Minggu, 04 Agustus 2013

Maiyah

MAIYAH itu bukan pentas, bukan ditonton. Maiyah itu melingkar..titik pusatnya Allah!!!
Sebab kalau budaya tontonan diterusin, ini yang menjadi sumber kerusakan bangsa Indonesia. Nanti
yang ditonton akting. Akting itu memperagakan sesuatu. dia jadi peragawan. Yang jadi peragawan
bukan cuma peragawan pakaian, tapi juga peragawan intelektual yg memperagakan ilmu, bukan berarti dia setia pada ilmu itu.
Diamemperagakan demokrasi, bukan berarti terjamin dia setia pada demokrasi. Seseorang dapat saja memperagakan firman-firman Tuhan, tetapi dia tidak terjamin bertanggung jawab terhadap firman-
firman Tuhan.

Maiyah adalah sebuah Metode, suatu metode
melingkar, dimana semua orang bersama-sama
menekuni sesuatu hal, bukan satu nonton dan satu diTonton.

Maiyah itu berasal dari kata ma'a, ma'a bareng.
Maiyahtullah itu bersama Allah. kebersamaan itu kalo dalam pengertian negara ya nasionalisme.
Kamu boleh orang Jawa, Batak, papua, madura, dan seterusnya, kamu boleh orang PKB, PPP,
PKS, PAN, PDI, tapi kamu sekalian bersama-sama
mensejahterakan masyarakat. itu namanya MAIYAH .

Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
Karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah Kehidupan

Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara di luar sana
Sewaktu-waktu berjaga dan pergi membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati Penggembara
Dalam kamar berkisah, taruhan jernih memberi arti Kehadirannya

Membukakan diri, bergumul dan menyeri hari- hari Tergesa berlalu
Meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran Waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi Dan rindu menyanyi
Dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian Melipur damai

Begitu berarti kertas-kertas dibawah bantal,
Penanggalan penuh coretan
Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam Manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
Di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa

Kadang seperti terpencil, tapi bergairah bersahaja
Harapan dan impian yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Karya : umbu landu paranggi

Menghilang Dalam Sunyi

Resah datang tak bisa kupungkiri
Lelah kian menghampiri hati
Pun raga letih menanti
Di ruang yang sepi

Tak tahu kemana lagi asa terpatri
Langkahku pun semakin gontai
Gelap kini datang menghantui
Di ruang yang diliputi lumut dan duri
Dimana aku hanya terdiam sendiri
Merintih pedih menyanyi sunyi

Menghilang sejenak dari hiruk pikuk ramai
Mencoba mencari cahaya dan damai
Di belantara hikmah dan lantunan ayat suci
Tenangnya jiwa menjadi incaranku kini

Menghilang sejenak intropeksi diri
Menapaki dosa yang pernah kujejaki
Bukan untuk kembali dalam satu kondisi
Tapi untuk belajar agar tak terulang lagi

Menghilang sejenak dalam sunyi
Sengaja menikmati diri yang teraleniasi
Singkirkan riuh suara dan abai segala bunyi
Muhasabah diri dari segala laku yang merugi

Dalam sunyi menghimpun energi
Dalam sunyi susun segala strategi
Semoga pagi cerah kan datang menaungi
Semoga mendapat Ridho Illahi Rabbi

ﺣﺴﺒﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻧﻌﻢ ﺍﻟﻮﻛﻴﻞ ﻧﻌﻢ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻭﻧﻌﻢ
ﺍﻟﻨﺼﻴﺮ
" Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil, Ni’mal
Maula Wa Ni’man Nashir "