Bangsa ini membakar dirinya. Jadi yang paling penting di Indonesia adalah yang memadamkan api dari orang yang membakar dirinya.Jiwa mereka, mereka bakar sendiri sehingga kehilangan iman, kehilangan Tuhan.Pikiran mereka mereka bakar sendiri sehingga kehilangan logika dan akal.Konon katanya hnya manusia yg brwadah bsar yg mmpu mnerima,
mnyimpan&meraga energi yg datang dri luar msuk kedlm dirinya.Sbut
sja kesaktian.
Apakah kalau Ramadhan berlalu, anda masih ingat Puasa ?Apakah kita telah berpuasa? Pertanyaan ini sering mengusik kalbu insan berpuasa.Ketiadaan tahu pelaku puasa dikarenakan puasa adalah ibadah yang tergolong private langsung kepada Sang Khalik.
Tak ada garansi maupun indikator diterimanya karena mutlak hak preogatif-Nya.Ibarat perlombaan lari yang tercepat belum tentu bebas dari diskualifikasi sang juri dan pemenangnya tak pernah diumumkan.
Puasa adalah sunyi dan hening.Ironi di negeri yang diklaim sebagai pejalan puasa terbesar di muka bumi, ibadah yang harusnya individual, sunyi dan hening berubah menjadi kerumunan yang penuh gegap gempita mengundang perhatian khalayak ramai.Tak peduli Ramadhan jatuh di Januari, Agustus / Desember,musim hujan/musim kemarau,kemeriahan puasa selalu trjadi di sgala geliat kehidupan.Pasar-pasar makin ramai transaksi, masjid/mushola/langgar/surau mendadak ramai pada lima waktu penuh isi, ucapan selamat dan hormati bulan puasa dalam berbagai bentuk poster spanduk/baliho/umbul-umbul menghiasi pelosok negeri,tokoh dan pemuka dari berbagai golongan pun bergantian menghiasi layar televisi sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat puasa,brbuka puasa yg hikmad brubah mnjdi upacara penuh riuh tawa ceria,bhkan suasana sahur pun disulap mnjadi kmeriahan dlm brbagai kreasi event.
Jika pemilu dan pemilukada ditandai dengan minimnya tingkat kepedulian, namun Ramadhan di negeri ini tingkat partisipasi sangat tinggi.
Tren busana menyesuaikan dengan kesantunan, presenter dan tokoh segala keyakinan larut dalam busana tahunan ini.Industri pun rela membanting core bussines nya demi mengeruk laba tinggi dengan menumpang semangat bunglon sesaat.
Dimensi ketakwaan sebagai target utama puasa seakan tak pernah terdefinisi dengan paripurna.Namun puasa bagi golongan yang benar-benar berpuasa adalah sebuah proses panjang penantian.
Jika kita terbiasa memutar kaset, puasa laksana menghentikan sesaat untuk kemudian diputar kembali atau identik dengan istilah pause? Entah karena kebetulan atau ada keterkaitan “PUASA” dan “PAUSE” seakan mempunyai kemiripan makna.Setahun membutuhkan jeda sebulan untuk merehatkan sistem metabolisme tubuh.Jika sebelas bulan adalah laksana jadwal padat sepakbola maka puasa adalah jeda musim kompetisi untuk mengistirahatkan para pemainnya.Waktu yang tepat untuk refleksi kemudian mempersiapkan diri memasuki sebelas bulan berikutnya.Sehingga insan yang berpuasa seakan seperti terlahir kembali (fitri) usai keluar dari pemusatan latihan.Latihan membutuhkan persiapan yang serius yang disimbolkan dengan keberadaan sahur.
Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."Namun anehnya suasana sahur tenggelam dengan prosesi berbuka yang tak jarang terasa berlebih-lebihan.Hidangan sahur bermenukan ala kadarnya, bahkan seringkali adalah sisa semalam.Tak salah jika muncul anggapan manusia berpuasa sekedar menyiapkan untuk berbuka bukan menyiapkan diri untuk berpuasa.
Dalam konteks yang lebih luas berpuasa hanya sekedar menyongsong idul fitri, atau saat menunggu untuk kembali melampiaskan.Makna pause sebagai jeda refleksi dan pemusatan latihan kemudian diremehkan hanya sekedar waktu tunggu pelampiasan.Seperti layaknya sepak bola, manusia ketika berpuasa dilatih bertanding total football.Kehidupan tidak melulu menyerang tetapi harus bersiap untuk bertahan seketika, maju dan mundur sama baiknya.Meski berposisi sebagai pemain bertahan juga mampu menjadi penyerang tengah yang tajam.Kemampuan fisik yang prima tiap-tiap individu diharuskan dan dituntut kemampuan menyerang dan bertahan yang sama bagusnya.Sensitif pada keadaan kiri-kanan kawan, dan siap sedia untuk pertukaran posisi di lapangan pertandingan.
Dan koordinasi antara Pelatih, Kapten Kesebelasan dan tiap-tiap Pemain dapat berjalan dengan baik. Menjadi team yang baik perlu adanya kemampuan individu dan kerjasama team.Team yang diisi oleh multi karakter tidak menjadi kendala bagi team, selama tiap-tiap individu menomor satukan kebersamaan.Puasa dapat menjadi metode latihan kebersamaan sosial bersama berbagai lapisan masyarakat.belajar memahami sepinya kaum marginal,Puasa tidak hanya menyangkut tidak makan dan tidak minum saja.Puasa berkaitan dengan seluruh mekanisme kehidupan, menyangkut seluruh kenikmatan dan penderitaan di dalamnya.
Yaa ayyuhalladzina amanu kutibu ‘alaikumushshiyaamu kama kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.As-siyaam memiliki padanan kata yakni shaum, seperti yang terjadi pada kata qaum yang padanan katanya adalah qiyam.Qiyam artinya berdiri, sementara qaum adalah orang yang berkumpul bersama-sama untuk bersepakat mendirikan sesuatu.Manusia-manusia yang berkumpul sangat mungkin melahirkan variasi selain qaum, yakni bisa menjadi ummat, masyarakat, maupun rakyat.
Ummat terjadi ketika orang-orang berkumpul karena ada alasan historis. Mereka berkumpul karena ada seperibuan nilai.Nilai itu bisa berupa iman, filosofi, kebudayaan, adat, dan apapun juga. Mereka berada in the same motherhood.Jadi dimungkinkan lahirnya ummat Harley Davidson,yg masing2 anggotanya brkumpul krena sama2 memiliki ibu nilai berupa kbanggaan memiliki HD.
Masyarakat adalah orang yang berkumpul karena menyepakati untuk mengerjakan suatu kesepakatan di mana suatu pekerjaan akan diserikatkan. Masyarakat memiliki makna yang lebih padat atau jasadi daripada ummat.
Kalau rakyat berasal dari ra’yah, yaitu orang-orang yang berkumpul karena sama-sama memiliki kedaulatan atas suatu wilayah dan urusan.Maka dipersyaratkan ada MoU yang kemudian diresmikan dalam konstitusi berupa negara.Rakyat adalah orang yang berkumpul dalam suatu perjanjian yang disebut negara di mana yang pegang kedaulatan adalah mereka.Rakyat tidak sama dengan masyarakat. Masyarakat bisa segmentatif, tapi kalau rakyat bersifat utuh.
