katanya.
"kamu ini ulo , tho ?"
"ya. saya nglungsungi , sakit sekali rasanya."
"lho , Idul Fitri ' kan hari kemenangan , kok malah sakit ?"
"lha iya . kemenangan itu sakit. semakin besar dan tinggi tingkat kemenangan , semakin sakit prosesnya."
"kecuali menang pasang taruhan."
"kalau triple pain. sakit berganda ganda. sudah kehabisan duit , nomernya blong , harus menanggung akibat sampingan lagi dengan keluarga. itu kekalahan total dan komplit."
"terus apa maksud kamu nglungsungi ?"
"mencoba memfitrikan diri. mencoba menjadi wajar kembali , menjadi alamiah kembali. mewajarkan keinginan, mewajarkan kebutuhan, mewajarkan konsumsi, sikap hidup, dan apa saja . soalnya kita ini aneh . wong Idul Fitri , kok di bilang hari raya. "raya " itu asal kata istilah 'perayaan'. perayaan itu berkonotasi dengan pesta pora. jadinya Idul Fitri itu merupakan kesempatan huru hara , beli segala sesuatu , makan segala sesuatu , dan bersenang senang . ya memang tidak di larang sih . tapi mbok ya jangan keterlaluan membelakangi makna Idul Fitri aslinya.. "
"apa orang banyak ini kamu suruh sahud seperti pilihan hidup mu ? ' kan orang bebas menentukan dirinya sendiri. "
"ya memang ndak apa apa , kok . di zaman ini susaah mencari kesenangan. apalagi yang mbambung mbambung seperti kita. jadi Idul Fitri ini di gunakan betul sebagai kesempatan mewah untuk bergembira ria. ndak apa apa kok . bebas memilih. karena itu , saya juga bebas memilih cara saya sendiri dalam memperlakukan Idul Fitri . saya nglungsungi dalam rumah. mungkin tidak seratus persen sukses, tapi rasanya kulit kehidupan saya sekarang lumayan baru. sebenarnya , proses nglungsungi itu ya puasa selama puasa bulan Ramadhan . puasa itu metode untuk memfitrikan diri . Tiba hari ngeleng saya itu adalah puncak dari rasa sakit nglungsungi. pada saat itu , kulit baru saya masih sangat sensitif , jadi saya belum berani menyentuhnya dengan segala sesuatu di luar rumah. nanti ndak gampang terluka... "
itu termasuk jawaban yang agak serius dan khusus yang di kemukakannya kepada tertentu belaka. pada umumnya , kalau para tetangga bertanya kenapa mengunci diri di rumah selama tiga hari Idul Fitri , markesot menjawab, "saya sedang lembur menggarap statistik !"
"lho..?"
"iya. statistik dosa dan pahala saya , baik dan buruk saya, benar dan salah saya.... []
bersambung
memang semenjak di tinggal ayahanda tercintanya serta teman yg di sayanginya praktis markesot selalu menyendiri jadi markesot menikmati kesendirian dan kesunyian hidupnya tanpa ada yang mengganggu . hidup ini memang sendiri , di perut ibu sendiri , dalam kuburan yang sendiri ,nanti menanggu pahala dan dosa juga sendiri. dalam kenyataan hidup sehari hari , kelihatannya saja orang berkumpul dan berteman atau berkeluarga, tapi senantiasa setiap orang bertempat tinggal di dalam dirinya sendiri , punya "kesibukan hati " yang sendiri dan diam diam - sehingga orang lain tak ada yang tahu , sehingga pepatah mengatakan " dalamnya laut bisa di duga , hati orang siapa tahu "
hidup ini sendiri. amat sendiri. kalau kita berjalan ke suatu tempat , orang berkata . "O.. , di mau ke pasar , "O..., dia mau makan " atau "O.. dia lapar kelihatannya. " semuanyabenar , sebab kita memang lapar dan berjalan mau makan di pasar. tapi , semuanya juga salah , karena yang kita lakukan sesungguhnya jauh lebih dalam sekedar makan. kita jadi "sendiri" , karena orang lain tidak benar benar tahu siapa kita dan apa yang sesungguhnya kita lakukan. kita ini "sendiri " , karena anggapan kita tentang diri sendiri dan apa yang kita lakukan sering berbeda jauh dengan apa yang dianggap oleh orang lain.
hidup ini sendiri . hanya berdua dengan ALLAH . tapi kelak jika tauhid sudah tercapai , tak lagi "berdua" , sebab tauhid itu artinya penyatuan. Hasil dari penyatuan ialah satu.
