Minggu, 30 Juni 2013

Shohibu Baiti


“Hilangkan semua kecuali Tuan Rumah Dirimu sendiri… ” (EAN)
Pertama aku galau, kedua aku terpuruk, bagaimana tidak bila beberapa sahabat perlahan pergi meninggalkan kita , kemudian orang yg kita cintai tiba tiba memutuskan pergi juga , dari fitnah , cibiran , cacian ,pun mengkhianatan ku dapati semua,  ketiga aku tidak tahu apa arti perjalanan hidup sampai merantau di kota orang  ini. Aku sadar aku sedang bekerja,  entah bekerja dalam arti sesempit2nya atau seluas2nya, sungguh aku sadar, aku sedang bekerja mencari nafkah untuk diri dan keluarga. Namun, tetap saja ada masa, seperti malam ini, dimana segala motivasi tidak lagi berarti… yang ada hanya mempertanyakan, is this what I really want?
Lalu aku mencoba mencari kedamaian, beberapa cara kucoba untuk bertemu dengan damai malam ini, melihat ke sekitar & berkumpul , nongkrong dan ngopi bareng  teman-teman… aku tidak temukan damai itu, malah semakin menguap, entah mengapa. Pun aku cari damai yang lain, dengan melupakan apa itu damai dan tenggelam ditumpukan pekerjaan kantor yang sudah menunggu esok pagi, semakin rasanya terpenjara. manusiawiku tidak lepas, egoku tidak terbebas.
Aku sudah terlanjur percaya, pada kota ini ,yang memanusiakan manusia dan ada yang sebaliknya, dan saat ini aku merasa kota ini tidak memanusiakan kemanusiaanku lagi . Aku merasa terkungkung dalam ritual-ritual keseharian. terpenjara dalam rutinitas kapital , Akhirnya (sepertinya ini bukan yang pertama), ak sampai lagi ke taraf mempertanyakan sesungguhnya apa yang aku cari, apa atau bagaimana yang aku mau, kenapa jiwa ini rasanya kosong? semua yang aku dapat ,aku pelajari, aku baca dan pahami disini mungkin terlihat hebat, jika di bandingkan dengan teman2 ku yg kurang beruntung alias masih nganggur atau yang lebih parahnya lagi yang masih menyusu pada orang tua mereka , setidak nya aku tidak seperti itu , aku mampu hidup mandiri, dan tidak lagi menyusu pada orang tua ,harusnya aku bersyukur dengan yg aku dapati sekarang ini .tetapi kenapa sering aku berpikir tentang pertanyaan2 yg sangat dasar itu , untuk apa aku di sini, apa yang aku cari di sini  untuk mencari apa dan kenapa ...? apakah untuk masa depan? masa depan apa ? yang mana?  dan bagaimana? apakah untuk aku sendiri? kalau iya, kok ya egois banget rasanya. Ironisnya, i kinda start over my life orientation, aku tidak tahu akhirnya aku akan jadi apa… oh, TUHAN 
Beruntung, mouse komputer tergerak untuk klik link maiyah di youtube… kali ini tentang ilmu diri, nilai ajaran sufi, dan benar saja, damai itu perlahan datang, hehe rupanya ini sumber galauku, aku rindu, rindu siraman untuk jiwaku yang sedikit kerontang. Alhmdulillah

                        

Berulang-ulang aku dengarkan lantunan shohibu baiti… Tuhan, sungguh lirik ini, ingatkan aku akan siapa pemilik diriku… aku lupa siapa tuan rumah diriku sendiri, selama ini.
Rasanya sudah bertahun-tahun dengar kalimat “man ‘arafa nafsah- ‘arofa rabbah – man ‘arafa rabbahu ‘arafa nafsah (sesiapa yg tahu dirinya akan tahu Tuhannya, juga sebalikanya),” tapi rasanya baru kali ini tersadar, ada titik cahaya di palung paling tersembunyi di hatiku, di muhhy. Seolah selalu lupa, tingkatan hati ini berlapis-lapis… shadr-qalb-fuad-muhh.
Menurut "EAN" (sebelum nembang syair ini, yang sungguh saya sangat2 menyukainya): “Tidak ada apa-apa selain Allah dan Rasulullah, tidak ada orang hebat, tidak ada orang besar, tidak ada yang indah-yang baik-yang benar, karena semuanya larut dalam keagungan Allah dan keindahan Nur Muhammad SAW .
beliau juga mengatakan: “hilangkan semua, kecuali tuan rumahmu dalam dirimu… jangan memohon Allah untuk datang ke dalam hatimu, tapi yakinlah seyakin-yakinnya, Allah ada dan bersemayam dalam hatimu.”
Jangan khawatir tentang masa depan, ada Tuhan… jangan takut di jahatin orang, ada Tuhan… jangan takut dihinakan, ada Tuhan yang sangat mudah bagiNya memuliakan… jangan takut ditinggalkan pun di khianati , ada Tuhan… dan jangan takut sepi sendirian, ada Tuhan… Ribuan makna akan terjaring tentang hidup, tentang perjalanan, tentang diri, tentang Tuhan… dengan bersendirian. lihatlah baginda Rasulullah pun gemar menyendiri bukan?
Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wa ni’ma-n nashir.
Shohibu baiti… Ya shohibu baiti… (Tuan rumahku… Wahai tuan rumahku)
Imamu hayatii… Ya Imamu hayati… (Pemimpin hidupku… Wahai pemimpin hidupku)

Mursyidu imanii… Anta syamsu qolbiy… (Penuntun imanku… Engkau (cahaya) mentari hatiku)
Qomaru fuadi… Ya qurratu ‘aini… (Rembulan jiwaku… Wahai penyejuk mataku)
Syafi’u nashibiy… Ya maula jihadiy… (Penolong (dari) beban(berat)ku… Wahai muara perjuanganku)
Ufuqu Syauqi… Ya baabu akhirati… (Cakrawala rinduku… Wahai pintu keabadianku)


serang , 30 juni 2013 00:15
"SHOHIBU BAITI "
( ALLAH  Tuan Rumahku Dan RASULULLAH Penjaga Pintunya )


Tidak ada komentar:

Posting Komentar