Qaum adalah orang yang berkumpul karena suatu ciri. Cirinya boleh budaya, boleh gen, boleh apapun saja.Tapi kalau qiyam adalah orang yang berkumpul untuk menegakkan kekauman mereka. Lalu bagaimana dengan shaum dan shiyam?
“Terserah Anda apakah Ramadhan ini Anda pakai untuk shaum atau shiyam.Kalau untuk shaum, yang penting Anda mendapatkan nilai-nilai puasa secara universal,tapi kalau Ramadhan Anda pakai untuk pergerakan shiyam, maka Anda menyepakati ada satu prinsip2 nilai yang akan Anda tegakkan bersama2.Kalau bahasa Jawa memilih menggunakan shiyam dalam penyebutan puasa.
“Kembali ke puasa. Ramadhan ini Anda desain untuk menjadi nilai kebangkitan atau yang penting Anda mendapatkan hikmah universal?Terserah Anda akan menghimpun diri sebagai ummat manusia atau bangsa Indonesia atau ummat Islam /sebagai orang Jakarta, atau sebagai apapun.Itu pilihan Anda masing-masing. Tapi hari ini Anda harus punya pilihan mau shiyam/ shaum.Minimal kita dapat shaum,syukur2 dapat shiyam.”
Poin kedua, kama kutiba ‘alalladziina min qablikum. Puasa merupakan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islamnya Muhammad datang.Islam-Islam yang ada sebelumnya merupakan Islam yang belum lengkap. Allah menyebarkan ratusan ribu Nabi ... Di dalam Muhammad ada Ayub, ada Adam, ada Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Khidir, Isa, Yesus, Buddha dan siapa saja.dan dua puluh lima rasul kemudian dijadikan dalam satu tabung besar bernama Muhammad.Yang kita sebut Muhammad bin Abdullah ini adalah salah satu episode Muhammad yang berlangsung selama 63 tahun.Sedangkan alam semesta ini berlangsung selama beratus-ratus juta tahun dan Muhammad sudah ada sejak sebelum jagad raya diciptakan.“Maka benar kalau Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabbiul Awwal, tapi kalau maulidu Muhammad itu sudah tidak bisa kita hitung.Nur ciptaan Allah yang pertama itu dibikin sebelum Dia menciptakan apapun.Karena Dia bahagia terhadap ciptaan-Nya yang berupa nur ini, diberikannyalah gelar Muhammad.”“Nah, Muhammad ini besok-besok dicicil dalam Adam, Idris, Ayub, sampai Musa, Ibrahim, dan seterusnya,kemudian diaplikasikan secara biologis menjadi Muhammad putra Abdullah cucu Abdul Mutholib.Jadi pemahaman mengenai Muhammad jangan berhenti pada Islam melalui fiqh yang dikenal dan diperkenalkan oleh para ulama.Kalau selama ini ada maulidun Nabi, kita Maiyah akan bikin maulidunnur.”
Poin ketiga adalah la’alakum tattaqun. La’alakum selama ini diterjemahkan sebagai ‘dengan berpuasa mudah2an engkau menjadi bertaqwa.Allah memerintahkan hamba-Nya berpuasa dengan asumsi bahwa mereka sudah bertakwa.Kan kemarin sudah shalat, sudah zakat? Masa untuk bertakwa mesti menunggu Ramadhan?”La’alakum selama ini tidak membikin Indonesia mengalami kemajuan apapun selama berpuluh-puluh Ramadhan karena salah dalam penerjemahannya.Efeknya adalah anggapan bahwa setelah Ramadhan kita boleh tidak bertakwa lagi karena akan ada Ramadhan2 didepan untuk membuat kita bertakwa.“La’alakum" bukan berarti ‘supaya’. Kemudian, Sampeyan ini masuk Ramadhan rumangsane durung puasa? Anda kan sudah selalu puasa? Yang terus-menerus berbuka adalah parpol, dirjen, menteri-menteri, ketua partai. Anda kan tidak.
Saya pada Ramadhan lalu bertanya pada jamaah, semua orang mengaku telah bergembira masuk Ramadhan.Ngaku kamu yang jujur apakah seneng atau nggak disuruh berpuasa? Asline mangkel to, cuma nggak berani ngelawan? Aslinya kan nggak suka to? Kalau ada pengumuman dari Allah yang membebaskan kita dari keharusan berpuasa, pasti seneng to?”“Lho, tapi bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau kamu bahagia masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya.Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya.“Waktu Umar bin Khatab mencium Hajar Aswad kan Beliau juga ngomong gitu, ‘Kalau tidak karena Rasulullah menciummu, tidak akan aku menciummu.Tapi karena Rasulullah yang aku cintai dan aku imani menciummu,maka aku menciummu.Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu’.“Terus ada kiai-kiai yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa? Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja.”“Jadi, sekarang kalau Anda proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, Indonesia puasa sejak kapan? Orba, Orla, Reformasi? Reformasi ini lebih banyak buka atau puasanya? Atau buka banget untuk level ini, puasa banget untuk level itu.
Tolong diihitung semuanya. Anda dengan Ramadhan kesekian ini, akan ke mana? Maka kita butuh pause sebentar untuk tafakkur. “Kalau kita lebarkan dikit, Anda harus mengenali dirimu.Dalam rukun Islam, Anda orang dengan tipologi yang mana? Apakah syahadat, shalat, puasa, zakat, atau haji? Kecenderungan irama hidupmu, improvisasimu, ketahanan mental dan staminamu, itu berbeda-beda. Kalau kamu manusia puasa berlaku dengan budaya shalat, tidak kuat. Kamu harus menemukan dirimu. Saya tak perlu Ramadhan untuk belajar berpuasa. Anda harus menemukan puasamu sendiri.Manusia syahadat membutuhkan manusia shalat, zakat, puasa, haji. Mereka semua berfungsi.Di setiap kantor ada yang bagian syahadat thok, ada bagian sholat yang memelihara secara rutin dan istiqomah,ada bagian puasa yang mengontrol dengan menciptakan perundingan-perundingan, ada bagian zakat yang berinisiatif atas social contribution,ada bagian haji yg memastikan bahwa kelompok tersebut harus memiliki puncak-puncak prestasi. 5 jenis manusia ada di dalam setiap komunitas.
“Kalau mau bikin kabinet, hitung dengan lima tadi. Kalau Anda memakai itu saja, Tuhan sudah senang dan akan menolong kabinetmu.Tapi kalau kabinetmu disusun berdasarkan tawar-menawar antarkelompok dan keuangan, maka kamu tidak akan ditolong sampai kapanpun.Apalagi kamu presiden yang tidak punya otoritas. Kamu hanya punya sepuluh persen dari otoritasmu.Yang tiga puluh persen ada pada istrimu, yang enam puluh persen sisanya ada pada ibu mertuamu. Itulah power sharing.
“Memang bakatnya bangsa Indonesia itu puasa. Karena nggak tercapai hari raya yang sejati, maka ya yang penting mudik.Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah.setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman , pulang yang lebih jauh adalah ke sejarah yang lebih jauh, dan pulang yang paling sejati adalah kepada Allah.
Mudik adalah kesadaran untuk tauhid.Kita pikir kita akan bertakwa setelah puasa Ramadhan. Ternyata syarat berpuasa Ramadhan adalah takwa.Kalau kita masuk Ramadhan tanpa bekal takwa, tak akan kita dapatkan Idul Fitri.Kalau tujuan utama dalam Islam selalu baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Bangsa kita untuk mencapai Robbun ghofur butuh berapa langkah lagi? Untuk mencapai baldatun thoyyibatun berapa lama lagi? Tahap kita ini menuju sejahtera dulu. Padahal kalau sejahtera sudah ada, nanti muncul : apakah sejahtera ditempuh dengan baik atau tidak. Baldatun : sejahtera yang ditempuh setelah melalui ujian kebenaran. Tahap kita ini menuju sejahtera.Sjahtera sja blm,apalagi adil dlm kesejahteraan.Pdahal kalau sjahtera trcapai,blum diprsoalkan apakah sjahteranya didpatkan dgn benar/tidak.Baldatun thoyyibatun mensyaratkan kesejahteraan ditempuh dan dicapai di dalam ujian kebenaran.Kalau hanya negara sejahtera, gemah ripah loh jinawi, belum tentu thoyyibah.Baldatun thoyyibatun adalah ketika ekonomi diuji oleh akhlaq,oleh moral, oleh nilai2 dasar. Itupun belum cukup kalau belum wa Robbun ghofur.Benar seperti apapun masih terbuka untuk kekhilafan-kekhilafan, maka dimungkinkan adanya amandemen pada undang2 yg sudah disepakati bersama.
Puncak kebenaran kita adalah al Haqqu mirrobbika fa laataqunanna minal mumtarin.Agama memang diturunkan untuk membentuk karakter manusia, untuk bisa dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.Agama diturunkan bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk membentuk manusia.La’alakum tattaqun bukan berarti ‘supaya kamu bertakwa’, karena kalau kita kaji bahasa Arab, kata ‘supaya’ menggunakan kata lam al ghayyah.Kalau la’ala merupakan alat untuk mengajak dan mengharapkan sesuatu.
Nabi bersabda bahwa stiap hari Beliau hrus mndapatkan manfaat.Kalau tidak ada pningkatan kualitas diri,brarti hari telah brlalu tnpa berkah. Konsep dalam Islam merupakan konsep yang harus selalu naik kelas, maka ada konsep mi’raj.Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sembahyang adalah mi’raj orang beriman.Mi’raj sendiri artinya pendakian. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar. Begitu pula dengan puasa.Itulah yg menyebabkan kenapa la’alakum tattaqun mestinya kita pahami sbagai ssuatu yg mngantar manusia untuk brpuasa supaya bisa naik kelas.
Sebelas bulan sebelum Ramadhan adalah persiapan untuk memuncaki sampai pada Ramadhan. Kalau seperti ini, asumsinya sudah bertakwa.Hanya orang yang bertakwa yang bisa berpuasa dengan benar. Maka dalam puasa Allah sendiri mengatakan, ‘Puasa itu untukKu, dan hanya Aku yang memberikan balasan’.Puasa Ramadhan merupakan puncak, karena kalau kita tidak berpuasa sebelumnya, kita tidak mampu berpuasa pada Ramadhan.Ada puasa Senin-Kamis, ada puasa enam hari di bulan Syawal, yang merupakan latihan untuk bisa selalu naik kelas.“Islam itu sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran,”Di dalam Islam, inspirasi apapun sepanjang itu dapat mendukung moralitas kita, sesuatu itu mubah menurut hukum fiqh-nya.
Halal itu mestinya nggak dilabel karena sesuatu itu boleh kecuali yang dilarang. Yang diberi label itu mestinya yang dilarang.“Bulan puasa ini sesungguhnya memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun. Maka ada Idul Fitri, perayaan atas kesucian.Orang yang bertaqwa dan memuncaki dengan Ramadhan barulah kembali kepada kesucian.Mengubah diri menjadi manusia yang diinginkan Allah melalui puasa membutuhkan paling tidak satu tahun untuk bisa naik kelas.
Manusia Muhammad lahir ketika ia mampu menjadikan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajinya sebagai satu kesatuan utuh.Di dalam Alquran tidak ada ayat Ya ayyuhalladzina aslamu. Jadi kewajiban puasa untuk seluruh umat manusia. Perkara mereka tidak merasa,Tuhan tidak masalah dengan semua itu. Tuhan tidak tergantung sama kita, meskipun Dia rendah hati dengan manjadi Asy-Syakur.Kita yang butuh Tuhan karena kita ingin selamat dalam menjadi apa yang dimaksudkan Tuhan pada penciptaannya. Jokowi mukmin atau tidak? Bukan mulutmu yang menjadikan Allah cinta padamu, melainkan ketulusan hatimu.Kok bertengkar mengenai mukmin? Semua mukmin kok. Allah Mahakaya kok manusia memiskinkan diri.
Di dalam kekayaan itu tumbuh pohon yang bernama kegembiraan. Akarnya bernama keikhlasan. Kita trjemahkan Tuhan sebagai pemarah di Indonesia,pdahal kita marah itu kan krna mmiliki kpentingan&kpentingan itu terlukai oleh pihak lain. Sementara Tuhan tidak punya kepentingan apapun.Ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia marah, itu adalah kemesraan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya. Konsep Tuhan yang pemarah menimbulkan adanya anggapan bahwa orang berpuasa harus dihormati. Tapi tidak dengan Maiyah, yang berani mengatakan bahwa orang berpuasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain. Justru kita yang menghormati.
Masa Tuhan bikin Alquran hanya untuk org Islam?Hanya untuk MUI,NU,/ Muhammadiyah?Alquran untukmu semua,bahkan untuk pohon,daun dan semuanya. Bahkan gunung-gunung pun bisa berbicara andai saja kau bisa menangkap bahasanya.Jangan terlalu meregulasi hidupmu. Kamu itu ahsani taqwim. Kamu itu masterpiece-nya Tuhan. Kamu tidak perlu motivasi-motivasi. Saya kira manusia Indonesia akan mengagetkan manusia dunia pada waktunya.Karena dulu,mulai generasi ke-4 dari Nabi Adam ada Anwar dan Anwas. Anwas menurunkan Yahudi, Arab, dan Eropa. Anwar lahir dari campuran manusia, malaikat, dan iblis. Dari Anwar inilah lahir orang-orang Jawa. Anda itu begitu mudah menggabungkan iblis dan malaikat menjadi pengantin. Maka bukan hal aneh jika tiba2 menjadi Muslim semua kalau Ramadhan, bukan aneh jika kita mampu menipu orang di depan Ka’bah, dan seterusnya.
Andaikan kata mudik berasal dari bahasa Arab: dho'a=hilang, mudli'=orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang Lebaran, orang berduyun-duyun pulang dari perantauan ke kampungnya, karena selama setahun mereka merasa kehilangan. Kemudian, mereka mudik untuk menemukan kembali.Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau di negeri mana pun, kampungnya adalah rumah sejatinya. Saya punya banyak teman2 PKI /yg di-PKI-kan hidup puluhan tahun diJerman, Prancis,tapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih detail: di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka mengimpor istri dari kampung. Karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa seperti rumahnya di kampung.