Markesot menutup pintu rumahnya rapat rapat , entah ia bersembahyang sholat 'Id dimana , tapi pasti bukan seperti para wali atau kiai tertentu yang kalau shalat Jumat langsung di Masjidil Haram di Makkah.
selesai hari kedua syawwal , baru pintu di buka. keluarrumah mengunjungi tetangga tetangga dan handai tolan. bermaaf maafan , bikin skor kosong - kosong .
markesot terlihat agak pendiam. berusaha selalu tersenyum tapi masih kaku dan kidung. kalau omong , agak sedikit lebih serius dibandingkan kebiasaannya.
baju nya tetap itu itu juga , dan seorang teman menggodannya: " kok, tidak pakai baju baru ? " kan menurut Rasulullah , itu sunah hukumnya " ?
jawaban markesot serius sehingga nampak lucu : " jawabannya ada dua . pertama , bajuku tidak baru , tapi caraku memandang , menilai , dan memperlakukan baju ini insya Allah baru. dengan demikian , baju lama ini menjadi baru , kan ? karena hidup ini bukan bergantung apa bedanya , melainkan bagaimana kamu memandang . dua orang menggenggam tanah liat , yang satu bikin keramik dengantanah liat itu , lainnya memakai tanah liat itu untuk menyumpal mulut. itu karena dua pandangan yang berbeda atas benda yang sama. jadi , baju saya ini baru , sebab bagi mata pandang saya yang baru. baju ini bukan baju yang kemarin. baju ini lahir kembali , alias ber- Idul Fitri. demikian juga saya harapkan segala sesuatu yang lain. itu jawaban saya yang pertama. jawaban kedua : baju saya tetap baju yang kemarin kemarin sebab kamu tidak pernah punya inisiatif untuk membelikan saya baju..." ^_^
temannya tertawa... " lha , dari mana duitnya ? sini kasih saya duit nanti sya belikan baju dua lembar , satu untuk saya satu lagi untuk kamu.. hehehe jawab temannya.
teman teman lain juga selalu bertanya selama tiga hari ini selama lebaran ngapain aja markesot ? kok ngeleng di dalam rumah saja.
jawabannya macam macam , tergantung sedang di wilayah teman mana mood dan konsentrasinya. " saya nglungsungi , " katanya.
"kamu ini ulo , tho ?"
"ya. saya nglungsungi , sakit sekali rasanya."
"lho , Idul Fitri ' kan hari kemenangan , kok malah sakit ?"
"lha iya . kemenangan itu sakit. semakin besar dan tinggi tingkat kemenangan , semakin sakit prosesnya."
"kecuali menang pasang taruhan."
"kalau triple pain. sakit berganda ganda. sudah kehabisan duit , nomernya blong , harus menanggung akibat sampingan lagi dengan keluarga. itu kekalahan total dan komplit."
"terus apa maksud kamu nglungsungi ?"
"mencoba memfitrikan diri. mencoba menjadi wajar kembali , menjadi alamiah kembali. mewajarkan keinginan, mewajarkan kebutuhan, mewajarkan konsumsi, sikap hidup, dan apa saja . soalnya kita ini aneh . wong Idul Fitri , kok di bilang hari raya. "raya " itu asal kata istilah 'perayaan'. perayaan itu berkonotasi dengan pesta pora. jadinya Idul Fitri itu merupakan kesempatan huru hara , beli segala sesuatu , makan segala sesuatu , dan bersenang senang . ya memang tidak di larang sih . tapi mbok ya jangan keterlaluan membelakangi makna Idul Fitri aslinya.. "
"apa orang banyak ini kamu suruh sahud seperti pilihan hidup mu ? ' kan orang bebas menentukan dirinya sendiri. "
"ya memang ndak apa apa , kok . di zaman ini susaah mencari kesenangan. apalagi yang mbambung mbambung seperti kita. jadi Idul Fitri ini di gunakan betul sebagai kesempatan mewah untuk bergembira ria. ndak apa apa kok . bebas memilih. karena itu , saya juga bebas memilih cara saya sendiri dalam memperlakukan Idul Fitri . saya nglungsungi dalam rumah. mungkin tidak seratus persen sukses, tapi rasanya kulit kehidupan saya sekarang lumayan baru. sebenarnya , proses nglungsungi itu ya puasa selama puasa bulan Ramadhan . puasa itu metode untuk memfitrikan diri . Tiba hari ngeleng saya itu adalah puncak dari rasa sakit nglungsungi. pada saat itu , kulit baru saya masih sangat sensitif , jadi saya belum berani menyentuhnya dengan segala sesuatu di luar rumah. nanti ndak gampang terluka... "
itu termasuk jawaban yang agak serius dan khusus yang di kemukakannya kepada tertentu belaka. pada umumnya , kalau para tetangga bertanya kenapa mengunci diri di rumah selama tiga hari Idul Fitri , markesot menjawab, "saya sedang lembur menggarap statistik !"
"lho..?"
"iya. statistik dosa dan pahala saya , baik dan buruk saya, benar dan salah saya.... []
bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar