Senin, 19 Agustus 2013

Markesot Nglungsungi

Aneh cara markesot memperlakukan hari idul fitri. sejak sehari sebelum idul fitri, pintu kamar rumahnya di tutup rapat rapat dan ia ngendon di dalam , entah apa yang di lakukannya .

memang semenjak di tinggal ayahanda tercintanya serta teman yg di sayanginya praktis markesot selalu menyendiri jadi markesot menikmati kesendirian dan kesunyian hidupnya tanpa ada yang mengganggu . hidup ini memang sendiri , di perut ibu sendiri , dalam kuburan yang sendiri ,nanti menanggu pahala dan dosa juga sendiri. dalam kenyataan hidup sehari hari , kelihatannya saja orang berkumpul dan berteman atau berkeluarga, tapi senantiasa setiap orang bertempat tinggal di dalam dirinya sendiri , punya "kesibukan hati " yang sendiri dan diam diam - sehingga orang lain tak ada yang tahu , sehingga pepatah mengatakan " dalamnya laut bisa di duga , hati orang siapa tahu "

 hidup ini sendiri. amat sendiri. kalau kita berjalan ke suatu tempat , orang berkata . "O.. , di mau ke pasar , "O..., dia mau makan " atau "O.. dia lapar kelihatannya. " semuanyabenar , sebab kita memang lapar dan berjalan mau makan di pasar. tapi , semuanya juga salah , karena yang kita lakukan sesungguhnya jauh lebih dalam sekedar makan. kita jadi "sendiri" , karena orang lain tidak benar benar tahu siapa kita dan apa yang sesungguhnya kita lakukan. kita ini "sendiri " , karena anggapan kita tentang diri sendiri dan apa yang kita lakukan sering berbeda jauh dengan apa yang dianggap oleh orang lain.

hidup ini sendiri . hanya berdua dengan ALLAH . tapi kelak jika tauhid sudah tercapai , tak lagi "berdua" , sebab tauhid itu artinya penyatuan. Hasil dari penyatuan ialah satu.

Markesot menutup pintu rumahnya rapat rapat , entah ia bersembahyang sholat  'Id dimana , tapi pasti bukan seperti para wali atau kiai tertentu yang kalau shalat Jumat langsung di Masjidil Haram di Makkah.

selesai hari kedua syawwal , baru pintu di buka. keluarrumah mengunjungi tetangga tetangga dan handai tolan. bermaaf maafan , bikin skor kosong - kosong .

markesot terlihat agak pendiam. berusaha selalu tersenyum tapi masih kaku dan kidung. kalau omong , agak sedikit lebih serius dibandingkan kebiasaannya.

baju nya tetap itu itu juga , dan seorang teman menggodannya: " kok, tidak pakai baju baru ? " kan menurut Rasulullah , itu sunah hukumnya " ?

jawaban markesot serius sehingga nampak lucu : " jawabannya ada dua . pertama , bajuku tidak baru , tapi caraku memandang , menilai , dan memperlakukan baju ini insya Allah baru. dengan demikian , baju lama ini menjadi baru , kan ? karena hidup ini bukan bergantung apa bedanya , melainkan bagaimana kamu memandang . dua orang menggenggam tanah liat , yang satu bikin keramik dengantanah liat itu , lainnya memakai tanah liat itu untuk menyumpal mulut. itu karena dua pandangan yang berbeda atas benda yang sama. jadi , baju saya ini baru , sebab bagi mata pandang saya yang baru. baju ini bukan baju yang kemarin. baju ini lahir kembali , alias ber- Idul Fitri. demikian juga saya harapkan segala sesuatu yang lain. itu jawaban saya yang pertama. jawaban kedua : baju saya tetap baju yang kemarin kemarin sebab kamu tidak pernah punya inisiatif untuk membelikan saya baju..." ^_^

temannya tertawa... " lha , dari mana duitnya ? sini kasih saya duit nanti sya belikan baju dua lembar , satu untuk saya satu lagi untuk kamu.. hehehe jawab temannya.

teman  teman lain juga selalu bertanya selama tiga hari ini selama lebaran  ngapain aja markesot ? kok ngeleng di dalam rumah saja.

jawabannya macam macam , tergantung sedang di wilayah teman mana mood dan konsentrasinya. " saya nglungsungi , " katanya.
"kamu ini ulo , tho ?"
"ya. saya nglungsungi , sakit sekali rasanya."
"lho , Idul Fitri ' kan hari kemenangan , kok malah sakit ?"
"lha iya . kemenangan itu sakit. semakin besar dan tinggi tingkat kemenangan , semakin sakit prosesnya."
"kecuali menang pasang taruhan."
"kalau triple pain. sakit berganda ganda. sudah kehabisan duit , nomernya blong , harus menanggung akibat sampingan lagi dengan keluarga. itu kekalahan total dan komplit."
"terus apa maksud kamu nglungsungi ?"
"mencoba memfitrikan diri. mencoba menjadi wajar kembali , menjadi alamiah kembali. mewajarkan keinginan, mewajarkan kebutuhan, mewajarkan konsumsi, sikap hidup, dan apa saja . soalnya kita ini aneh . wong Idul Fitri , kok di bilang hari raya. "raya " itu asal kata istilah 'perayaan'. perayaan itu berkonotasi dengan pesta pora. jadinya Idul Fitri itu merupakan kesempatan huru hara , beli segala sesuatu , makan segala sesuatu , dan bersenang senang . ya memang tidak di larang sih . tapi mbok ya jangan keterlaluan membelakangi makna Idul Fitri aslinya.. "

"apa orang banyak ini kamu suruh sahud seperti pilihan hidup mu ? ' kan orang bebas menentukan dirinya sendiri. "
"ya memang ndak apa apa , kok . di zaman ini susaah mencari kesenangan. apalagi yang mbambung mbambung seperti kita. jadi Idul Fitri ini di gunakan betul sebagai kesempatan mewah untuk bergembira ria. ndak apa apa kok . bebas memilih. karena itu , saya juga bebas memilih cara saya sendiri dalam memperlakukan Idul Fitri . saya nglungsungi dalam rumah. mungkin tidak seratus persen sukses, tapi rasanya kulit kehidupan saya sekarang lumayan baru. sebenarnya , proses  nglungsungi itu ya puasa selama puasa bulan Ramadhan . puasa itu metode untuk memfitrikan diri . Tiba hari ngeleng saya itu adalah puncak dari rasa sakit nglungsungi. pada saat itu , kulit baru saya masih sangat sensitif , jadi saya belum berani menyentuhnya dengan segala sesuatu di luar rumah. nanti ndak gampang terluka... "

itu termasuk jawaban yang agak serius dan khusus yang di kemukakannya kepada tertentu belaka. pada umumnya , kalau para tetangga bertanya kenapa mengunci diri di rumah selama tiga hari Idul Fitri , markesot menjawab, "saya sedang lembur menggarap statistik !"
"lho..?"
"iya. statistik dosa dan pahala saya , baik dan buruk saya, benar dan salah saya.... []

bersambung

REPORTASE KENDURI CINTA AGUSTUS 2013 "JOKO WINGIT"

tema Jokowingit ini tidak ada kaitannya dengan siapapun. Kita harus memahaminya sebagai fenomena sejarah sepanjang masa di segala bangsa. Setiap bangsa, dari zaman Namrud, pemerintahan di masa Nabi Hud, pemerintahan Fir’aun, sampai sekarang, pernah mengalami kesedihan-kesedihan, ketidakadilan, dan kecurangan-kecurangan. Jika hal itu terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang, mereka tidak menemukan cara untuk mengatasi dan melawan kecurangan-kecurangan itu sehingga mereka melarikan diri kepada harapan-harapan akan datangnya pertolongan dari Langit. Ini disupport juga oleh wacana-wacana agama tertentu. Maka jawaban rakyat menghadapi krisis-krisis itu sederhana saja : memohon kepada Allah agar Dia menurunkan ksatria dari Langit untuk mengatasi keadaan karena rakyat sudah tidak mampu mengatasinya.

Maka muncullah wacana messianism, Ratu Adil, Imam Mahdi, dan ini ada di seluruh dunia. Setiap masyarakat memiliki sebutan-sebutan sendiri untuk itu, tapi ide dasarnya sama. Kalau di Jawa, ksatria dari Langit itu bernama Satrio Piningit. Kata ‘piningit’ ini berasal dari kata ‘pingit’ yang mendapat sisipan ‘-in’, sehingga artinya menjadi ‘dipingit’. Pola bahasa seperti ini serupa dengan yang terdapat dalam Bahasa Tagalog.

Jokowingit menyimpan satu fenomena lain karena kata ‘wingit’ adalah sesuatu yang substansinya tidak terletak pada yang tampak atau lahiriahnya, melainkan pada sir-nya. Dimensi di balik yang tampak inilah yang dinamakan wingit.

Wingit adalah suasana senja hari ketika awan mulai gelap dan angin berdesir aneh. Wingit juga ketika kita tertekan oleh rasa kangen kepada ibu di kampung sehingga seolah-olah udara kamar juga ikut mengekspresikan kerinduan itu. wingit bisa berlaku pada benda, orang, keadaan, dan pada apa saja. Kalau ada Joko Wingit, berarti ada seseorang atau gejala dalam masyarakat yang harus kita pahami agak panjang karena ada fenomena-fenomena yang tidak bisa didekati dengan teori-teori yang biasanya berlaku.

Bicara Joko Wingit, Satrio Piningit, Imam Mahdi, Mesiah, itu skalanya bukan lagi provinsi atau nasional, tapi dunia. Dajjal datang dari bukit di antara Mekkah dan Madinah, menerjang seluruh negeri. Barangsiapa tidak mematuhinya, akan kering kerontang pepohonan dan tanah yang ditinggalinya sehingga mereka akan mati. Barangsiapa mematuhi Dajjal, untuk mereka kesuburan.

Hanya kota Mekkah dan Madinah yang Dajjal tidak berani memasukinya. Semua orang panik mendengar informasi ini, khususnya mereka yang hidup di luar tanah Mekkah-Madinah. Tapi jamaah Maiyah ini tidak jadi masalah, karena Mekkah dan Madinah ada di dalam diri kita.

Aura peracunan (toksifikasi) dari Dajjal ini sudah berlangsung sedemikian rupa sehingga jadilah negara Republik Indonesia. Negara ini mengatur satu cara berpikir seperti yang Dajjal kehendaki, yakni menganggap surga sebagai neraka dan sebagainya.

“Saya ingin memberikan Tsalatsa wa Tsalatsa. Ini judul pidato penyesalan Abu Bakar Ash-Shidiq terhadap perlakuannya kepada Sayyidina Ali. Saya tidak akan membahas secara detail, tapi ini sudah saya cicil di Pati, Jombang, Jogja, dan Surabaya. Tiga gelombang dan tiga gelombang. Kalau sekarang Anda merasakan ada kerusakan, pertanyaannya adalah : seberapa rusaknya, sejak kapan dia rusak.”

“Apakah berdirinya NKRI ini merupakan bagian dari yang dirusak, atau bagian dari perusakan? Ini harus kita cari karena NKRI lahir tidak dari dirinya sendiri. Idenya saja bukan ide Indonesia. Ide negara datang dari Yunani Kuno, trias politica. Dan parameter yang kita gunakan untuk menilai Jokowi dan juga untuk menilai apa saja di bidang politik, ekonomi, kebudayaan, bahkan cara beragama, adalah filosofi Yunani. Maka sehebat-hebat lenong atau ketoprak, tetap tidak akan dianggap sebagai teater karena ukuran teater adalah teater versi Yunani.”

“Padahal di dunia ini ada tiga sesepuh, yakni Nusantara Tua, Mesir Tua, dan Yunani Tua. Saya pribadi sejak kecil menggabungkan ketiganya. Saya punya kesadaran Yunani, maka saya belajar intelektualitas yang sedang dipelajari doktor-doktor – dan saya berani bertanding dengan mereka semua. Tapi saya juga sekaligus mendialektikakannya dengan kesadaran-kesadaran Mesir Tua yang kemudian memusat di Timur Tengah, yang berinti di Arab. Dan saya juga mengakomodasi seluruh yang kita miliki, yakni Nusantara Tua – yang meliputi Sunda, Jawa, Melayu, Tagalog, dan area lain yang di dalamnya terdapat peradaban paling tua yang berbeda dari peradaban Yunani dan Mesir.”

Jadi kalau ngomong jati diri, kita tidak lantas anti-Yunani dan anti-Mesir. Kalau kata orang Merapi, ‘Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat’. Sekarang ini yang terjadi adalah : orang Betawi, Jawa, atau Bugis tidak punya kemungkinan untuk maju ke manapun. Untuk bisa maju, orang Betawi harus menjadi orang Indonesia. Sampai  kapanpun lenong itu kemarin dan tidak mungkin menjadi masa depan karena sudah kita bunuh sendiri kearifan lokal kita.

Kita harus menjadi orang Indonesia, sementara Indonesia itu siapa? Indonesia sekarang ini Yunani, baik sistem politik maupun pendidikannya. Begitu sekolah, kita menjadi orang Yunani. Begitu umroh, kita menjadi orang Arab. Kita tidak pernah menjadi orang Jawa, orang Bugis, orang Betawi.

Terserah kerusakan-kerusakan itu datang dari Yunani, Mesir, atau Jawa. Tapi begitu kerusakan itu tidak mampu diatasi oleh masyarakat, secara sadar maupun tidak sadar mereka memunculkan wacana Imam Mahdi, Joko Wingit, dan seterusnya. Kalau dalam wacana Islam, Dajjal ditandingi oleh Imam Mahdi. Mereka seimbang kekuatannya. Sampai kemudian datanglah Isa Al-Masih untuk membereskan Dajjal. Tapi setelah itu terjadi bencana dalam skala yang lebih besar, skala jagad raya.

“Tolong setiap kali Anda melihat apa-apa, Anda lihat dong perspektif sejarahnya. Anda jangan hidup sehari dua hari, sepenggal dua penggal. Anda pikir Islam itu apa?”

Dari Nabi Adam sampai sekarang ini baru 7000 tahun lamanya, sementara fosil manusia purba di Mojokerto atau Sragen umurnya sudah jutaan tahun. Air zamzam masih akan memancar 2,5 miliar tahun lagi. jarak antara Big Bang dengan terbentuknya planet-planet itu juga miliaran tahun. Ketika Bumi mulai teduh, dikasih air, tumbuhan, binatang, evolusi bermacam-macam, itu jaraknya sangat jauh. Dan idola kita yang namanya Muhammad itu bukan hanya yang hidup selama 63 tahun di Mekkah dan Madinah. Muhammad bin Abdullah adalah casting Nur Muhammad pada ruang waktu itu. Nur Muhammad sudah hidup sejak sebelum ada Big Bang. Karena Allah sangat mencintai ciptaan-Nya ini, maka Dia ciptakan alam semesta.

Bencana jagad raya, yang terkenal disebut sebagai ya’juj dan ma’juj itu, tidak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits siapakah yang diutus membereskannya. Pada puncak kehidupan alam semesta nanti akan ada solusi besar yang dilakukan oleh saudara tertua kita, yaitu Muhammad, Satrio Piningit yang sebenarnya.

“Maka jangan sedih dan jangan takut, ini semua hanya drama, skenarionya Allah. Yang penting Anda manja dan cinta bener sama Allah. Kecuali yang dicontohkan Al-Qur’an dan hadits, Anda tidak perlu menghafalkan doa. Berdoalah secara orisinal.”

Ada cerita mengenai waliyullah di Pambusuang, Sulawesi Selatan. Beliau ini orang alim, pendiam, tidak punya pamrih keduniaan, dan mentidakkan materialisme. Karena itu, diangkatlah ia menjadi ulama sesepuh oleh Raja Mandar. Tapi agar Raja tidak diktator memilih secara langsung, diselenggarakanlah sayembara. Warga dikumpulkan untuk menyaksikan tiga calon sesepuh menebak isi dari sebuah kotak yang ditutupi kain Mandar yang telah dipersiapkan Raja.

Calon pertama menebak isinya kain Mandar. Raja tersenyum karena bukan benda itu yang tadi ditaruhnya di kotak. Calon kedua menebak badik. Raja agak kaget karena memang badik isinya. Calon ketiga, waliyullah tadi, tahu bahwa isinya badik, tapi karena sudah terlanjur ditebak calon kedua maka dia berdoa dalam hati, “Ya Allah, jangan permalukan aku. Kalau memang Kau mencintaiku, kalau memang Kau ijinkan untuk memenuhi apa yang diidamkan rakyat Mandar, jangan permalukan aku dong. Dia sudah terlanjur menebak badik, jadi tolong dong turutin apa yang saya omongkan nanti”. Waliyullah itu menebak, “Kosong!” dan benar saja, ketika kain disingkap, tak ada apa-apa di dalam kotak.

“Bukan berarti lalu Allah seperti yang kita omongkan, tapi bagaimana kita bisa membicarakan-Nya kalau tidak dalam bahasa budaya kita? Sementara Allah sendiri berfirman menggunakan bahasa kita.”

Allah menyesuaikan diri dengan kita. Qul audzu birabbinnaas. Allah sangat sayang kepada manusia, maka dia Rabbun, maka dia memangku dan memeluk manusia.

Malikinnaas. Aku bisa mengasuhmu karena Aku ini Raja Diraja kamu. Illahinnaas. Tapi kamu jangan lupa, Aku bukan hanya Raja. Aku ini nggak ada kamu nggak masalah. Tidak masalah kalau Aku bunuh kalian semua lalu Kuganti dengan yang baru.

Illah merupakan lambang gagah perkasanya Allah sebagai individu. Maka yang disebut ngaji itu bukan menghafalkan lagu, melainkan mengekspresikan pemahaman kita terhadap kalimat-kalimat Allah. harus kita pahami urutannya.

Messianism dalam wacana Jawa – yang pasti juga dimiliki oleh Sunda dan sebagainya – bisa kita ambil dari Jayabaya dan Ranggawarsita. Jayabaya adalah seorang Muslim Syi’ah yang memiliki tiga guru dari Persi, Turki, dan Roma. Ketiganya syekh. Guru yang berasal dari Persi banyak mengajarkan spiritualitas sehingga mereka banyak berdiskusi. Jayabaya lalu menuliskan hasil diskusi itu dalam Ramalan Jayabaya.

Sekian abad kemudian ada Ranggawarsita yang mengungkapkan hal serupa dalam bahasa yang lebih dekat dengan kita. Yang disebut sebagai Satrio Piningit itu rumusnya satrio pinandhita sinisihan wahyu.

Satrio. Satrio Piningit harus seorang ksatria : pandai, berani bertanding, jujur, sportif, berempati kepada siapapun yang dilawannya – seperti Sultan Salahuddin yang menyembuhkan jenderal pimpinan Perang Salib.

Pinandhita. Dia dipendetakan oleh kehidupan, bukan memendetakan dirinya, bukan meng-ustadz-kan dirinya.

“Kalau ada acara, kemudian saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. Tapi mungkin ada yang berbahaya, yaitu semua orang akan berkesimpulan bahwa yang berpenampilan seperti saya pasti lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa pasti saya lebih alim. Kalau itu tidak benar, kan penipuan namanya. Kalaupun memang benar, misalnya, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain melalui pakaian? Tidak boleh kan? Maka saya semampu-mampu saya berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi penipuan saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-SBY-kan saya, menghabibkan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya.”

Pandhita adalah orang yang sudah tidak kesengsem sama uang, tidak ada transaksi tidak eman, tidak dapat gaji tidak eman. Dunia sudah kecil baginya. Ada makanan atau tidak, senang atau sedih, miskin atau kaya, tidak ada bedanya karena semuanya membuat pandhita semakin kuat dari sebelumnya.

Kemiskinan harus kita gunakan untuk memperkuat diri kita, kekayaan juga harus memperkuat. Ada masalah atau tidak ada masalah, puasa atau berbuka, semuanya memperkuat kita. Firasat-firasat buruk memang ada, tapi kita harus mampu mengubahnya menjadi kebaikan.

Pandhita tidak mungkin korupsi. Dia yang mengikat uang, bukan sebaliknya. Di tangannya uang menjadi berkah untuk sesama. Di dalam diri pandhita tidak ada dirinya; yang ada hanya Allah dan rakyatnya. Tidak ada dunia, uang, materialisme. Dia tidak akan menyakiti Tuhan karena rakyatnya akan sengsara, dan dia tidak akan menyakiti rakyat karena Tuhannya akan marah. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang punya mekanisme kejiwaan manunggaling kawula-Gusti.

Sinisihan wahyu. Wahyu di sini merupakan idiom Jawa, bukan idiom Islam. Pemimpn harus terus-menerus berada dalam bimbingan Allah dalam setiap langkah-langkahnya.

“Saya sangat senang kalau Jokowi benar-benar Satrio Piningit. Kita bikin KC ini kan untuk mancing supaya Allah menurunkan ksatria dari Langit, dan tadi sudah ada pernyataan bahwa Jokowi turun dari Langit. Dan di internet, di mana-mana, semakin banyak orang mempercayai hal itu. Kalau benar, siapa yang nggak senang? Kalau Satrio Piningit datang, yang beres bukan hanya Jakarta, tapi juga Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia. Oleh karena itu KC tidak perlu dilanjutkan. Sudah tidak perlu ada saya lagi. Mau rusak konstitusinya, terbalik-balik cara berpikirnya, sangat pendek jangkauan pandangnya, tidak masalah karena sudah ada Jokowi. Saya tinggal tidur saja. Kalau ada petambak bertarung, terusir, saya tinggal telpon Jokowi dan beres. Anda nggak perlu mikir lagi, nggak perlu datang Maiyahan lagi. Kita lihat, kalau bulan depan KC tidak ada, berarti Satrio Piningit sudah benar-benar datang.”

Cak Pudji memberikan tambahan dari perspektif yang berbeda. Dipercaya, orang pintar kalahnya sama orang bejo. Nah, orang Indonesia adalah orang bejo karena kita hidup di bumi yang sangat subur. Bejo ini letaknya di dalam rasa syukur kita. Yang mengalahkan orang bejo adalah orang licik. Orang licik melakukan penipuan dan pengelabuan dengan sangat halus melalui food, fashion, fear, dan fair. Makanan dan pakaian kita diatur untuk terlihat modern atau terlihat alim. Kita juga ditakut-takuti dengan menggunakan kata bid’ah, misalnya. Kita juga dipamer-pameri gemerlap demokrasi. Kalau hal ini berlangsung terus dalam waktu yang lama, ini menjadi faith, menjadi persepsi, kemudian memproduk perilaku. Seperti apa yang telah dikatakan Cak Nun tadi, kita dituntun untuk mempunyai persepsi diri sebagai bangsa inferior yang harus menjiplak Yunani. Ini membutuhkan perenungan lebih dalam, dan menjadi tugas kita untuk saling mengingatkan.

“Ada teori Dajjal menipu kita lewat food, fashion, dan sebagainya. saya ambil idiom roti dan tai. Orang Indonesia mestinya dapat roti, tapi kenyataannya dapat tai terus. Tapi karena memiliki teknologi internal, mereka bisa menelan tai sepahit apapun dengan tetap tertawa sebagaimana makan roti. Pada tahap pertama ini merupakan kehebatan. Pada tahap kedua, mereka mulai bingung bagaimana cara membedakan roti dengan tai karena toh rasanya sama-sama enak. Pada tahap ketiga lebih parah lagi, yaitu generasi sekarang, yang sudah tak punya wacana tentang tai karena koran dan politisi ngomongnya tentang roti melulu, jadi kalau suatu hari dikasih tahu bahwa itu tai, mereka marah-marah. Ini seperti yang tadi dibilang dari media massa.”

“Semoga kita punya kejernihan untuk melihat dan membedakan mana tai dan mana roti di bidang apapun. Kalau ada pemimpin baru, kita harus mampu mengidentifikasikannya sebagai roti atau tai. Harus ada kejernihan untuk menilai dengan sungguh-sungguh. Kita tidak akan mengklaim apapun, ini hanya forum untuk Anda benar-benar menelusuri pengetahuan dan menggunakan teknologi ilmu supaya akal dan nurani kita mengerti benar mana roti dan mana tai.

“Pak Tjuk saya kira akan memaparkan secara lebih dalam bahwa Joko Wingit merupakan sesuatu yang sebenarnya sudah kita tahu tapi belum kita lakukan sehingga dia tetap wingit, tetap piningit.

Seperti yang telah disampaikan di Relegi Malang (forum Maiyah Rebo Legian), Pak Tjuk berbagi pengetahuan mengenai yang sekarang menjadi trend di dunia kedokteran Barat yaitu metode menyerupai puasa. Tubuh kita terbangun dari 300 triliun sel yang bekerja bersama secara harmonis tanpa ada sel pemimpin. Yang memimpin adalah manusianya sendiri.

Ada perbedaan antara fasting dengan starvation. Dalam puasa, kita menyengajakan diri untuk tidak makan dan minum. Sementara starvation adalah ketidakberdayaan mengupayakan asupan makanan bagi tubuh.

Selama ini banyak orang yang tidak yakin terhadap puasa karena logika kita dibentuk untuk meyakini bahwa tubuh membutuhkan makanan. Kalau kita tidak makan, sel-sel tubuh akan rusak.

Kenyataannya tidak begitu. Seorang bekas petinggi Jakarta sempat berobat ke salah satu rumah sakit di Amerika Serikat karena menderita darah tinggi terus-menerus. Rumah sakit itu telah mengembangkan metode pengobatan dengan puasa, di mana pasien diharuskan menandatangani kontrak mati. Pasien sengaja dimatikan aktivitas sel-selnya selama 6 menit, kemudian dihidupkan kembali. Petinggi ini kemudian sehat kembali sampai sekarang.

Dalam puasa, sel-sel yang mati lebih dulu adalah sel-sel buruk atau yang mengandung penyakit. Kalau selama puasa kita masih marah-marah, berarti kebanyakan sahurnya. Semestinya cukup air putih saja. Nabi Daud menggunakan metode mematikan diri ini dengan cara sehari mati sehari hidup. Puasa ini serupa dengan metode reset pada komputer untuk memisahkan yang default dengan yang aksesoris.


“Saya mengartikan Satrio Piningit dengan puasa; ketika kita puasa, yang jelek-jelek mati, menyisakan yang baik-baik. Yang baik inilah yang dinamakan satrio pinandhita sinisihan wahyu. Karena prinsipnya setiap orang lahir memiliki perjanjian dengan Allah.”

Menanggapi uraian dari Pak Tjuk, Cak Nun mengajak jamaah mengingat kembali sejarah Muhammad sebagai direktur utama Khadijah Group Company yang kaya raya sampai Beliau berani melamar Khadijah. Tapi Muhammad justru memilih untuk miskin.

“Sabrang pernah mengatakan bahwa kalau Anda lapar, sel-sel Anda memperkuat dirinya. Tapi jangan sampai melewati batas sampai kelaparan. Secara sosial, ada perbedaan antara miskin dan fakir. Rasulullah memiilh miskin, tapi melarang kefakiran. Kemiskinan itu relatif baik, karena di situ orang berpuasa. Kekayaan cepat membuat kita lemah. Kalau dalam peristiwa sehari-hari, lapar itu baik; tapi kelaparan itu tidak boleh. Maka kalau sudah terasa kelaparan, segera ganjel sedikit saja, tidak usah makan sampai kenyang, yang penting terhindar dari kelaparan. Inilah kunci kesehatan.

“Sama seperti metode olahraga. Hidup adalah jatah detak jantung. Kalau kamu lari, maka jantungmu dipercepat. Olahraga itu harus lengkap. Anda boleh lari pagi sehari, tapi besoknya Anda diam, jangan bergerak, dan tahan napas sepanjang-panjangnya. Besok lari pagi, lusa kembali diam tidak bernapas selama mungkin. Lama-lama akan semakin panjang napas Anda.”

“Kalau sudah punya ilmu mbathang (mematikan diri), kamu tidak akan terpesona lagi sama dunia. Apa yang semua orang kejar-kejar tidak akan membuatmu terpesona. Sel-selmu akan kuat, hatimu kuat, kamu nggak akan nelangsa oleh apa saja. Maka pintar-pintarlah mematikan diri.


“Mereka pikir saya tidak olahraga. Memangnya Maiyahan tiap hari begini bukan olahraga? Dan yang bergerak bukan hanya badan saya. Yang bergerak adalah seluruh unsur di dalam diri saya. Itu olahraga luar biasa. Dan di dalam olahraga itu saya diam, karena gerak ada di dalam diam dan diam ada di dalam gerak. Tapa ngrame, namanya. Anda ingat ini, dan praktekkan masing-masing. Jangan peduli-peduli amat sama makan. Saya kalau pengen makan nasi sepiring, yang saya ambil seperempat piring. Saya harus mengambil seperempat dari keinginan saya. Seperempat piring itu lebih efektif daripada sepiring karena yang tiga perempat akan menjadi beban hidupmu. Yang seperempatlah yang akan menjadi kesehatanmu.

Syekh Nursamad Kamba memberikan kunci berupa kutipan, la ta’riful haqqa birrijali wa ta’riful haqqa ta’rif ahlahu. Jangan mengenal kebenaran melalui figur idola, tapi kenalilah kebenaran supaya kamu tahu siapa yang layak kamu idolakan.

Yang dimaksud ‘mengenal’ di sini adalah mengetahui detil dari berbagai segi seperti seorang ibu mengenali anaknya sendiri. Mengenal kebenaran itu harus dari A sampai Z.

Filosofi Maiyatullah berangkat dari dua fenomena krusial dalam sejarah Islam. Pertama, kisah Nabi Muhammad di Gua Tsur ketika dikejar-kejar dalam perjalanan hijrah. Beliau tiba-tiba mengatakan kepada sahabatnya, Abu Bakar, la tahzan innallaha ma’ana. Abu Bakar merasa heran karena tidak dirasakannya ketakutan. Kalaupun meninggal saat itu, justru itu lebih baik. Kesedihan di dalam relung hatinya muncul justru karena merasa kasihan kepada penduduk Mekkah yang mengejar  Nabi Muhammad. Kalau sampai mereka mencederai Nabi, mereka akan disiksa Allah. Maka, intisari dari maiyah adalah sebuah gerakan di mana orang-orang bisa berteduh di bawahnya untuk berlindung dan mendapat ketenangan jiwa.

Secara simbolis, gagasan Maiyah yang muncul pada saat hijrah merupakan satu gagasan tentang intilaqoh (tinggal landas). Di gua itu Allah menyapa Abu Bakar melalui Nabi Muhammad dengan mesra

Di samping itu, maiyah juga merupakan tema sentral dalam tradisi literatur sufisme. Segala teori dan gagasan sejak awal sampai akhir intinya maiyatullah, kebersamaan dengan Allah – yang bisa diekspresikan dengan fana, tauhid, atau manunggaling kawula-Gusti. Tauhid itu wahada yuwahidu. Wahada adalah mempersatukan sesuatu yang bercerai-berai, bukan menyatukan dua entitas yang berbeda.

Manusia itu sangat dihargai oleh Allah sampai-sampai Dia tiupkan ruh-Nya sendiri ke dalam diri manusia. Manusia diamanahi untuk membawa ruh Allah, maka kalau melihat wacana ksatria atau pemimpin, semua manusia memiliki kesaktian atau sifat-sifat yang sesungguhnya berasal dari Tuhan. Dan kalau kita melihat sejarah agama-agama, tidak ada satu agama pun yang tidak memiliki wacana mengenai pemimpin yang ditunggu atau Imam Mahdi yang akan datang membawa kesaktian untuk menegakkan keadilan.

Persepsi manusia terbentuk oleh narasi, maka persepsi manusia akan Allah pun juga tergantung pada narasi – apakah Allah itu personal atau impersonal. Persepsi kita akan kepemimpinan juga begitu. Kepemimpinan personal kita kaitkan dengan figur, sementara kepemimpinan impersonal kita kaitkan dengan sistem kepemimpinan dalam kebersamaan.

“Saya baru baca buku mengenai neuroscience. Intinya pikiran membentuk badan. Kalau mindsetmu sehat, badanmu juga sehat. Setiap ada informasi dan ilmu baru, jaringan sel-sel otak akan bertambah.

Kalau kita memahami bahwa Tuhan itu personal, kita cenderung membayangkan Tuhannya orang Islam saja. Kalau seandainya semut bisa berkata, dia juga akan menggambarkan Tuhan sebagai semut raksasa. Tapi kalau kita pahami Tuhan sebagai impersonal, kita temukan Dia yang Maha Kuasa dan menguasai segala sesuatu.

Maka pemimpin juga belum tentu orang tertentu, bisa jadi dia dalam wujud sistem yang adil. Bahkan Nabi Ibrahim pun belum tentu personal. Bisa jadi dia adalah kualitas konsistensi perjalanan menuju Allah.

“Memang Al-Qur’an tidak bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang murni tekstual dan skriptual karena dia adalah firman Allah, dan Allah sendiri tidak bisa dipersepsikan. Potong tangan untuk pencuri, misalnya, bisa dipahami sebagai pemotongan seluruh jaringan pencuri atau koruptor supaya benar-benar tuntas kasusnya.

Setengah jam terakhir, Cak Nun menyampaikan beberapa poin tambahan sekaligus penegasan, yaitu :

1. Karena tadi sudah diarahkan pada sosok Jokowi, yang perlu diingat adalah bahwa dia merupakan makhluk Allah dan kita semua punya kewajiban untuk mencintainya. Cara mencintai adalah dengan tidak membesar-besarkan melebihi kebesarannya, tidak membaik-baikkan melebihi kebaikannya, tidak membenar-benarkan melebihi kebenarannya, tidak mengkerdil-kerdilkan melebihi kekerdilannya. Kita harus memperlakukan Jokowi dengan husnudzan, dengan kejernihan dan kejujuran pikiran. Semua tetap menjadi misteri Allah dan kita berharap saja agat apa yang ditakdirkan Allah menjadi kebaikan untuk kita semua. Di Maiyah tidak ada kebencian kepada siapapun.

2. Apa yang kita sukai belum tentu benar, yang kita dukung belum tentu baik, yang kita junjung-junjung bisa jadi mencelakakan kita, yang kita butuhkan belum tentu benar-benar kita butuhkan, yang kita tidak sukai bisa saja mendatangkan manfaat. Ini harus  dicari sungguh-sungguh karena kalau tidak, kita akan tersesat dalam diri kita sendiri. Ini merupakan peringatan frontal dari Allah. Cara untuk menemukannya adalah dengan rumus yang telah disampaikan Syekh Nursamad Kamba tadi, jangan mengenali kebenaran melalui figur, tapi carilah kebenaran untuk bisa menemukan siapa yang layak dijadikan tokoh. Oleh karena itu sistem penanggalan Islam meletakkan dasar bukan pada kelahiran Muhammad melainkan pada peristiwa hijrah Beliau. Yang diutamakan adalah kualitas, bukan figur. Maka bisa saja memang, Nabi Ibrahim adalah kualitas

3. Kunci kesehatan adalah jangan pernah berpikir untuk tidak jujur. Begitu kita berpikir untuk tidak jujur, akan tercipta konslet-konslet dan disharmoni pada sel-sel tubuh kita dan ini akan menimbulkan penyakit.

4. Tidak apa-apa kalau kita hanya mampu makan tai, tapi kita harus tetap tahu bahwa itu tai. Tidak apa-apa tidak mampu melawan kedzaliman, tapi jangan lantas mengatakan bahwa itu bukan kedzaliman. Ilmu dan pengetahuan bahwa peristiwa itu merupakan pengetahuan harus tetap dipegang.

“Maka saya sering disebut sebagai pendendam karena saya tidak pernah tidak ingat apa yang dilakukan orang kepada saya. Tapi jangan harap saya akan membalas atau melakukan keburukan kepada orang itu. Yang saya lakukan adalah saya tidak boleh sedikitpun mengkhianati presisi pengetahuan saya bahwa saya didzalimi. Tapi tidak ada output bahwa saya akan balas mendzalimi dia. Kalau saya tidak jujur terhadap fakta sejarah ini, akan terjadi disorganisasi sel-sel syaraf saya.

“Sekitar tahun 2002 saya pernah CT Scan seluruh badan, dan hasilnya dari leher sampai dada hitam pekat. Sudah mati seluruh teroid dan onderdil saya di organ itu. Usia saya diperhitungkan secara medis tinggal 3,5 bulan. Berat badan saya turun lebih dari 20 kilogram, dan saya tremor. Istri saya bilang sepertinya ada yang nggak wajar. Dan itu saya tidak tergeletak. Saya tetap jalan ke mana-mana. Saya tidak pernah menganggap diri saya sakit.

“Sampel feses saya diambil oleh Pakdhe, sahabat saya, dan di-pack di dalam tabung film yang tebal dan rapat. Di tengah perjalanan, tabung itu meledak. Besok paginya dibawa ke Laboratorium Kimia UGM, dan baru terurai ketika dipanasi di suhu 1300 derajat Celcius. Kandungannya besi, uranium, dan zat-zat peledak lain. Ini yang menghancurkan teroid saya, menyebabkan makanan yang masuk ke kerongkongan tak bisa diolah dan tubuh saya memakan dirinya sendiri.

“Saya tahu siapa yang bikin, berapa biayanya, apa kepentingannya, tapi saya tidak dendam sedikitpun. Bahkan saya sayang kepada mereka lebih daripada sebelumnya. Kalau ada orang yang menyakitimu, jangan sampai orang itu tahu bahwa kamu tahu dia sedang menyakitimu. Kasihan dia.

“Lalu ketika periksa darah di Doktor Asdi, Beliau tak percaya bahwa itu darah saya karena darah itu darah yang ada pada orang lumpuh. Akhirnya saya berhenti berobat karena dokter tidak bisa mengobatinya. Tinggal Allah yang menghidupkan. Saya akhirnya menghidupkan sel-sel saya dengan cara diam. Saya masuk air, bersila, diam, dan supaya tidak bernafas saya masuk ke dalam air. Seminggu kemudian saya gemuk banget, sembuh total. Ini juga bisa terjadi pada Anda pada tingkat yang mungkin berbeda.

“Sehatkan dirimu dengan dirimu sendiri, jangan sedikit-sedikit ngebon (minum obat). Sehatlah dengan mekanismemu sendiri, dari iradhahmu sendiri, karena Anda punya hak takdir sebab Allah meniupkan ruh ke dalam dirimu.

5. Syekh Siti Jenar itu tidak ada. Dia merupakan simbol eksperimentasi simulasi bahwa ada yang harus jadi wingit dalam masyarakat, jangan diumum-umumkan kepada yang belum siap. Ini merupakan bagian dari kesadaran Sunan Kalijaga, satu-satunya wali yang mengerti bahwa dakwah Islam harus dielaborasi secara kultural dan strategi kejawaan karena Beliau mengurusi orang Jawa.

6. Jangan bersikap seperti penumpang kapal karam. Saking takutnya mati, apa saja diambil supaya tidak tenggelam, lantas memonumenkan dan mempahlawankan benda yang pada saat itu menyelamatkan kita. Terhadap Jokowi harus tetap obyektif dan memberi kesempatan. Bagaimanapun dia bermaksud baik. Bahwa di sekitarnya banyak setan-setan, itu sudah pasti karena setiap densitas positif harus diseimbangkan dengan densitas negatif.

7. Manusia dipelihara oleh Allah dengan kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan dan tantangan-tantangan supaya dia tetap waspada dan memperkuat sel-selnya.

8. Ciri agama adalah punya ibadah mahdloh yang penentuan waktu dan tata caranya langsung oleh Allah.

9. Nabi-nabi dan orang-orang besar tidak pernah menangis. Muhammad tidak pernah menangis di sholat tahajjudnya. Beliau menangisi. Menangis itu untuk diri sendiri, menangisi itu untuk orang banyak. Menangisi merupakan peristiwa sosial, sementara menangis merupakan peristiwa individu.

10. Cita-cita Maiyah sederhana saja : kita semua (tanpa ada hierarki) berproses untuk menjadi manusia yang seharusnya. Selama ini kita disuruh oleh sistem untuk tidak menjadi diri kita sendiri. Siapa saja disuruh menjadi orang yang sama, padahal Allah tidak pernah menciptakan satu sidik jaripun yang sama.

11. Puncak pengetahuan adalah ketidaktahuan, dan kita harus menghormati, menghargai, dan merasakan manfaat dari tidak tahu. Banyak hal yang kita sebaiknya tidak tahu. Mampu menjangkau dimensi di luar jangkauan kita saat ini akan sangat merepotkan. Maka, bukan hanya pengetahuan yang perlu disyukuri; ketidaktahuan juga merupakan rahmat sangat besar. Etos pendidikan Yunani yang mengatakan bahwa kita harus memperbanyak informasi terus-menerus, itu salah. Satu ayat dulu selesaikan, baru ke ayat berikutnya. Kita menguasai informasi bukan dengan cara menelan semua informasi, melainkan dengan cara menjadi sumber informasi. Kalau hanya bisa menampung dan mempercayai semua informasi yang disuguhkan, itu namanya menjadi narapidana informasi.

“Maka sekolahlah sampai kamu tahu bahwa kamu dibodohi, dan mereka gagal membodohkanmu.”

12. Yang kita lakukan selama ini adalah sekadar pasang sajen sama Allah. Siapa tahu dengan merombak diri sendiri menjadi yang seharusnya, Allah menyelamatkan Indonesia. Atau, bisa juga Allah memberikan porsi amanat kepada kita untuk terjun mengurusi Indonesia. Itu terserah Allah.

Tidak mungkin Allah tidak memberikan kenikmatan kepada kita. Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikmannasir; aksennya pada kenikmatan. Kita bukan hanya harus mampu melayani, tapi juga harus mampu menikmati pekerjaan melayani itu. kita harus mampu menikmati baik kekayaan maupun kemelaratan.

“Saya memohon kepada Allah agar seluruh thariqat Anda, khalwat Anda malam hari ini, benar-benar memperkuat sel-sel Anda, kehidupan Anda, seluruh kuda-kuda dari pekerjaan dan perjuangan Anda, serta menjadikan seluruh anak-istri dan keluarga Anda diberi kesehatan jasmani-rohani,” tambah Cak Nun.

Kemudian Syekh Nursamad Kamba memimpin doa untuk kebersamaan.

Minggu, 04 Agustus 2013

Maiyah

MAIYAH itu bukan pentas, bukan ditonton. Maiyah itu melingkar..titik pusatnya Allah!!!
Sebab kalau budaya tontonan diterusin, ini yang menjadi sumber kerusakan bangsa Indonesia. Nanti
yang ditonton akting. Akting itu memperagakan sesuatu. dia jadi peragawan. Yang jadi peragawan
bukan cuma peragawan pakaian, tapi juga peragawan intelektual yg memperagakan ilmu, bukan berarti dia setia pada ilmu itu.
Diamemperagakan demokrasi, bukan berarti terjamin dia setia pada demokrasi. Seseorang dapat saja memperagakan firman-firman Tuhan, tetapi dia tidak terjamin bertanggung jawab terhadap firman-
firman Tuhan.

Maiyah adalah sebuah Metode, suatu metode
melingkar, dimana semua orang bersama-sama
menekuni sesuatu hal, bukan satu nonton dan satu diTonton.

Maiyah itu berasal dari kata ma'a, ma'a bareng.
Maiyahtullah itu bersama Allah. kebersamaan itu kalo dalam pengertian negara ya nasionalisme.
Kamu boleh orang Jawa, Batak, papua, madura, dan seterusnya, kamu boleh orang PKB, PPP,
PKS, PAN, PDI, tapi kamu sekalian bersama-sama
mensejahterakan masyarakat. itu namanya MAIYAH .

Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan
Karena sajakpun sanggup merangkum duka gelisah Kehidupan

Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara di luar sana
Sewaktu-waktu berjaga dan pergi membawa langkah ke mana saja

Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati Penggembara
Dalam kamar berkisah, taruhan jernih memberi arti Kehadirannya

Membukakan diri, bergumul dan menyeri hari- hari Tergesa berlalu
Meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran Waktu

Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi Dan rindu menyanyi
Dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian Melipur damai

Begitu berarti kertas-kertas dibawah bantal,
Penanggalan penuh coretan
Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam Manja bujukan

Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
bahagia sederhana
Di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan dan jiwa

Kadang seperti terpencil, tapi bergairah bersahaja
Harapan dan impian yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi dan kedua tangan

Karya : umbu landu paranggi

Menghilang Dalam Sunyi

Resah datang tak bisa kupungkiri
Lelah kian menghampiri hati
Pun raga letih menanti
Di ruang yang sepi

Tak tahu kemana lagi asa terpatri
Langkahku pun semakin gontai
Gelap kini datang menghantui
Di ruang yang diliputi lumut dan duri
Dimana aku hanya terdiam sendiri
Merintih pedih menyanyi sunyi

Menghilang sejenak dari hiruk pikuk ramai
Mencoba mencari cahaya dan damai
Di belantara hikmah dan lantunan ayat suci
Tenangnya jiwa menjadi incaranku kini

Menghilang sejenak intropeksi diri
Menapaki dosa yang pernah kujejaki
Bukan untuk kembali dalam satu kondisi
Tapi untuk belajar agar tak terulang lagi

Menghilang sejenak dalam sunyi
Sengaja menikmati diri yang teraleniasi
Singkirkan riuh suara dan abai segala bunyi
Muhasabah diri dari segala laku yang merugi

Dalam sunyi menghimpun energi
Dalam sunyi susun segala strategi
Semoga pagi cerah kan datang menaungi
Semoga mendapat Ridho Illahi Rabbi

ﺣﺴﺒﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻧﻌﻢ ﺍﻟﻮﻛﻴﻞ ﻧﻌﻢ ﺍﻟﻤﻮﻟﻰ ﻭﻧﻌﻢ
ﺍﻟﻨﺼﻴﺮ
" Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil, Ni’mal
Maula Wa Ni’man Nashir "

Selasa, 23 Juli 2013

Reportase Maiyahan: “Cahaya Diatas Cahaya”


Bertempat di Rumah Adab Indonesia Mulia di kota Pati, Sabtu 20 Juli 2013, Maiyahan Suluk Maleman mengambil tema ‘Cahaya di Atas Cahaya’. Setelah dibuka dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan persembahan Lir Ilir dari Sampak Gus Uran, Habib Anis Sholeh Ba’asyin menyapa semua jamaah dengan menyatakan bahwa puasa merupakan titik awal untuk membersihkan diri dari segala yang haram. Puasa membangun peradaban cahaya.Turut hadir di atas panggung Pak EH Kartanegara dan Pak Toto Rahardjo.

Ada sebuah cerita, seorang ayah menyuruh anaknya mencari makhluk yang paling buruk. Jika berada di posisi si anak, Cak Nun menyatakan tidak akan berangkat. Ada tiga alasannya.


Pertama, hanya Allah yang mempunyai tingkat ketelitian yang memadai untuk menilai apakah seseorang itu baik atau buruk. Jangankan manusia, malaikat pun harus konfirmasi dulu kepada Allah. Nabi juga tidak diberi kemampuan sejauh ini. Nabi tak diberi pengetahuan mengenai jumlah sel, atom, proton, dan neutron. Sangat banyak hal yang sama sekali tidak kita ketahui. Setan saja, yang teknologi batinnya jauh di atas kita, tidak mengerti baik-buruk sampai ke tingkat kasunyatan.


Kedua, kemampuan manusia tidak terletak pada daya memastikan kenyataan yang dia serap atau dia miliki. Yang bisa dilakukan manusia adalah merasa dirinya jelek – dan ini merupakan semacam kewajiban moral. Maka semua Nabi menyebut diri mereka sebagai dzalim. Jawa punya ajaran untuk ini, yakni :bisoo rumongso, ojo rumongso biso.

Orang Jawa punya peradaban dan resolusi batin yang berpuluh abad lamanya yang membuat mereka memiliki makrifat-makrifat batiniah tertentu tanpa melalui ajaran-ajaran agama. Orang Jawa bisa membedakan ‘bener’ dengan ‘pener’, misalnya. Setiap kata dan peristiwa di Jawa diterjemahkan secara sangat detil.

Acara seperti malam ini pasti disebut sebagai pengajian, bukan pengkajian.Pengkajian merupakan pekerjaan di dalam majlis taklim berupa pengumpulan data, analisis, dan penyimpulan. Majlis taklim adalah simposium intelektual, di mana beberapa orang yang sejajar posisinya berkumpul untuk mencari kebenaran. Tapi sekarang yang berlaku justru kebalikannya.

Baik-buruk merupakan urusan orang yang berakal, yang mengalami perjanjian dengan Tuhan untuk menjadi orang baik dan dia diberi pengertian antara baik dan buruk.

Alasan ketiga, cerita itu terjadi antara ayah dan anak yang beragama Islam, maka mungkin terjadi pada abad ke-8, ke-9, atau ke-10. Dalam sejarah, manusia mengalami penurunan jangkauan usia dan ukuran badan. Nabi Adam umurnya 900 tahun, kemudian Nabi Nuh ditingkatkan lagi sampai 3000 tahun lebih.Pada masa Nabi Adam belum ada Qur’an, belum ada bahasa. Bahasa yang ada adalah bahawa yang diajarkan langsung oleh Allah.

Mengenai tema yang dibahasa pada malam ini, yakni cahaya, Cak Nun membacakan Surah An-Nur ayat 35, lalu memberikan pendekatan untuk memahami apa itu cahaya dan bagaimana sifat-sifatnya dalam tiga tingkatan. Matahari yang selama ini kita percaya sebagai sumber cahayapun sebenarnya tidak memancarkan cahaya. Matahari hanya memancarkan energi inti sedemikian rupa sehingga ketika dia menimpa benda-benda alam tertentu akan membuat mata kita menjadi kompatibel sehingga kita bisa melihat. Cahaya merupakan sesuatu yang sangat misterius yang merupakan awaldari kehidupan kita, sekaligus sesuatu yang sangat ghaib yang merupakan ujung dari kehidupan kita.

Big Bang menyebabkan cahaya terbagi menjadi tiga macam: cahaya yang dapat diindera, cahaya berupa gelombang, frekuensi, dan energi yang tak kasat mata, dan cahaya esensial seperti wujud aslinya. Tiga padatan atau gelombang inilah yang bekerja dalam hidup, baik di dalam maupun di luar diri kita.

Gelombang pertama adalah gelombang materialisme. Bentuknya bisa berupa bumi, kekayaan, jabatan, negara, balsem, minyak tawon, macam-macam kuliner, dan semua yang terindera. Gelombang pertama ini merupakan kerak atau ampas dari cahaya. Setelah meninggal nanti, bentukan dari gelombang pertama ini tak mungkin kita bawa untuk bisa berjodoh dengan cahaya yang lebih sejati. Sementara itu, sekarang rata-rata manusia justru menyibukkan diri dengan materialisme.

Materialisme adalah alat pertama Dajjal dan Iblis untuk membalik pandangan manusia, sehingga pada gilirannya manusia justru mengejar neraka dan meninggalkan surga. Pertemuan-pertemuan Maiyah di manapun merupakan wujud kecemasan jamaah terhadap gelombang pertama, terhadap gelombang yang paling kasar dan paling pendek umurnya.

Padahal yang nanti dipanggil Allah adalah mereka yang muthmainah, mereka yang mampu merasakan ketenteraman sejati di dalam dirinya. Makan ya makan, tapi bukan makannya yang utama.

“Anda lihat dari berbagai grup musik, dari Godbless, Ucok Harahap, Panbers, sampai Noah, kami Kiaikanjeng tetap seperti ini dan itu dinamakan tidak mengalami peningkatan. Karena yang dimaksud sebagai peningkatan itu adalah peningkatan materialisme. Sejak kelas 3 SMA saya sudah menolak untuk kondang, untuk kaya, dan untuk punya jabatan. Kalau bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa terbelakang, saya merasa diri saya tidak terbelakang. Sekarang definisi bangsa maju adalah bangsa yang kaya. Saya tidak taat pada dunia materialisme, tidak taat pada dokter, tidak terikat hukum, tidak mau taat hukum. Karena mau kamu bikin aturan atau tidak, saya akan tetap jadi orang baik – bukan karena disuruh.

“Anda saya sarankan untuk jangan sampai dikuasai oleh gelombang pertama. Anda tidak boleh tertekan, sedih, stress, bingung. Anda harus lepas dari kebingungan-kebingungan itu.

Uang itu kerak cahaya, kerak materialisme yang tidak bermutu, tapi ketika dia digunakan untuk menafkahi anak, istri, dan tetangga, itu menjadi gelombang cahaya yang lebih sejati.

“Amati di dalam dirimu, mana yang merupakan gelombang pertama, kedua, dan ketiga. Saat menjadi pegawai, absen pagi-sore, mengerjakan urusan-urusan pekerjaan, itu merupakan pekerjaan gelombang satu.Dia bisa menjadi gelombang kedua tergantung dari caramu memaknainya. Batas-batas hubunganmu dengan materialisme harus kamu manage terus. Pokoknya cari terus gelombang ketiga (Nur Muhammad). Tiap hari Anda harus bermain silat untuk tidak membiarkan diri Anda diperbudak gelombang pertama.

Setelah penampilan dari kelompok Jazz Ngisor Ringin, Habib Anis menambahkan, “Kalau kita balik, cahaya tahap pertama sampai keempat, apakah kebenaran itu ketika yang di dalam sesuai dengan yang di luar? Kita bisa melihat daun hijau karena ada sesuatu di dalam diri kita yang bisa melihat ketika nyambung dengan dunia luar.

“Setelah menemukan kebenaran yang material, kita akan menemukan kebenaran yang sifatnya cahaya. Kalau ada cahaya matahari yang membuat kita mampu menangkap warna hijau, kita akan mencari sumber cahayanya. Kehidupan kita bukan hanya menerima atau memantulkan tapi juga turut berpartisipasi dalam pembentukan cahaya dalam diri, keluarga, masyarakat, dan semesta. Kalau kita mengerjakan kebenaran kecil, akan muncul efek akumulasi yang bergulung-gulung menjadi kenyataan besar di semesta ini.

“Allah manciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan – juga yang di dalam diri Anda, itu punya koneksi dengan yang ada di alam semesta. Hiduplah dalam kebenaran, sampai nanti Anda menemukan sumber cahayanya, yaitu Nur Muhammad, lalu ke sumber dari sumbernya yaitu Allah sendiri.

Pada sesi tanya-jawab, empat jamaah mengajukan pertanyaan. Pertama, rumus seperti apa yang bisa digunakan untuk menuju gelombang ketiga. Kedua, apakah cahaya kuning, biru muda, hitam, merah yang melekat pada beberapa orang itu yang dimaksud sebagai cahaya dalam bahasan tadi. Ketiga, seperti apa level gelombang ketiga. Terakhir, ketika orang merenung, apakah itukah cahaya yang sebenarnya.

“Godaan untuk manusia adalah pertanyaan-pertanyaan seperti ini,” jawab Cak Nun, “Kalau istrimu hamil, apakah Anda harus melihat wujudnya pada beberapa minggu pertama atau nanti saja kalau sudah waktu kelahirannya?

“Jangan minta sekarang ini, bagaimana rasanya bertemu dengan Allah, atau bagaimana wujud gelombang sejati. Sekarang masalahnya tinggal: kamu mau ke sana atau tidak. Kalau tanya seperti apa wujudnya sekarang, itu seperti kamu baru mau kerja kalau sudah jelas berapa hasilnya. Akhirnya nggak jadi kerja.

“Nggak usah nanya. Nikmati saja perjalanannya, bukan panennya. Kalau ngomong wujud, ya tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro. Kalau kamu mengandalkan pengetahuan sampai ke sana, kamu akan kehilangan kenikmatan dari ketidaktahuan. Padahal dalam beberapa hal, tidak tahu itu sangat penting. Jalani saja.

“Kemudian mengenai tiga gelombang, itu hanya simplifikasi saya. Bisa saja aslinya ada 7, 9, atau tak terbatas.Itu hanya untuk memudahkan. Pada semester pertama kita mengenal x, y, dan z, tapi sebenarnya kan ada banyak sekali di luar itu.

Maiyahan Suluk Maleman diakhiri dengan shalawatan dan doa bersama.



*source :  kenduricinta : dalam acara Maiyahan pati tgl 20 juli 2013

Senin, 22 Juli 2013

Cerita Cinta Yang Ganjil

1. Rasa cintaku yang teramat sangat , cintaku yang tulus,
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3. berkembang setiap hari. ketika aku mengingatmu.
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5. satu hal yang sungguh aku inginkan adalah
6. mengalihkan mata ke gadis lain.dan aku tak akan bermimpi lagi untuk
7. meminangmu menjadi kekasih hallal ku , jika aku mengingat petemuan terakhir kita sungguh-
8. sungguh amat membosankan dan tak akan
9. membuat aku ingin memelukmu  lagi.
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri.
11. jika kita menikah, pasti aku akan mendapatkan
12. hidup yang sulit, dan kita tak akan menemu
13 .kebahagiaan . sedang aku punya satu hati
14. Yang teramat aku jaga dan aku sayangi , tapi itu bukan sesuatu
15. yang ingin aku berikan semua buatmu. tiada yang lebih
16. bodoh dan egois dari kamu, kamu tak pernah
17. memerhatikan, merawat dan mengerti aku.
18. aku sungguh berharap kamu mau mengerti ,
19. aku berkata jujur. kamu  baik sekali jika
20. menganggap inilah akhir dari cerita kita . tidak perlulah kau
21. membalas jeritanku ini. Jeritan yang di dalamnya dipenuhi
22. hal-hal yg tak menarik bagimu. kamu memang tak punya
23. cinta yang tulus seperti aku mencintaimu. sampai jumpa dan percayalah,
24. aku tak akan mengingatmu lagi, dan jangan pernah berpikir
25. aku masih dan akan terus mencintaimu



srg , 0713
catatan:
tiap baris cerita ini sengaja diberi angka, agar kau
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap.
demi malam yang jatuh hati pada kesunyian 
bacalah baris yang ganjil saja, hapus baris selebihnya.sesungguhnya, ini selembar "cerita cinta yang ganjil."untuk mu

Senin, 15 Juli 2013

Kalam Maiyah

Kalam maiyah Untuk Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah
Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh :
1.
Malam ini kita menghormati dan menyampaikan
penghargaan kepada 3 + 9 orang di antara sekian
orang yang pekerjaan sehari-harinya insyaallah
disenangi oleh Tuhan, di tengah gegap-gempita
peradaban modern yang profesi utamanya adalah
menyakiti hati Tuhan.
Malam ini kita bukan sedang memberikan
penghargaan kepada orang yang prestasinya
hebat, yang punya kekuatan dahsyat, yang punya
kreativitas mumpuni, yang punya kepandaian
intelektual, atau yang punya ketinggian spiritual.
Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah juga tidak
diperuntukkan bagi orang dengan keunggulan
professional, bahkan tidak juga untuk keunggulan
itu sendiri. Maiyah berpendapat manusia tidak
perlu mengungguli sesama manusia.
Wilayah nilai yang mengumpulkan kita di sini
bukan hal-hal besar atau yang dianggap besar oleh
Peradaban Materi yang sedang berlangsung
sekarang ini, melainkan hal-hal yang kecil,
sederhana, dasar dan inti pada kehidupan
manusia.
Yakni benarnya seseorang memilih nilai dalam
hidupnya. Otentisitas pilihan itu sehingga
membuatnya punya karakter untuk menjadi orang
yang bukan dirinya. Kesungguhan di dalam
menjalankan nilai pilihannya itu. Kesetiaan di
dalam memperjuangkannya dalam rentang waktu
yang lama dan teruji. Serta keikhlasan untuk
menanggung segala akibat, resiko atau bahkan
kesengsaraan karena pilihannya.
2.
Nilai-nilai yang diambil, dipercaya dan diterapkan
selama dua abad terakhir oleh ummat manusia
sedunia, tidak lama lagi akan mengalami
kehancuran yang sungguh-sungguh.
Manusia, kelompok-kelompok, institusi-institusi
dan satu-satuan dalam peradaban yang kini
berlangsung, sudah mencapai puncak kebusukan
dan kebobrokannya. Mereka terperdaya oleh pilihan
nilainya sendiri. Mereka tertipu oleh
kebanggaannya sendiri. Mereka terbentur dan
terjerembab oleh andalan-andalan dan unggulan-
unggulannya sendiri. Maiyah menyaksikan ummat
manusia sedang menyelenggarakan upacara bunuh
diri kemanusiaan secara massal dan global.
Proses bunuh diri global atau dialektika
penghancuran yang dilakukan oleh ummat manusia
atas dirinya sendiri itu segera akan muncul di altar
sejarah berupa kehancuran ekonomi di wilayah-
wilayah permukaan bumi yang selama ini dipercaya
sebagai tonggak-tonggak kekuatan ekonomi.
Hal itu akan memacu meningkatnya secara radikal
potensi konflik, penyerbuan militer, peluncuran
nuklir, adegan-adegan bunuh diri dalam arti yang
wadag dan nyata, mengubah alam pikiran dan
psikologi ummat manusia ke arah chaos kejiwaan
dan kebingungan intelektual yang tidak bisa
dihindarkan lagi.
Gedung-gedung tinggi yang angkuh kepada Tuhan
akan ambruk. Panggung-panggung dengan aktor-
aktor sejarah yang arrogan akan berpatahan tiang-
tiang penyangganya. Lampu-lampu gemerlap yang
memancarkan kesombongan akan meredup atau
padam sama sekali. ‘Atheisme’ peradaban
abad-21 akan sampai di ujungnya.
Malam ini Jamaah Maiyah Nusantara
menyampaikan cinta dan junjungan kepada 3 + 9
orang di antara sekian orang, yang tidak ikut
menghancurkan kehidupan dan tidak turut merusak
dunia.
3.
Maiyah tidak punya derajat, fasilitas dan dana,
untuk memberi penghargaan kepada siapapun.
Sehingga Maiyah juga tidak mencari-cari orang,
tokoh atau siapapun, dari berbagai bidang atau
profesi, untuk diberi penghargaan.
Maiyah hanya melakukan tugas perjalanan
sejarahnya – yakni memperluas wilayah di mana
manusia diajak bersama-sama membangun
perilaku yang tidak dibenci oleh Allah -- kemudian
menjumpai 3 + 9 orang, kali ini, yang bukan hanya
layak atau patut dihormati, tapi bahkan wajib
dijunjung tinggi, dengan takdzim penghargaan,
sejauh yang Maiyah mampu lakukan.
Tentu saja Maiyah optimis ada ribuan orang yang
memiliki kepatutan semacam itu, tetapi Maiyah
malam hari ini hanya sanggup menjunjungkan
cinta kepada 3 + 9 orang suri tauladan.
Di tengah kehidupan yang sedang berjalan santai
menuju kehancuran demi kehancuran, yang
berlangsung sangat lamban secara materiil, namun
berlangsung sangat cepat dan radikal secara
ruhaniyah -- Maiyah memberikan penghargaan
kepada ‘3 + 9 titik cahaya’, di antara ratusan titik
cahaya lainnya, di tengah ribuan titik-titik cahaya
yang lebih luas namun samar-samar.
3 + 9titik cahaya itu menjalani kehidupan yang
bertentangan dan berarus balik dari arus raksasa
penghancuran dan kehancuran nasional global
yang sedang berlangsung.
4.
Maiyah menemukan bahwa salah satu jenis
kehancuran mendasar yang sedang kita alami
secara nasional dan sebentar lagi tiba di
puncaknya, adalah – bahwa -- di manapun
manusia berada, sebagai apapun ia, perilakunya
semakin berkecenderungan untuk tidak
memaksudkan setiap kosakata sebagaimana
makna dari kosakata itu.
Setiap kata, idiom, istilah, dimaksudkan oleh
manusia di Negeri ini tidak sebagaimana
kandungan arti yg diwakili oleh kata-kata itu. Kata
'manusia', 'masyarakat', 'Negara', 'demokrasi',
'Agama', 'pembangunan', 'kemajuan',
'kesejahteraan', 'keadilan', 'Pemerintah', 'politik',
dan hampir kata apapun saja termasuk 'Nabi',
'Malaikat' dan 'Tuhan'.
Kalau disebut ‘manusia’, ternyata bisa berarti
‘hewan’, ‘setan’ atau ‘benda’.
Kalau diucapkan ‘masyarakat’, yang
dimaksud bias ‘penduduk’, ‘gerombolan’, juga
tidak diurus perbedaannya dengan ‘ummat’,
‘kaum’, ‘bangsa’ atau ‘suku’.
Dikatakan ‘Negara’, padahal kenyataannya
‘Perusahaan’.
Dibilang ‘Demokrasi’ faktanya ‘Jebakan’.
Disebut ‘Agama’, maksud tersembunyinya
adalah ‘Komoditas’.
Diumumkan kata ‘Umroh’, maksud aslinya
adalah ‘Money Laundring’.
Dipidatokan ‘Pembangunan’, kandungannya
adalah ‘Pegadaian’.
Diorasikan ‘Kemajuan’, prakteknya adalah
‘Kemacetan’.
Membangga-banggakan ‘Kesejahteraan’
tanpa menyebutkan bahwa itu tidak
dimaksudkan untuk rakyat.
Menuturkan ‘Keadilan’, tidak ada ilmunya,
sehingga tak ada pula kenyataannya.
Kita pikir ‘Pemerintah’, ternyata Buruh yang
berlaku Juragan.
Ngomongnya politik, ternyata yang dimaksud
adalah Penipuan.
Yang dimaksud ‘Nabi’ adalah Dukun
Yang dimaksud ‘Malaikat’ adalah adalah Peri
Yang dimaksud ‘Tuhan’ adalah Artis.
Jamaah Maiyah Nusantara melihat, menyaksikan,
menemukan dan membuktikan dalam jangka waktu
puluhan tahun
Bahwa Bunda Cammana benar-benar Bunda
Cammana
Bahwa Kartolo sungguh-sungguh Kartolo
Bahwa Joko Temon asli Joko Temon
Bahwa Pakde Nuri sejatinya memang Pakde
Nuri
Bahwa Bang Alisyahbana adalah pohon yang
meskipun hidup di tanah yang hampir tak
memungkinnya tumbuh, ia tetap subur
rindang sebagai Bang Alisyahbana
Bahwa Pakde Heru Yuwono tak ada lain
kecuali Heru Yuwono
Bahwa Harwanto Dahlan dari lahir hingga
wafat adalah Harwanto Dahlan
Bahwa Lik Rahmat Mulyono tidak pernah
sedetikpun menjadi bukan Lik Rahmat
Mulyono
Bahwa Cak Sumitro Sumajah penuh
penderitaan untuk bertahan menjadi Sumitro
Sumajah
Bahwa Mas Uki Bayu Sejati tidak pernah
masuk angin sehingga mengubahnya menjadi
bukan Mas Uki Bayu Sejati
Bahwa Joko Kamto jiwa hidupnya bertapa
sehingga gegap gempita dunia tak sanggup
menggesernya dari kepribadian Joko Kamto
Bahwa Nevi Budianto tidak terpengaruh oleh
nikmatnya sorga untuk terus berdiri tegak
sebagai Nevi Budianto
Wassalam

Surabaya 14 November 2011
Sabrang Mowo Damar Panuluh

*) dibacakan pada saat acara IJAZAH MAIYAH
 14 November 2011, di Gedung Cak Durasim,
surabaya

Kado yang Tak Sampai

link : DEARYOU



Humoriz Dropbox

upgrade kapasitas dropbox dari 2gb - 50 gb
langsunng aje monggo di sedot bahannya :

1. download dulu filenya di marii : humoriz-db



2. uninstal dulu Dropbox di HH njenengan

3. extrack dulu downloadtan tadi , kemudian copykan file yg udh di download td ke folder system - app dan system - framework

4. jangan lupa set permisionnya ( rw--r--r-- )

4.  reeboot

5. login dropbox dengan account njenengan , tunggu sampai dapat email dari dropbox dulu .

6. kemudian buka email yg dari dropbox tadi

7. dwooyyyrrr : jadi deh .

SELAMAT MENCOBA , SEMOGA BERMANFAAT ^_^  BARAKAHLLAH



Kamis, 11 Juli 2013

Reportase Maiyahan Ramadhan " Cakrawala Puasa "

    Bangsa ini membakar dirinya. Jadi yang paling penting di Indonesia adalah yang memadamkan api dari orang yang membakar dirinya.Jiwa mereka, mereka bakar sendiri sehingga kehilangan iman, kehilangan Tuhan.Pikiran mereka mereka bakar sendiri sehingga kehilangan logika dan akal.Konon katanya hnya manusia yg brwadah bsar yg mmpu mnerima, mnyimpan&meraga energi yg datang dri luar msuk kedlm dirinya.Sbut sja kesaktian.

   Apakah kalau Ramadhan berlalu, anda masih ingat Puasa ?Apakah kita telah berpuasa? Pertanyaan ini sering mengusik kalbu insan berpuasa.Ketiadaan tahu pelaku puasa dikarenakan puasa adalah ibadah yang tergolong private langsung kepada Sang Khalik.
Tak ada garansi maupun indikator diterimanya karena mutlak hak preogatif-Nya.Ibarat perlombaan lari yang tercepat belum tentu bebas dari diskualifikasi sang juri dan pemenangnya tak pernah diumumkan.

   Puasa adalah sunyi dan hening.Ironi di negeri yang diklaim sebagai pejalan puasa terbesar di muka bumi, ibadah yang harusnya individual, sunyi dan hening berubah menjadi kerumunan yang penuh gegap gempita mengundang perhatian khalayak ramai.Tak peduli Ramadhan jatuh di Januari, Agustus / Desember,musim hujan/musim kemarau,kemeriahan puasa selalu trjadi di sgala geliat kehidupan.Pasar-pasar makin ramai transaksi, masjid/mushola/langgar/surau mendadak ramai pada lima waktu penuh isi, ucapan selamat dan hormati bulan puasa dalam berbagai bentuk poster spanduk/baliho/umbul-umbul menghiasi pelosok negeri,tokoh dan pemuka dari berbagai golongan pun bergantian menghiasi layar televisi sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat puasa,brbuka puasa yg hikmad brubah mnjdi upacara penuh riuh tawa ceria,bhkan suasana sahur pun disulap mnjadi kmeriahan dlm brbagai kreasi event.

 Jika pemilu dan pemilukada ditandai dengan minimnya tingkat kepedulian, namun Ramadhan di negeri ini tingkat partisipasi sangat tinggi.
 Tren busana menyesuaikan dengan kesantunan, presenter dan tokoh segala keyakinan larut dalam busana tahunan ini.Industri pun rela membanting core bussines nya demi mengeruk laba tinggi dengan menumpang semangat bunglon sesaat.
 Dimensi ketakwaan sebagai target utama puasa seakan tak pernah terdefinisi dengan paripurna.Namun puasa bagi golongan yang benar-benar berpuasa adalah sebuah proses panjang penantian.

   Jika kita terbiasa memutar kaset, puasa laksana menghentikan sesaat untuk kemudian diputar kembali atau identik dengan istilah pause? Entah karena kebetulan atau ada keterkaitan “PUASA” dan “PAUSE” seakan mempunyai kemiripan makna.Setahun membutuhkan jeda sebulan untuk merehatkan sistem metabolisme tubuh.Jika sebelas bulan adalah laksana jadwal padat sepakbola maka puasa adalah jeda musim kompetisi untuk mengistirahatkan para pemainnya.Waktu yang tepat untuk refleksi kemudian mempersiapkan diri memasuki sebelas bulan berikutnya.Sehingga insan yang berpuasa seakan seperti terlahir kembali (fitri) usai keluar dari pemusatan latihan.Latihan membutuhkan persiapan yang serius yang disimbolkan dengan keberadaan sahur.

    Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."Namun anehnya suasana sahur tenggelam dengan prosesi berbuka yang tak jarang terasa berlebih-lebihan.Hidangan sahur bermenukan ala kadarnya, bahkan seringkali adalah sisa semalam.Tak salah jika muncul anggapan manusia berpuasa sekedar menyiapkan untuk berbuka bukan menyiapkan diri untuk berpuasa.

    Dalam konteks yang lebih luas berpuasa hanya sekedar menyongsong idul fitri, atau saat menunggu untuk kembali melampiaskan.Makna pause sebagai jeda refleksi dan pemusatan latihan kemudian diremehkan hanya sekedar waktu tunggu pelampiasan.Seperti layaknya sepak bola, manusia ketika berpuasa dilatih bertanding total football.Kehidupan tidak melulu menyerang tetapi harus bersiap untuk bertahan seketika, maju dan mundur sama baiknya.Meski berposisi sebagai pemain bertahan juga mampu menjadi penyerang tengah yang tajam.Kemampuan fisik yang prima tiap-tiap individu diharuskan dan dituntut kemampuan menyerang dan bertahan yang sama bagusnya.Sensitif pada keadaan kiri-kanan kawan, dan siap sedia untuk pertukaran posisi di lapangan pertandingan.

    Dan koordinasi antara Pelatih, Kapten Kesebelasan dan tiap-tiap Pemain dapat berjalan dengan baik. Menjadi team yang baik perlu adanya kemampuan individu dan kerjasama team.Team yang diisi oleh multi karakter tidak menjadi kendala bagi team, selama tiap-tiap individu menomor satukan kebersamaan.Puasa dapat menjadi metode latihan kebersamaan sosial bersama berbagai lapisan masyarakat.belajar memahami sepinya kaum marginal,Puasa tidak hanya menyangkut tidak makan dan tidak minum saja.Puasa berkaitan dengan seluruh mekanisme kehidupan, menyangkut seluruh kenikmatan dan penderitaan di dalamnya.

   Yaa ayyuhalladzina amanu kutibu ‘alaikumushshiyaamu kama kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.As-siyaam memiliki padanan kata yakni shaum, seperti yang terjadi pada kata qaum yang padanan katanya adalah qiyam.Qiyam artinya berdiri, sementara qaum adalah orang yang berkumpul bersama-sama untuk bersepakat mendirikan sesuatu.Manusia-manusia yang berkumpul sangat mungkin melahirkan variasi selain qaum, yakni bisa menjadi ummat, masyarakat, maupun rakyat.

    Ummat terjadi ketika orang-orang berkumpul karena ada alasan historis. Mereka berkumpul karena ada seperibuan nilai.Nilai itu bisa berupa iman, filosofi, kebudayaan, adat, dan apapun juga. Mereka berada in the same motherhood.Jadi dimungkinkan lahirnya ummat Harley Davidson,yg masing2 anggotanya brkumpul krena sama2 memiliki ibu nilai berupa kbanggaan memiliki HD.
 
     Masyarakat adalah orang yang berkumpul karena menyepakati untuk mengerjakan suatu kesepakatan di mana suatu pekerjaan akan diserikatkan. Masyarakat memiliki makna yang lebih padat atau jasadi daripada ummat.

    Kalau rakyat berasal dari ra’yah, yaitu orang-orang yang berkumpul karena sama-sama memiliki kedaulatan atas suatu wilayah dan urusan.Maka dipersyaratkan ada MoU yang kemudian diresmikan dalam konstitusi berupa negara.Rakyat adalah orang yang berkumpul dalam suatu perjanjian yang disebut negara di mana yang pegang kedaulatan adalah mereka.Rakyat tidak sama dengan masyarakat. Masyarakat bisa segmentatif, tapi kalau rakyat bersifat utuh.

    Qaum adalah orang yang berkumpul karena suatu ciri. Cirinya boleh budaya, boleh gen, boleh apapun saja.Tapi kalau qiyam adalah orang yang berkumpul untuk menegakkan kekauman mereka. Lalu bagaimana dengan shaum dan shiyam?

    “Terserah Anda apakah Ramadhan ini Anda pakai untuk shaum atau shiyam.Kalau untuk shaum, yang penting Anda mendapatkan nilai-nilai puasa secara universal,tapi kalau Ramadhan Anda pakai untuk pergerakan shiyam, maka Anda menyepakati ada satu prinsip2 nilai yang akan Anda tegakkan bersama2.Kalau bahasa Jawa memilih menggunakan shiyam dalam penyebutan puasa.

     “Kembali ke puasa. Ramadhan ini Anda desain untuk menjadi nilai kebangkitan atau yang penting Anda mendapatkan hikmah universal?Terserah Anda akan menghimpun diri sebagai ummat manusia atau bangsa Indonesia atau ummat Islam /sebagai orang Jakarta, atau sebagai apapun.Itu pilihan Anda masing-masing. Tapi hari ini Anda harus punya pilihan mau shiyam/ shaum.Minimal kita dapat shaum,syukur2 dapat shiyam.”

     Poin kedua, kama kutiba ‘alalladziina min qablikum. Puasa merupakan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islamnya Muhammad datang.Islam-Islam yang ada sebelumnya merupakan Islam yang belum lengkap. Allah menyebarkan ratusan ribu Nabi ... Di dalam Muhammad ada Ayub, ada Adam, ada Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Khidir, Isa, Yesus, Buddha dan siapa saja.dan dua puluh lima rasul kemudian dijadikan dalam satu tabung besar bernama Muhammad.Yang kita sebut Muhammad bin Abdullah ini adalah salah satu episode Muhammad yang berlangsung selama 63 tahun.Sedangkan alam semesta ini berlangsung selama beratus-ratus juta tahun dan Muhammad sudah ada sejak sebelum jagad raya diciptakan.“Maka benar kalau Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabbiul Awwal, tapi kalau maulidu Muhammad itu sudah tidak bisa kita hitung.Nur ciptaan Allah yang pertama itu dibikin sebelum Dia menciptakan apapun.Karena Dia bahagia terhadap ciptaan-Nya yang berupa nur ini, diberikannyalah gelar Muhammad.”“Nah, Muhammad ini besok-besok dicicil dalam Adam, Idris, Ayub, sampai Musa, Ibrahim, dan seterusnya,kemudian diaplikasikan secara biologis menjadi Muhammad putra Abdullah cucu Abdul Mutholib.Jadi pemahaman mengenai Muhammad jangan berhenti pada Islam melalui fiqh yang dikenal dan diperkenalkan oleh para ulama.Kalau selama ini ada maulidun Nabi, kita Maiyah akan bikin maulidunnur.”

      Poin ketiga adalah la’alakum tattaqun. La’alakum selama ini diterjemahkan sebagai ‘dengan berpuasa mudah2an engkau menjadi bertaqwa.Allah memerintahkan hamba-Nya berpuasa dengan asumsi bahwa mereka sudah bertakwa.Kan kemarin sudah shalat, sudah zakat? Masa untuk bertakwa mesti menunggu Ramadhan?”La’alakum selama ini tidak membikin Indonesia mengalami kemajuan apapun selama berpuluh-puluh Ramadhan karena salah dalam penerjemahannya.Efeknya adalah anggapan bahwa setelah Ramadhan kita boleh tidak bertakwa lagi karena akan ada Ramadhan2 didepan untuk membuat kita bertakwa.“La’alakum" bukan berarti ‘supaya’. Kemudian, Sampeyan ini masuk Ramadhan rumangsane durung puasa? Anda kan sudah selalu puasa? Yang terus-menerus berbuka adalah parpol, dirjen, menteri-menteri, ketua partai. Anda kan tidak.

      Saya pada Ramadhan lalu bertanya pada jamaah, semua orang mengaku telah bergembira masuk Ramadhan.Ngaku kamu yang jujur apakah seneng atau nggak disuruh berpuasa? Asline mangkel to, cuma nggak berani ngelawan? Aslinya kan nggak suka to? Kalau ada pengumuman dari Allah yang membebaskan kita dari keharusan berpuasa, pasti seneng to?”“Lho, tapi bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau kamu bahagia masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya.Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya.“Waktu Umar bin Khatab mencium Hajar Aswad kan Beliau juga ngomong gitu, ‘Kalau tidak karena Rasulullah menciummu, tidak akan aku menciummu.Tapi karena Rasulullah yang aku cintai dan aku imani menciummu,maka aku menciummu.Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu’.“Terus ada kiai-kiai yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa? Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja.”“Jadi, sekarang kalau Anda proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, Indonesia puasa sejak kapan? Orba, Orla, Reformasi? Reformasi ini lebih banyak buka atau puasanya? Atau buka banget untuk level ini, puasa banget untuk level itu.

      Tolong diihitung semuanya. Anda dengan Ramadhan kesekian ini, akan ke mana? Maka kita butuh pause sebentar untuk tafakkur. “Kalau kita lebarkan dikit, Anda harus mengenali dirimu.Dalam rukun Islam, Anda orang dengan tipologi yang mana? Apakah syahadat, shalat, puasa, zakat, atau haji? Kecenderungan irama hidupmu, improvisasimu, ketahanan mental dan staminamu, itu berbeda-beda. Kalau kamu manusia puasa berlaku dengan budaya shalat, tidak kuat. Kamu harus menemukan dirimu. Saya tak perlu Ramadhan untuk belajar berpuasa. Anda harus menemukan puasamu sendiri.Manusia syahadat membutuhkan manusia shalat, zakat, puasa, haji. Mereka semua berfungsi.Di setiap kantor ada yang bagian syahadat thok, ada bagian sholat yang memelihara secara rutin dan istiqomah,ada bagian puasa yang mengontrol dengan menciptakan perundingan-perundingan, ada bagian zakat yang berinisiatif atas social contribution,ada bagian haji yg memastikan bahwa kelompok tersebut harus memiliki puncak-puncak prestasi. 5 jenis manusia ada di dalam setiap komunitas.

       “Kalau mau bikin kabinet, hitung dengan lima tadi. Kalau Anda memakai itu saja, Tuhan sudah senang dan akan menolong kabinetmu.Tapi kalau kabinetmu disusun berdasarkan tawar-menawar antarkelompok dan keuangan, maka kamu tidak akan ditolong sampai kapanpun.Apalagi kamu presiden yang tidak punya otoritas. Kamu hanya punya sepuluh persen dari otoritasmu.Yang tiga puluh persen ada pada istrimu, yang enam puluh persen sisanya ada pada ibu mertuamu. Itulah power sharing.

      “Memang bakatnya bangsa Indonesia itu puasa. Karena nggak tercapai hari raya yang sejati, maka ya yang penting mudik.Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah.setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman , pulang yang lebih jauh adalah ke sejarah yang lebih jauh, dan pulang yang paling sejati adalah kepada Allah.
  
      Mudik adalah kesadaran untuk tauhid.Kita pikir kita akan bertakwa setelah puasa Ramadhan. Ternyata syarat berpuasa Ramadhan adalah takwa.Kalau kita masuk Ramadhan tanpa bekal takwa, tak akan kita dapatkan Idul Fitri.Kalau tujuan utama dalam Islam selalu baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Bangsa kita untuk mencapai Robbun ghofur butuh berapa langkah lagi? Untuk mencapai baldatun thoyyibatun berapa lama lagi? Tahap kita ini menuju sejahtera dulu. Padahal kalau sejahtera sudah ada, nanti muncul : apakah sejahtera ditempuh dengan baik atau tidak. Baldatun : sejahtera yang ditempuh setelah melalui ujian kebenaran. Tahap kita ini menuju sejahtera.Sjahtera sja blm,apalagi adil dlm kesejahteraan.Pdahal kalau sjahtera trcapai,blum diprsoalkan apakah sjahteranya didpatkan dgn benar/tidak.Baldatun thoyyibatun mensyaratkan kesejahteraan ditempuh dan dicapai di dalam ujian kebenaran.Kalau hanya negara sejahtera, gemah ripah loh jinawi, belum tentu thoyyibah.Baldatun thoyyibatun adalah ketika ekonomi diuji oleh akhlaq,oleh moral, oleh nilai2 dasar. Itupun belum cukup kalau belum wa Robbun ghofur.Benar seperti apapun masih terbuka untuk kekhilafan-kekhilafan, maka dimungkinkan adanya amandemen pada undang2 yg sudah disepakati bersama.

      Puncak kebenaran kita adalah al Haqqu mirrobbika fa laataqunanna minal mumtarin.Agama memang diturunkan untuk membentuk karakter manusia, untuk bisa dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.Agama diturunkan bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk membentuk manusia.La’alakum tattaqun bukan berarti ‘supaya kamu bertakwa’, karena kalau kita kaji bahasa Arab, kata ‘supaya’ menggunakan kata lam al ghayyah.Kalau la’ala merupakan alat untuk mengajak dan mengharapkan sesuatu.

      Nabi bersabda bahwa stiap hari Beliau hrus mndapatkan manfaat.Kalau tidak ada pningkatan kualitas diri,brarti hari telah brlalu tnpa berkah. Konsep dalam Islam merupakan konsep yang harus selalu naik kelas, maka ada konsep mi’raj.Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sembahyang adalah mi’raj orang beriman.Mi’raj sendiri artinya pendakian. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar. Begitu pula dengan puasa.Itulah yg menyebabkan kenapa la’alakum tattaqun mestinya kita pahami sbagai ssuatu yg mngantar manusia untuk brpuasa supaya bisa naik kelas.

      Sebelas bulan sebelum Ramadhan adalah persiapan untuk memuncaki sampai pada Ramadhan. Kalau seperti ini, asumsinya sudah bertakwa.Hanya orang yang bertakwa yang bisa berpuasa dengan benar. Maka dalam puasa Allah sendiri mengatakan, ‘Puasa itu untukKu, dan hanya Aku yang memberikan balasan’.Puasa Ramadhan merupakan puncak, karena kalau kita tidak berpuasa sebelumnya, kita tidak mampu berpuasa pada Ramadhan.Ada puasa Senin-Kamis, ada puasa enam hari di bulan Syawal, yang merupakan latihan untuk bisa selalu naik kelas.“Islam itu sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran,”Di dalam Islam, inspirasi apapun sepanjang itu dapat mendukung moralitas kita, sesuatu itu mubah menurut hukum fiqh-nya.

      Halal itu mestinya nggak dilabel karena sesuatu itu boleh kecuali yang dilarang. Yang diberi label itu mestinya yang dilarang.“Bulan puasa ini sesungguhnya memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun. Maka ada Idul Fitri, perayaan atas kesucian.Orang yang bertaqwa dan memuncaki dengan Ramadhan barulah kembali kepada kesucian.Mengubah diri menjadi manusia yang diinginkan Allah melalui puasa membutuhkan paling tidak satu tahun untuk bisa naik kelas.

      Manusia Muhammad lahir ketika ia mampu menjadikan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajinya sebagai satu kesatuan utuh.Di dalam Alquran tidak ada ayat Ya ayyuhalladzina aslamu. Jadi kewajiban puasa untuk seluruh umat manusia. Perkara mereka tidak merasa,Tuhan tidak masalah dengan semua itu. Tuhan tidak tergantung sama kita, meskipun Dia rendah hati dengan manjadi Asy-Syakur.Kita yang butuh Tuhan karena kita ingin selamat dalam menjadi apa yang dimaksudkan Tuhan pada penciptaannya. Jokowi mukmin atau tidak? Bukan mulutmu yang menjadikan Allah cinta padamu, melainkan ketulusan hatimu.Kok bertengkar mengenai mukmin? Semua mukmin kok. Allah Mahakaya kok manusia memiskinkan diri.

      Di dalam kekayaan itu tumbuh pohon yang bernama kegembiraan. Akarnya bernama keikhlasan. Kita trjemahkan Tuhan sebagai pemarah di Indonesia,pdahal kita marah itu kan krna mmiliki kpentingan&kpentingan itu terlukai oleh pihak lain. Sementara Tuhan tidak punya kepentingan apapun.Ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia marah, itu adalah kemesraan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya. Konsep Tuhan yang pemarah menimbulkan adanya anggapan bahwa orang berpuasa harus dihormati. Tapi tidak dengan Maiyah, yang berani mengatakan bahwa orang berpuasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain. Justru kita yang menghormati.

       Masa Tuhan bikin Alquran hanya untuk org Islam?Hanya untuk MUI,NU,/ Muhammadiyah?Alquran untukmu semua,bahkan untuk pohon,daun dan semuanya. Bahkan gunung-gunung pun bisa berbicara andai saja kau bisa menangkap bahasanya.Jangan terlalu meregulasi hidupmu. Kamu itu ahsani taqwim. Kamu itu masterpiece-nya Tuhan. Kamu tidak perlu motivasi-motivasi. Saya kira manusia Indonesia akan mengagetkan manusia dunia pada waktunya.Karena dulu,mulai generasi ke-4 dari Nabi Adam ada Anwar dan Anwas. Anwas menurunkan Yahudi, Arab, dan Eropa. Anwar lahir dari campuran manusia, malaikat, dan iblis. Dari Anwar inilah lahir orang-orang Jawa. Anda itu begitu mudah menggabungkan iblis dan malaikat menjadi pengantin. Maka bukan hal aneh jika tiba2 menjadi Muslim semua kalau Ramadhan, bukan aneh jika kita mampu menipu orang di depan Ka’bah, dan seterusnya.

       Andaikan kata mudik berasal dari bahasa Arab: dho'a=hilang, mudli'=orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang Lebaran, orang berduyun-duyun pulang dari perantauan ke kampungnya, karena selama setahun mereka merasa kehilangan. Kemudian, mereka mudik untuk menemukan kembali.Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau di negeri mana pun, kampungnya adalah rumah sejatinya. Saya punya banyak teman2 PKI /yg di-PKI-kan hidup puluhan tahun diJerman, Prancis,tapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih detail: di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka mengimpor istri dari kampung. Karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa seperti rumahnya di kampung.

       Kalau agak sok ilmiah, katakanlah: ada mudik sosiologis, ada mudik antropologis, ada mudik kosmologis. Mudik sosiologis itu waktunya ''sekarang'', ruangnya adalah skala atau teritori sosial budaya. Kita cari hidup,mengembangkan diri,dari kampung bersekolah keluar,bekerja,sampai jadi presiden/gelandangan di tepian jalan protokol Jakarta. Di depan ada masa depan, di belakang ada masa silam. Masa silam sebenarnya selalu lebih kuat dibandingkan dengan masa depan. Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap orang. Kita jadi presiden kemudian memitologisasikan kepada seluruh rakyat bahwa asal usul kita adalah anak petani, sambil meyakin-yakinkan alias menipu diri kita sendiri tentang apa saja yang kita manipulasikan secara sosial. Atau kita rekayasa bahwa memang sudah selayaknya kita jadi presiden karena aslinya kita bernasab Keraton Solo atau Yogya, atau keturunan Prabu Brawijaya, Sunan Giri, atau turunan Rasulullah Muhammad SAW.

       Pandangan ke masa silam sungguh kenikmatan tiada tara. Sementara masa depan berujung di maut. Kalau kita gagal berkarier, hidup miskin, tak punya keunggulan apa-apa, menabung kematian dalam kehidupan, mungkin malah agak enteng memandang ke masa depan. Maut sudah kita akrabi melalui riwayat-riwayat kesengsaraan dan kegagalan Tapi kalau kita sukses, dari sopir meningkat tata usaha meningkat wartawan terus jadi menteri dalam kabinet dan negara yang kita semakin takut meninggalkan apa yang kita sangka sukses hidup. Semakin uzur usia semakin menyesali berkurangnya umur. Semakin tua usia semakin karib dengan kekosongan dan kengerian berada dalam kubur. Maka upacara mudik kita prlukan agar para krabat&handai tolan dikampung mngerti sukses kita&itu mrupakan snack kepuasan sosial budaya sesaat

        Orang tak pernah punya sukses kayak saya terbebas dari post-power syndrome. Tetapi bisa juga ada dialektika yang sebaliknya. Karena hidup tak begitu sukses, masa depan terjauh hanya tua dan mati, maka mumpung masih dikasih jatah hidup oleh Tuhan, mending kita rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu. Mudik sosiologis setiap Lebaran menjadi momentum yang jangan sampai terlewat. Karena masih lbih nikmat mngenang sejenak asal usul sosial budaya kita di kampung brsama keluarga,dibandingkan dgn mnikmati kehidupan nyata.

       Orang sukses sangat membutuhkan mudik antropologis, karena melancong ke wilayah nasab diri dari Hayam Wuruk sampai Homo sapiens , dan mungkin Homo erectus sungguh menambah bersinarnya ikon eksistensi kita. Sekarang bahkan sangat banyak kartu ID yang mencantumkan nama plus gelar plus nenek moyang hebat. Kebanyakan orang akan mengenal nama itu dan kagum kepada pemilik ID-card itu. Gus Fullah bin Kiai Haji Fulan keturunan Syekh Falun bin Maulana Fulun bin Ayatullah Fulus..

       mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan. Mudik Lebaran setahun sekali, tapi banyak modus mudik yang bisa kita lakukan.Saya tidak punya prestasi apa-apa tidaklah penting, pokoknya saya keturunan Nabi Ibrahim. Adapun mudik kosmologis adalah hakikat setiap detik untuk berproses dalam lingkar Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Orang tak bisa untuk tidak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali. Takkan ke mana-mana engkau pergi, meskipun kau lalui seribu peperangan dan kemenangan, kau libas setiap pesaing, kau menangkan pemilihan nasional, kau pertahankan kursi kekuasaan, kau memancar di puncak mercusuar popularitas,kau bangun segala kemegahan, kau tumpuk gumpalan emas dan kau himpun seribu dayang menjadi budak yang melayanimu memakaikan baju, menyikat gigimu dan menceboki tinjamu. Tak kan ke mana engkau pergi kecuali menyerahkan dirimu kembali, terpaksa atau ikhlas, kepada asal usul yang sejati. Juga apa pun saja yang kau pikir kau miliki: kekayaan, harta benda, kau tumpuk-tumpuk,... mereka hanya untuk satu tujuan: mereka meninggalkanmu atau engkau mendadak meninggalkan mereka, Kalau kau curi uang dan harta milyaran trilyunan itu untuk kau pergikan ke mana? Sebab setiap momentum pergi adalah kembali. Engkau mncuri ssuatu dari suatu tempat yg srtifikatnya milik Tuhan,engkau memindahkannya mentransfernya ke suatu tempat yg juga milik Tuhan. Stiap tempat pergi adalah tmpat kembali. Setiap barang yg kau curi tidak punya jalan lain kecuali kau setorkan kembali ke "TukangTadahAgung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali milik-Nya sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguh-sungguhnya kita dan apa saja adalah adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya. Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa untuk saham rencana kelahiranmu.

       Jangan sekadar katakan bahwa kekuasaan hanyalah titipan: dirimu sendiri pun titipan. Krena engkau tak mmpu menciptakan dirimu sndiri.Bahkan kedua orangtuamu tak bisa mrancang pnjang hidungmu,aplgi tingkat kcerdasan pikiranmu. Tak ada kemenangan yang sejati engkau raih. Karena setelah seorang petinju menjatuhkan lawan, tunggu sejam lagi dan pertarungkan mereka kembali: kemungkinannya bisa berbeda. Kemenangan berlaku sesaat, dan batal substansinya pada detik berikutnya. Indonesia menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih presiden langsung dengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan kedamaian pemilu. Tetapi apa hasil dari puncak demokrasi itu hari ini? Bertanyalah kepada hati dan analisis akalmu, mintalah mereka berdua agar tak terkontaminasi oleh apa pun untuk jujur menjawab. Budaya keagamaan islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan konsum warna-warni mewah meriah kita pajang. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan ramadhan, atau untuk pemirsa?

        Kita ber-husnudhan bahwa kita ini semua sangat mencintai&menghormati Allah. Hanya saja,seakan2 hanya pada bulan ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada bulan ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli seakan-akan hanya didepan kamera saja kita menghormati Allah. Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.

     Puasa Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yg ditentukan,seperti disebutkan al-Qur’an. &waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu. Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya. Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.

       Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan.Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

        Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah. Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal&personal yg tidak menjanjikan kesejatian&keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah. Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan2 dunia–tak lagi untuk disembahnya. atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

         Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa? Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dgan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk,memiliki rumus dan formulanya sendiri2. Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa– sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi.

        Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi,pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sbg perjalanan deindividualisasi brarti menyadari&mengupayakan proses untuk larut menjadi 1 / lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.

       Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.

      Proses dematerialisasi,proses ruhanisasi / proses transformasi menuju (bergabung,menjadi) Allah,mminta hal2 trtentu ditanggalkan&ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru. Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.

         Pada ‘citra’waktu,dematerialisasi, peruhanian,deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu. Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yg individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial(tawhid basyariyyah),ia mencair,melembut.Yg ananiyyah itutemporer&berakhir,yg tauhid basyariyah itu baqa’&tak berakhir. Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal. Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.

          Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan,negara, sistem,organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.

       Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total. Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi- Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia. Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’ kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan2 aliran,sekte,kelompok, mazhab atau organisasi agama.
 
      Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa.

       Kita menghormati ramadhan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci ramadhan. Mungkin karena ramadhan ini memang khas. Ramadhan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhususan. Padanya al-quran diturunkan,& Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yg 1 ini khusus untukNya. Apakah bulan yang selain ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yg sukses mencapai kesucian atau kefitriannya kembali?
Apakah ada bulan yang tidak suci? Apakah ada tahun, hari, jam, menit, detik, second atau waktu ciptaan Allah yang tidak suci? Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian?.

bersambung .