Kalau agak sok ilmiah, katakanlah: ada mudik sosiologis, ada mudik antropologis, ada mudik kosmologis. Mudik sosiologis itu waktunya ''sekarang'', ruangnya adalah skala atau teritori sosial budaya. Kita cari hidup,mengembangkan diri,dari kampung bersekolah keluar,bekerja,sampai jadi presiden/gelandangan di tepian jalan protokol Jakarta. Di depan ada masa depan, di belakang ada masa silam. Masa silam sebenarnya selalu lebih kuat dibandingkan dengan masa depan. Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap orang. Kita jadi presiden kemudian memitologisasikan kepada seluruh rakyat bahwa asal usul kita adalah anak petani, sambil meyakin-yakinkan alias menipu diri kita sendiri tentang apa saja yang kita manipulasikan secara sosial. Atau kita rekayasa bahwa memang sudah selayaknya kita jadi presiden karena aslinya kita bernasab Keraton Solo atau Yogya, atau keturunan Prabu Brawijaya, Sunan Giri, atau turunan Rasulullah Muhammad SAW.
Pandangan ke masa silam sungguh kenikmatan tiada tara. Sementara masa depan berujung di maut. Kalau kita gagal berkarier, hidup miskin, tak punya keunggulan apa-apa, menabung kematian dalam kehidupan, mungkin malah agak enteng memandang ke masa depan. Maut sudah kita akrabi melalui riwayat-riwayat kesengsaraan dan kegagalan Tapi kalau kita sukses, dari sopir meningkat tata usaha meningkat wartawan terus jadi menteri dalam kabinet dan negara yang kita semakin takut meninggalkan apa yang kita sangka sukses hidup. Semakin uzur usia semakin menyesali berkurangnya umur. Semakin tua usia semakin karib dengan kekosongan dan kengerian berada dalam kubur. Maka upacara mudik kita prlukan agar para krabat&handai tolan dikampung mngerti sukses kita&itu mrupakan snack kepuasan sosial budaya sesaat
Orang tak pernah punya sukses kayak saya terbebas dari post-power syndrome. Tetapi bisa juga ada dialektika yang sebaliknya. Karena hidup tak begitu sukses, masa depan terjauh hanya tua dan mati, maka mumpung masih dikasih jatah hidup oleh Tuhan, mending kita rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu. Mudik sosiologis setiap Lebaran menjadi momentum yang jangan sampai terlewat. Karena masih lbih nikmat mngenang sejenak asal usul sosial budaya kita di kampung brsama keluarga,dibandingkan dgn mnikmati kehidupan nyata.
Orang sukses sangat membutuhkan mudik antropologis, karena melancong ke wilayah nasab diri dari Hayam Wuruk sampai Homo sapiens , dan mungkin Homo erectus sungguh menambah bersinarnya ikon eksistensi kita. Sekarang bahkan sangat banyak kartu ID yang mencantumkan nama plus gelar plus nenek moyang hebat. Kebanyakan orang akan mengenal nama itu dan kagum kepada pemilik ID-card itu. Gus Fullah bin Kiai Haji Fulan keturunan Syekh Falun bin Maulana Fulun bin Ayatullah Fulus..
mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan. Mudik Lebaran setahun sekali, tapi banyak modus mudik yang bisa kita lakukan.Saya tidak punya prestasi apa-apa tidaklah penting, pokoknya saya keturunan Nabi Ibrahim. Adapun mudik kosmologis adalah hakikat setiap detik untuk berproses dalam lingkar Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Orang tak bisa untuk tidak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali. Takkan ke mana-mana engkau pergi, meskipun kau lalui seribu peperangan dan kemenangan, kau libas setiap pesaing, kau menangkan pemilihan nasional, kau pertahankan kursi kekuasaan, kau memancar di puncak mercusuar popularitas,kau bangun segala kemegahan, kau tumpuk gumpalan emas dan kau himpun seribu dayang menjadi budak yang melayanimu memakaikan baju, menyikat gigimu dan menceboki tinjamu. Tak kan ke mana engkau pergi kecuali menyerahkan dirimu kembali, terpaksa atau ikhlas, kepada asal usul yang sejati. Juga apa pun saja yang kau pikir kau miliki: kekayaan, harta benda, kau tumpuk-tumpuk,... mereka hanya untuk satu tujuan: mereka meninggalkanmu atau engkau mendadak meninggalkan mereka, Kalau kau curi uang dan harta milyaran trilyunan itu untuk kau pergikan ke mana? Sebab setiap momentum pergi adalah kembali. Engkau mncuri ssuatu dari suatu tempat yg srtifikatnya milik Tuhan,engkau memindahkannya mentransfernya ke suatu tempat yg juga milik Tuhan. Stiap tempat pergi adalah tmpat kembali. Setiap barang yg kau curi tidak punya jalan lain kecuali kau setorkan kembali ke "TukangTadahAgung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali milik-Nya sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguh-sungguhnya kita dan apa saja adalah adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya. Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa untuk saham rencana kelahiranmu.
Jangan sekadar katakan bahwa kekuasaan hanyalah titipan: dirimu sendiri pun titipan. Krena engkau tak mmpu menciptakan dirimu sndiri.Bahkan kedua orangtuamu tak bisa mrancang pnjang hidungmu,aplgi tingkat kcerdasan pikiranmu. Tak ada kemenangan yang sejati engkau raih. Karena setelah seorang petinju menjatuhkan lawan, tunggu sejam lagi dan pertarungkan mereka kembali: kemungkinannya bisa berbeda. Kemenangan berlaku sesaat, dan batal substansinya pada detik berikutnya. Indonesia menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih presiden langsung dengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan kedamaian pemilu. Tetapi apa hasil dari puncak demokrasi itu hari ini? Bertanyalah kepada hati dan analisis akalmu, mintalah mereka berdua agar tak terkontaminasi oleh apa pun untuk jujur menjawab. Budaya keagamaan islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan konsum warna-warni mewah meriah kita pajang. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan ramadhan, atau untuk pemirsa?
Kita ber-husnudhan bahwa kita ini semua sangat mencintai&menghormati Allah. Hanya saja,seakan2 hanya pada bulan ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada bulan ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli seakan-akan hanya didepan kamera saja kita menghormati Allah. Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.
Puasa Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yg ditentukan,seperti disebutkan al-Qur’an. &waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu. Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya. Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.
Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan.Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.
Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah. Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal&personal yg tidak menjanjikan kesejatian&keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah. Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan2 dunia–tak lagi untuk disembahnya. atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.
Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa? Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dgan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk,memiliki rumus dan formulanya sendiri2. Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa– sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi.
Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi,pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sbg perjalanan deindividualisasi brarti menyadari&mengupayakan proses untuk larut menjadi 1 / lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.
Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.
Proses dematerialisasi,proses ruhanisasi / proses transformasi menuju (bergabung,menjadi) Allah,mminta hal2 trtentu ditanggalkan&ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru. Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.
Pada ‘citra’waktu,dematerialisasi, peruhanian,deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu. Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yg individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial(tawhid basyariyyah),ia mencair,melembut.Yg ananiyyah itutemporer&berakhir,yg tauhid basyariyah itu baqa’&tak berakhir. Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal. Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.
Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan,negara, sistem,organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.
Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total. Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi- Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia. Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’ kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan2 aliran,sekte,kelompok, mazhab atau organisasi agama.
Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa.
Kita menghormati ramadhan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci ramadhan. Mungkin karena ramadhan ini memang khas. Ramadhan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhususan. Padanya al-quran diturunkan,& Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yg 1 ini khusus untukNya. Apakah bulan yang selain ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yg sukses mencapai kesucian atau kefitriannya kembali?
Apakah kalau Ramadhan berlalu, anda masih ingat Puasa ?Apakah kita telah berpuasa? Pertanyaan ini sering mengusik kalbu insan berpuasa.Ketiadaan tahu pelaku puasa dikarenakan puasa adalah ibadah yang tergolong private langsung kepada Sang Khalik.
Tak ada garansi maupun indikator diterimanya karena mutlak hak preogatif-Nya.Ibarat perlombaan lari yang tercepat belum tentu bebas dari diskualifikasi sang juri dan pemenangnya tak pernah diumumkan.
Puasa adalah sunyi dan hening.Ironi di negeri yang diklaim sebagai pejalan puasa terbesar di muka bumi, ibadah yang harusnya individual, sunyi dan hening berubah menjadi kerumunan yang penuh gegap gempita mengundang perhatian khalayak ramai.Tak peduli Ramadhan jatuh di Januari, Agustus / Desember,musim hujan/musim kemarau,kemeriahan puasa selalu trjadi di sgala geliat kehidupan.Pasar-pasar makin ramai transaksi, masjid/mushola/langgar/surau mendadak ramai pada lima waktu penuh isi, ucapan selamat dan hormati bulan puasa dalam berbagai bentuk poster spanduk/baliho/umbul-umbul menghiasi pelosok negeri,tokoh dan pemuka dari berbagai golongan pun bergantian menghiasi layar televisi sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat puasa,brbuka puasa yg hikmad brubah mnjdi upacara penuh riuh tawa ceria,bhkan suasana sahur pun disulap mnjadi kmeriahan dlm brbagai kreasi event.
Jika pemilu dan pemilukada ditandai dengan minimnya tingkat kepedulian, namun Ramadhan di negeri ini tingkat partisipasi sangat tinggi.
Tren busana menyesuaikan dengan kesantunan, presenter dan tokoh segala keyakinan larut dalam busana tahunan ini.Industri pun rela membanting core bussines nya demi mengeruk laba tinggi dengan menumpang semangat bunglon sesaat.
Dimensi ketakwaan sebagai target utama puasa seakan tak pernah terdefinisi dengan paripurna.Namun puasa bagi golongan yang benar-benar berpuasa adalah sebuah proses panjang penantian.
Jika kita terbiasa memutar kaset, puasa laksana menghentikan sesaat untuk kemudian diputar kembali atau identik dengan istilah pause? Entah karena kebetulan atau ada keterkaitan “PUASA” dan “PAUSE” seakan mempunyai kemiripan makna.Setahun membutuhkan jeda sebulan untuk merehatkan sistem metabolisme tubuh.Jika sebelas bulan adalah laksana jadwal padat sepakbola maka puasa adalah jeda musim kompetisi untuk mengistirahatkan para pemainnya.Waktu yang tepat untuk refleksi kemudian mempersiapkan diri memasuki sebelas bulan berikutnya.Sehingga insan yang berpuasa seakan seperti terlahir kembali (fitri) usai keluar dari pemusatan latihan.Latihan membutuhkan persiapan yang serius yang disimbolkan dengan keberadaan sahur.
Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."Namun anehnya suasana sahur tenggelam dengan prosesi berbuka yang tak jarang terasa berlebih-lebihan.Hidangan sahur bermenukan ala kadarnya, bahkan seringkali adalah sisa semalam.Tak salah jika muncul anggapan manusia berpuasa sekedar menyiapkan untuk berbuka bukan menyiapkan diri untuk berpuasa.
Dalam konteks yang lebih luas berpuasa hanya sekedar menyongsong idul fitri, atau saat menunggu untuk kembali melampiaskan.Makna pause sebagai jeda refleksi dan pemusatan latihan kemudian diremehkan hanya sekedar waktu tunggu pelampiasan.Seperti layaknya sepak bola, manusia ketika berpuasa dilatih bertanding total football.Kehidupan tidak melulu menyerang tetapi harus bersiap untuk bertahan seketika, maju dan mundur sama baiknya.Meski berposisi sebagai pemain bertahan juga mampu menjadi penyerang tengah yang tajam.Kemampuan fisik yang prima tiap-tiap individu diharuskan dan dituntut kemampuan menyerang dan bertahan yang sama bagusnya.Sensitif pada keadaan kiri-kanan kawan, dan siap sedia untuk pertukaran posisi di lapangan pertandingan.
Dan koordinasi antara Pelatih, Kapten Kesebelasan dan tiap-tiap Pemain dapat berjalan dengan baik. Menjadi team yang baik perlu adanya kemampuan individu dan kerjasama team.Team yang diisi oleh multi karakter tidak menjadi kendala bagi team, selama tiap-tiap individu menomor satukan kebersamaan.Puasa dapat menjadi metode latihan kebersamaan sosial bersama berbagai lapisan masyarakat.belajar memahami sepinya kaum marginal,Puasa tidak hanya menyangkut tidak makan dan tidak minum saja.Puasa berkaitan dengan seluruh mekanisme kehidupan, menyangkut seluruh kenikmatan dan penderitaan di dalamnya.
Yaa ayyuhalladzina amanu kutibu ‘alaikumushshiyaamu kama kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.As-siyaam memiliki padanan kata yakni shaum, seperti yang terjadi pada kata qaum yang padanan katanya adalah qiyam.Qiyam artinya berdiri, sementara qaum adalah orang yang berkumpul bersama-sama untuk bersepakat mendirikan sesuatu.Manusia-manusia yang berkumpul sangat mungkin melahirkan variasi selain qaum, yakni bisa menjadi ummat, masyarakat, maupun rakyat.
Ummat terjadi ketika orang-orang berkumpul karena ada alasan historis. Mereka berkumpul karena ada seperibuan nilai.Nilai itu bisa berupa iman, filosofi, kebudayaan, adat, dan apapun juga. Mereka berada in the same motherhood.Jadi dimungkinkan lahirnya ummat Harley Davidson,yg masing2 anggotanya brkumpul krena sama2 memiliki ibu nilai berupa kbanggaan memiliki HD.
Masyarakat adalah orang yang berkumpul karena menyepakati untuk mengerjakan suatu kesepakatan di mana suatu pekerjaan akan diserikatkan. Masyarakat memiliki makna yang lebih padat atau jasadi daripada ummat.
Kalau rakyat berasal dari ra’yah, yaitu orang-orang yang berkumpul karena sama-sama memiliki kedaulatan atas suatu wilayah dan urusan.Maka dipersyaratkan ada MoU yang kemudian diresmikan dalam konstitusi berupa negara.Rakyat adalah orang yang berkumpul dalam suatu perjanjian yang disebut negara di mana yang pegang kedaulatan adalah mereka.Rakyat tidak sama dengan masyarakat. Masyarakat bisa segmentatif, tapi kalau rakyat bersifat utuh.
Qaum adalah orang yang berkumpul karena suatu ciri. Cirinya boleh budaya, boleh gen, boleh apapun saja.Tapi kalau qiyam adalah orang yang berkumpul untuk menegakkan kekauman mereka. Lalu bagaimana dengan shaum dan shiyam?
“Terserah Anda apakah Ramadhan ini Anda pakai untuk shaum atau shiyam.Kalau untuk shaum, yang penting Anda mendapatkan nilai-nilai puasa secara universal,tapi kalau Ramadhan Anda pakai untuk pergerakan shiyam, maka Anda menyepakati ada satu prinsip2 nilai yang akan Anda tegakkan bersama2.Kalau bahasa Jawa memilih menggunakan shiyam dalam penyebutan puasa.
“Kembali ke puasa. Ramadhan ini Anda desain untuk menjadi nilai kebangkitan atau yang penting Anda mendapatkan hikmah universal?Terserah Anda akan menghimpun diri sebagai ummat manusia atau bangsa Indonesia atau ummat Islam /sebagai orang Jakarta, atau sebagai apapun.Itu pilihan Anda masing-masing. Tapi hari ini Anda harus punya pilihan mau shiyam/ shaum.Minimal kita dapat shaum,syukur2 dapat shiyam.”
Poin kedua, kama kutiba ‘alalladziina min qablikum. Puasa merupakan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islamnya Muhammad datang.Islam-Islam yang ada sebelumnya merupakan Islam yang belum lengkap. Allah menyebarkan ratusan ribu Nabi ... Di dalam Muhammad ada Ayub, ada Adam, ada Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Khidir, Isa, Yesus, Buddha dan siapa saja.dan dua puluh lima rasul kemudian dijadikan dalam satu tabung besar bernama Muhammad.Yang kita sebut Muhammad bin Abdullah ini adalah salah satu episode Muhammad yang berlangsung selama 63 tahun.Sedangkan alam semesta ini berlangsung selama beratus-ratus juta tahun dan Muhammad sudah ada sejak sebelum jagad raya diciptakan.“Maka benar kalau Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabbiul Awwal, tapi kalau maulidu Muhammad itu sudah tidak bisa kita hitung.Nur ciptaan Allah yang pertama itu dibikin sebelum Dia menciptakan apapun.Karena Dia bahagia terhadap ciptaan-Nya yang berupa nur ini, diberikannyalah gelar Muhammad.”“Nah, Muhammad ini besok-besok dicicil dalam Adam, Idris, Ayub, sampai Musa, Ibrahim, dan seterusnya,kemudian diaplikasikan secara biologis menjadi Muhammad putra Abdullah cucu Abdul Mutholib.Jadi pemahaman mengenai Muhammad jangan berhenti pada Islam melalui fiqh yang dikenal dan diperkenalkan oleh para ulama.Kalau selama ini ada maulidun Nabi, kita Maiyah akan bikin maulidunnur.”
Poin ketiga adalah la’alakum tattaqun. La’alakum selama ini diterjemahkan sebagai ‘dengan berpuasa mudah2an engkau menjadi bertaqwa.Allah memerintahkan hamba-Nya berpuasa dengan asumsi bahwa mereka sudah bertakwa.Kan kemarin sudah shalat, sudah zakat? Masa untuk bertakwa mesti menunggu Ramadhan?”La’alakum selama ini tidak membikin Indonesia mengalami kemajuan apapun selama berpuluh-puluh Ramadhan karena salah dalam penerjemahannya.Efeknya adalah anggapan bahwa setelah Ramadhan kita boleh tidak bertakwa lagi karena akan ada Ramadhan2 didepan untuk membuat kita bertakwa.“La’alakum" bukan berarti ‘supaya’. Kemudian, Sampeyan ini masuk Ramadhan rumangsane durung puasa? Anda kan sudah selalu puasa? Yang terus-menerus berbuka adalah parpol, dirjen, menteri-menteri, ketua partai. Anda kan tidak.
Saya pada Ramadhan lalu bertanya pada jamaah, semua orang mengaku telah bergembira masuk Ramadhan.Ngaku kamu yang jujur apakah seneng atau nggak disuruh berpuasa? Asline mangkel to, cuma nggak berani ngelawan? Aslinya kan nggak suka to? Kalau ada pengumuman dari Allah yang membebaskan kita dari keharusan berpuasa, pasti seneng to?”“Lho, tapi bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau kamu bahagia masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya.Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya.“Waktu Umar bin Khatab mencium Hajar Aswad kan Beliau juga ngomong gitu, ‘Kalau tidak karena Rasulullah menciummu, tidak akan aku menciummu.Tapi karena Rasulullah yang aku cintai dan aku imani menciummu,maka aku menciummu.Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu’.“Terus ada kiai-kiai yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa? Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja.”“Jadi, sekarang kalau Anda proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, Indonesia puasa sejak kapan? Orba, Orla, Reformasi? Reformasi ini lebih banyak buka atau puasanya? Atau buka banget untuk level ini, puasa banget untuk level itu.
Tolong diihitung semuanya. Anda dengan Ramadhan kesekian ini, akan ke mana? Maka kita butuh pause sebentar untuk tafakkur. “Kalau kita lebarkan dikit, Anda harus mengenali dirimu.Dalam rukun Islam, Anda orang dengan tipologi yang mana? Apakah syahadat, shalat, puasa, zakat, atau haji? Kecenderungan irama hidupmu, improvisasimu, ketahanan mental dan staminamu, itu berbeda-beda. Kalau kamu manusia puasa berlaku dengan budaya shalat, tidak kuat. Kamu harus menemukan dirimu. Saya tak perlu Ramadhan untuk belajar berpuasa. Anda harus menemukan puasamu sendiri.Manusia syahadat membutuhkan manusia shalat, zakat, puasa, haji. Mereka semua berfungsi.Di setiap kantor ada yang bagian syahadat thok, ada bagian sholat yang memelihara secara rutin dan istiqomah,ada bagian puasa yang mengontrol dengan menciptakan perundingan-perundingan, ada bagian zakat yang berinisiatif atas social contribution,ada bagian haji yg memastikan bahwa kelompok tersebut harus memiliki puncak-puncak prestasi. 5 jenis manusia ada di dalam setiap komunitas.
“Kalau mau bikin kabinet, hitung dengan lima tadi. Kalau Anda memakai itu saja, Tuhan sudah senang dan akan menolong kabinetmu.Tapi kalau kabinetmu disusun berdasarkan tawar-menawar antarkelompok dan keuangan, maka kamu tidak akan ditolong sampai kapanpun.Apalagi kamu presiden yang tidak punya otoritas. Kamu hanya punya sepuluh persen dari otoritasmu.Yang tiga puluh persen ada pada istrimu, yang enam puluh persen sisanya ada pada ibu mertuamu. Itulah power sharing.
“Memang bakatnya bangsa Indonesia itu puasa. Karena nggak tercapai hari raya yang sejati, maka ya yang penting mudik.Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah.setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman , pulang yang lebih jauh adalah ke sejarah yang lebih jauh, dan pulang yang paling sejati adalah kepada Allah.
Mudik adalah kesadaran untuk tauhid.Kita pikir kita akan bertakwa setelah puasa Ramadhan. Ternyata syarat berpuasa Ramadhan adalah takwa.Kalau kita masuk Ramadhan tanpa bekal takwa, tak akan kita dapatkan Idul Fitri.Kalau tujuan utama dalam Islam selalu baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Bangsa kita untuk mencapai Robbun ghofur butuh berapa langkah lagi? Untuk mencapai baldatun thoyyibatun berapa lama lagi? Tahap kita ini menuju sejahtera dulu. Padahal kalau sejahtera sudah ada, nanti muncul : apakah sejahtera ditempuh dengan baik atau tidak. Baldatun : sejahtera yang ditempuh setelah melalui ujian kebenaran. Tahap kita ini menuju sejahtera.Sjahtera sja blm,apalagi adil dlm kesejahteraan.Pdahal kalau sjahtera trcapai,blum diprsoalkan apakah sjahteranya didpatkan dgn benar/tidak.Baldatun thoyyibatun mensyaratkan kesejahteraan ditempuh dan dicapai di dalam ujian kebenaran.Kalau hanya negara sejahtera, gemah ripah loh jinawi, belum tentu thoyyibah.Baldatun thoyyibatun adalah ketika ekonomi diuji oleh akhlaq,oleh moral, oleh nilai2 dasar. Itupun belum cukup kalau belum wa Robbun ghofur.Benar seperti apapun masih terbuka untuk kekhilafan-kekhilafan, maka dimungkinkan adanya amandemen pada undang2 yg sudah disepakati bersama.
Puncak kebenaran kita adalah al Haqqu mirrobbika fa laataqunanna minal mumtarin.Agama memang diturunkan untuk membentuk karakter manusia, untuk bisa dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.Agama diturunkan bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk membentuk manusia.La’alakum tattaqun bukan berarti ‘supaya kamu bertakwa’, karena kalau kita kaji bahasa Arab, kata ‘supaya’ menggunakan kata lam al ghayyah.Kalau la’ala merupakan alat untuk mengajak dan mengharapkan sesuatu.
Nabi bersabda bahwa stiap hari Beliau hrus mndapatkan manfaat.Kalau tidak ada pningkatan kualitas diri,brarti hari telah brlalu tnpa berkah. Konsep dalam Islam merupakan konsep yang harus selalu naik kelas, maka ada konsep mi’raj.Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sembahyang adalah mi’raj orang beriman.Mi’raj sendiri artinya pendakian. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar. Begitu pula dengan puasa.Itulah yg menyebabkan kenapa la’alakum tattaqun mestinya kita pahami sbagai ssuatu yg mngantar manusia untuk brpuasa supaya bisa naik kelas.
Sebelas bulan sebelum Ramadhan adalah persiapan untuk memuncaki sampai pada Ramadhan. Kalau seperti ini, asumsinya sudah bertakwa.Hanya orang yang bertakwa yang bisa berpuasa dengan benar. Maka dalam puasa Allah sendiri mengatakan, ‘Puasa itu untukKu, dan hanya Aku yang memberikan balasan’.Puasa Ramadhan merupakan puncak, karena kalau kita tidak berpuasa sebelumnya, kita tidak mampu berpuasa pada Ramadhan.Ada puasa Senin-Kamis, ada puasa enam hari di bulan Syawal, yang merupakan latihan untuk bisa selalu naik kelas.“Islam itu sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran,”Di dalam Islam, inspirasi apapun sepanjang itu dapat mendukung moralitas kita, sesuatu itu mubah menurut hukum fiqh-nya.
Halal itu mestinya nggak dilabel karena sesuatu itu boleh kecuali yang dilarang. Yang diberi label itu mestinya yang dilarang.“Bulan puasa ini sesungguhnya memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun. Maka ada Idul Fitri, perayaan atas kesucian.Orang yang bertaqwa dan memuncaki dengan Ramadhan barulah kembali kepada kesucian.Mengubah diri menjadi manusia yang diinginkan Allah melalui puasa membutuhkan paling tidak satu tahun untuk bisa naik kelas.
Manusia Muhammad lahir ketika ia mampu menjadikan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajinya sebagai satu kesatuan utuh.Di dalam Alquran tidak ada ayat Ya ayyuhalladzina aslamu. Jadi kewajiban puasa untuk seluruh umat manusia. Perkara mereka tidak merasa,Tuhan tidak masalah dengan semua itu. Tuhan tidak tergantung sama kita, meskipun Dia rendah hati dengan manjadi Asy-Syakur.Kita yang butuh Tuhan karena kita ingin selamat dalam menjadi apa yang dimaksudkan Tuhan pada penciptaannya. Jokowi mukmin atau tidak? Bukan mulutmu yang menjadikan Allah cinta padamu, melainkan ketulusan hatimu.Kok bertengkar mengenai mukmin? Semua mukmin kok. Allah Mahakaya kok manusia memiskinkan diri.
Di dalam kekayaan itu tumbuh pohon yang bernama kegembiraan. Akarnya bernama keikhlasan. Kita trjemahkan Tuhan sebagai pemarah di Indonesia,pdahal kita marah itu kan krna mmiliki kpentingan&kpentingan itu terlukai oleh pihak lain. Sementara Tuhan tidak punya kepentingan apapun.Ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia marah, itu adalah kemesraan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya. Konsep Tuhan yang pemarah menimbulkan adanya anggapan bahwa orang berpuasa harus dihormati. Tapi tidak dengan Maiyah, yang berani mengatakan bahwa orang berpuasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain. Justru kita yang menghormati.
Masa Tuhan bikin Alquran hanya untuk org Islam?Hanya untuk MUI,NU,/ Muhammadiyah?Alquran untukmu semua,bahkan untuk pohon,daun dan semuanya. Bahkan gunung-gunung pun bisa berbicara andai saja kau bisa menangkap bahasanya.Jangan terlalu meregulasi hidupmu. Kamu itu ahsani taqwim. Kamu itu masterpiece-nya Tuhan. Kamu tidak perlu motivasi-motivasi. Saya kira manusia Indonesia akan mengagetkan manusia dunia pada waktunya.Karena dulu,mulai generasi ke-4 dari Nabi Adam ada Anwar dan Anwas. Anwas menurunkan Yahudi, Arab, dan Eropa. Anwar lahir dari campuran manusia, malaikat, dan iblis. Dari Anwar inilah lahir orang-orang Jawa. Anda itu begitu mudah menggabungkan iblis dan malaikat menjadi pengantin. Maka bukan hal aneh jika tiba2 menjadi Muslim semua kalau Ramadhan, bukan aneh jika kita mampu menipu orang di depan Ka’bah, dan seterusnya.
Andaikan kata mudik berasal dari bahasa Arab: dho'a=hilang, mudli'=orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang Lebaran, orang berduyun-duyun pulang dari perantauan ke kampungnya, karena selama setahun mereka merasa kehilangan. Kemudian, mereka mudik untuk menemukan kembali.Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau di negeri mana pun, kampungnya adalah rumah sejatinya. Saya punya banyak teman2 PKI /yg di-PKI-kan hidup puluhan tahun diJerman, Prancis,tapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih detail: di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka mengimpor istri dari kampung. Karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa seperti rumahnya di kampung.
Kalau agak sok ilmiah, katakanlah: ada mudik sosiologis, ada mudik antropologis, ada mudik kosmologis. Mudik sosiologis itu waktunya ''sekarang'', ruangnya adalah skala atau teritori sosial budaya. Kita cari hidup,mengembangkan diri,dari kampung bersekolah keluar,bekerja,sampai jadi presiden/gelandangan di tepian jalan protokol Jakarta. Di depan ada masa depan, di belakang ada masa silam. Masa silam sebenarnya selalu lebih kuat dibandingkan dengan masa depan. Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap orang. Kita jadi presiden kemudian memitologisasikan kepada seluruh rakyat bahwa asal usul kita adalah anak petani, sambil meyakin-yakinkan alias menipu diri kita sendiri tentang apa saja yang kita manipulasikan secara sosial. Atau kita rekayasa bahwa memang sudah selayaknya kita jadi presiden karena aslinya kita bernasab Keraton Solo atau Yogya, atau keturunan Prabu Brawijaya, Sunan Giri, atau turunan Rasulullah Muhammad SAW.
Pandangan ke masa silam sungguh kenikmatan tiada tara. Sementara masa depan berujung di maut. Kalau kita gagal berkarier, hidup miskin, tak punya keunggulan apa-apa, menabung kematian dalam kehidupan, mungkin malah agak enteng memandang ke masa depan. Maut sudah kita akrabi melalui riwayat-riwayat kesengsaraan dan kegagalan Tapi kalau kita sukses, dari sopir meningkat tata usaha meningkat wartawan terus jadi menteri dalam kabinet dan negara yang kita semakin takut meninggalkan apa yang kita sangka sukses hidup. Semakin uzur usia semakin menyesali berkurangnya umur. Semakin tua usia semakin karib dengan kekosongan dan kengerian berada dalam kubur. Maka upacara mudik kita prlukan agar para krabat&handai tolan dikampung mngerti sukses kita&itu mrupakan snack kepuasan sosial budaya sesaat
Orang tak pernah punya sukses kayak saya terbebas dari post-power syndrome. Tetapi bisa juga ada dialektika yang sebaliknya. Karena hidup tak begitu sukses, masa depan terjauh hanya tua dan mati, maka mumpung masih dikasih jatah hidup oleh Tuhan, mending kita rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu. Mudik sosiologis setiap Lebaran menjadi momentum yang jangan sampai terlewat. Karena masih lbih nikmat mngenang sejenak asal usul sosial budaya kita di kampung brsama keluarga,dibandingkan dgn mnikmati kehidupan nyata.
Orang sukses sangat membutuhkan mudik antropologis, karena melancong ke wilayah nasab diri dari Hayam Wuruk sampai Homo sapiens , dan mungkin Homo erectus sungguh menambah bersinarnya ikon eksistensi kita. Sekarang bahkan sangat banyak kartu ID yang mencantumkan nama plus gelar plus nenek moyang hebat. Kebanyakan orang akan mengenal nama itu dan kagum kepada pemilik ID-card itu. Gus Fullah bin Kiai Haji Fulan keturunan Syekh Falun bin Maulana Fulun bin Ayatullah Fulus..
mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan. Mudik Lebaran setahun sekali, tapi banyak modus mudik yang bisa kita lakukan.Saya tidak punya prestasi apa-apa tidaklah penting, pokoknya saya keturunan Nabi Ibrahim. Adapun mudik kosmologis adalah hakikat setiap detik untuk berproses dalam lingkar Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Orang tak bisa untuk tidak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali. Takkan ke mana-mana engkau pergi, meskipun kau lalui seribu peperangan dan kemenangan, kau libas setiap pesaing, kau menangkan pemilihan nasional, kau pertahankan kursi kekuasaan, kau memancar di puncak mercusuar popularitas,kau bangun segala kemegahan, kau tumpuk gumpalan emas dan kau himpun seribu dayang menjadi budak yang melayanimu memakaikan baju, menyikat gigimu dan menceboki tinjamu. Tak kan ke mana engkau pergi kecuali menyerahkan dirimu kembali, terpaksa atau ikhlas, kepada asal usul yang sejati. Juga apa pun saja yang kau pikir kau miliki: kekayaan, harta benda, kau tumpuk-tumpuk,... mereka hanya untuk satu tujuan: mereka meninggalkanmu atau engkau mendadak meninggalkan mereka, Kalau kau curi uang dan harta milyaran trilyunan itu untuk kau pergikan ke mana? Sebab setiap momentum pergi adalah kembali. Engkau mncuri ssuatu dari suatu tempat yg srtifikatnya milik Tuhan,engkau memindahkannya mentransfernya ke suatu tempat yg juga milik Tuhan. Stiap tempat pergi adalah tmpat kembali. Setiap barang yg kau curi tidak punya jalan lain kecuali kau setorkan kembali ke "TukangTadahAgung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali milik-Nya sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguh-sungguhnya kita dan apa saja adalah adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya. Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa untuk saham rencana kelahiranmu.
Jangan sekadar katakan bahwa kekuasaan hanyalah titipan: dirimu sendiri pun titipan. Krena engkau tak mmpu menciptakan dirimu sndiri.Bahkan kedua orangtuamu tak bisa mrancang pnjang hidungmu,aplgi tingkat kcerdasan pikiranmu. Tak ada kemenangan yang sejati engkau raih. Karena setelah seorang petinju menjatuhkan lawan, tunggu sejam lagi dan pertarungkan mereka kembali: kemungkinannya bisa berbeda. Kemenangan berlaku sesaat, dan batal substansinya pada detik berikutnya. Indonesia menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih presiden langsung dengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan kedamaian pemilu. Tetapi apa hasil dari puncak demokrasi itu hari ini? Bertanyalah kepada hati dan analisis akalmu, mintalah mereka berdua agar tak terkontaminasi oleh apa pun untuk jujur menjawab. Budaya keagamaan islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan konsum warna-warni mewah meriah kita pajang. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan ramadhan, atau untuk pemirsa?
Kita ber-husnudhan bahwa kita ini semua sangat mencintai&menghormati Allah. Hanya saja,seakan2 hanya pada bulan ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada bulan ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli seakan-akan hanya didepan kamera saja kita menghormati Allah. Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.
Puasa Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yg ditentukan,seperti disebutkan al-Qur’an. &waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu. Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya. Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.
Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan.Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.
Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah. Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal&personal yg tidak menjanjikan kesejatian&keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah. Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan2 dunia–tak lagi untuk disembahnya. atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.
Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa? Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dgan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk,memiliki rumus dan formulanya sendiri2. Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa– sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi.
Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi,pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sbg perjalanan deindividualisasi brarti menyadari&mengupayakan proses untuk larut menjadi 1 / lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.
Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.
Proses dematerialisasi,proses ruhanisasi / proses transformasi menuju (bergabung,menjadi) Allah,mminta hal2 trtentu ditanggalkan&ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru. Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.
Pada ‘citra’waktu,dematerialisasi, peruhanian,deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu. Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yg individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial(tawhid basyariyyah),ia mencair,melembut.Yg ananiyyah itutemporer&berakhir,yg tauhid basyariyah itu baqa’&tak berakhir. Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal. Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.
Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan,negara, sistem,organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.
Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total. Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi- Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia. Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’ kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan2 aliran,sekte,kelompok, mazhab atau organisasi agama.
Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa.
Kita menghormati ramadhan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci ramadhan. Mungkin karena ramadhan ini memang khas. Ramadhan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhususan. Padanya al-quran diturunkan,& Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yg 1 ini khusus untukNya. Apakah bulan yang selain ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yg sukses mencapai kesucian atau kefitriannya kembali?
Apakah ada bulan yang tidak suci? Apakah ada tahun, hari, jam, menit, detik, second atau waktu ciptaan Allah yang tidak suci? Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian?.
bersambung .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar