" MARHABAN YA RAMADHAN "
Sebagai orang bodoh, hampir setiap menjelang Ramadhan, saya selalu ditikam-tikam kebingungan. Di negeri ini, menjelang Ramadhan, biasanya orang pintar ilmu hisab dan orang pintar ilmu rukyat mulai terkesan saling ribut. Mereka bertekak, bersitegang, dan bersikeras dengan pendapatnya masing-masing dalam penentuan jatuhnya 1 Ramadhan atau 1 Syawal.
Entah mana yang benar. Saya tidak peduli. Bisa berpuasa saja, bagi saya sudah syukur. Soalnya, saya malu kepada Allah SWT yang masih mau menghadiahi saya kesempatan bertemu Ramadhan. Padahal, setiap detik, saya cuma bisa terus-terusan berbuat dosa.
***
Sebagai orang bodoh, saya mulai bertanya- tanya. Mengapa penentuan jatuhnya bulan baru cuma dirukyat atau dihisab pas mau masuk Ramadhan atau Syawal saja? Kalau dipikir-pikir, harusnya awal-akhir bulan-bulan lain juga mesti dirukyat dan dihisab, dong!? Setiap bulan seharusnya ada petugas yang mengamati (merukyat dan menghisab) pergerakan bulan. Sehingga, pas mau masuk bulan baru setiap bulannya, pemerintah dan ormas yang pakai hisab atau rukyat harus mengumumkan hasil sidang isbat juga. Misalnya, kalau mau masuk bulan Shafar, seharusnya diumumkan: bahwa berdasarkan hasil hisab atau rukyat, besok akan masuk bulan Shafar. Begitu seterusnya setiap akan masuk bulan baru.
Selama ini, tradisi itu yang tidak tampak. Ribut-ribut Hisab-Rukyat biasanya cuma di awal-akhir Ramadhan saja. Padahal, Ramadhan itu kelanjutan dari Sya’ban. Sya’ban itu kelanjutan dari Rajab. Rajab itu kelanjutan dari Jumadil Akhir. Jumadil Akhir itu kelanjutan dari Jumadil Ula. Jumadil Ula itu kelanjutan dari Rabi’ul Akhir. Rabi’ul Akhir itu kelanjutan dari Rabi’ul Awwal. Rabi’ul Awwal itu kelanjutan dari Shafar. Shafar itu kelanjutan dari Muharram. Muharram itu kelanjutan dari Dzulhijjah. Dzulhijjah itu kelanjutan dari Dzulqo’dah. Dzulqo’dah itu kelanjutan dari Syawal.
Nah, begitu kan seterusnya? Jadi, apa mungkin kita meributkan kedatangan awal bulan Ramadhan saja, namun kita sama-sekali tidak menggubris kapan tepatnya Rabi’ul Awal datang? Anak ayam itu awalnya telur. Baru setelah menetas, dia jadi kuthuk. Selama ini, kita langsung menganalisis kuthuk. Tanpa melihat fase saat kuthuk itu masih berupa telur. Ini namanya keterputusan sejarah!
“Cuma” masalah fiqh
Lalu, di televisi nanti biasanya petinggi ormas yang biasanya puasa duluan akan bilang bahwa keputusannya untuk berpuasa duluan itu adalah masalah akidah. Jadi, tidak bisa diutak-atik lagi. Nah, masalahnya di sini! Kalau sudah pakai kata-kata “akidah”, pintu dialog dan usaha untuk mempertemukan perbedaan agar umat bisa berpuasa berbarengan pasti sudah tertutup.
Menurut saya yang bodoh ini, keputusan puasa hari ini atau esok hari itu bukan masalah akidah. Itu “cuma” masalah fiqh. Penentuan awal-akhir bulan itu hasil ijtihad yang status “benar-salahnya” masih “tergantung”. Tergantungnya bisa karena beda mazhab, beda pemikiran, dan beda tafsir atas sumber-sumber. Terserah bedanya karena apa, yang pasti, awal-akhir puasa itu bukan masalah akidah. Tapi masalah fiqh. Karena itu, meskipun berbeda, seharusnya kita bisa berbareng-bareng puasa. Tidak duluan-duluanan!
Kalau Anda menyembah Eyang Subur, sedangkan saya menyembah Allah, itu baru namanya masalah akidah. Jadi, kita tidak bisa berbarengan. Lha kalau cuma soal penentuan awal-akhir bulan, menurut otak saya yang awam ini, kan itu masalah fiqh. Selama masih masalah fiqh, pasti bisa dikompromikan, dipertemukan, dan dimufakatkan agar umat ini bisa kompak puasa berbarengan. Tinggal lagi, ada yang mau mengalah dan merendah-diri, tidak? Ingat! Ilmu manusia itu sudah pasti salah dan belum tentu benar. Sedangkan ilmu Allah SWT itu pasti benar dan tidak mungkin salah.
Hijab identitas
Lagi. “Tergantungnya” hasil ijtihad itu juga terkadang terjadi karena faktor “identitas”. Apa itu identitas? Identitas adalah sesuatu yang membuat kita identik atau sama dengan kita. Misalnya, seorang mahasiswa bernama Marcengoh punya Kartu Identitas Mahasiswa (KTM). Nah, KTM itu jelas bukan mahasiswa bernama Marcenguh. Akan tetapi, saat ia menunjukkan KTM-nya, KTM-nya itu identik atau sama dengan dia.
Bagaimana faktor identitas masuk ke dalam masalah penentuan awal-akhir Ramadhan? Mudah saja. Apakah sesuatu yang identik dengan kelompok yang sering “ribut-ribut” masalah awal-akhir bulan? Salahsatunya, yang identik, adalah metode penentuan awal-akhir bulan, yaitu Hisab dan Rukyat. Hisab identik dengan Muhammadiyah. Rukyat identik dengan NU. Imkanur Rukyat identik dengan pemerintah. Rukyat Global identik dengan Hizbut Tahrir (HT). Mengapa bisa identik? Tentu sejarahnya panjang. Bahasannya di lain tempat.
Saya cuma mau menekankan, bahwa masalah “identitas” ini sering bikin runyam. Sebuah ormas yang dikenal atau identik dengan Rukyat, misalnya, biasanya akan terus-terusan pakai Rukyat tanpa menjumpakannya dengan Hisab. Ormas yang pakai Hisab, biasanya akan terus-terusan pakai Hisab, tanpa mempertemukannya dengan Rukyat.
Seperti saya sebut di atas, masalah itu kan “cuma” masalah fiqh. Seharusnya itu bisa dipertemukan. Kalau ternyata tidak bisa dipertemukan dan jika memang keduanya tidak mau bertemu, itu besar kemungkinan karena “identitas kelompok” lah yang menjadi hijab keduanya. Maksud saya, masing-masing kelompok bersikukuh karena untuk menegaskan identitas dan eksistensi (keberadaan) mereka. Atas dasar identitas, ormas ahli Rukyat mati-matian harus pakai Rukyat, biar berbeda dengan ormas ahli Hisab. Begitu sebaliknya. Kalau tidak begitu, apa bedanya ormas yang ahli Hisab dan ormas yang ahli Rukyat? Ah! Mudah-mudahan sangkaan saya ini salah.
Berkah orang bodoh
Itulah dilema jadi orang bodoh seperti saya di negeri orang pintar ini. Mau berpuasa saja bingung. Harus mendengar debat tentang awal-akhir bulan di televisi, radio , koran , internet, facebook, maupun di twitter dulu. Alhasil, daripada bingung, bagi saya, standar datangnya Ramadhan itu cukup hanya dengan menonton televisi sesering-seringnya sajalah!
Asal di televisi mulai ramai iklan sarung, iklan baju koko, dan iklan sirup, berarti sebentar lagi kita mau masuk bulan puasa. Gitu, kan? Asal Ungu, GIGI, , The Changcuters syukur2 NOAH juga ikutan , buat lagu religi dan suara Opick sudah cetar-membahana di televisi, pasti sebentar lagi kita akan memasuki musim Ramadhan.Gitu, kan? Kalau Luna Maya, Nikita Mirzani, Tyas Mirasih, Julia Perez, Dewi Perssik, dan para presenter acara gosip sudah tampak menutup aurat, berkerudung, dan memakai busana muslim, itu berarti kita akan berjumpa Ramadhan. Gitu, kan? Tambahan: kalau mall-mall dan pusat perbelanjaan sudah mulai menggelar diskon besar, itu juga berarti kita mau bersua bulan Ramadhan. Betul, kan?
sekali lagi Saya cuma orang bodoh. Saya hanya berpandu pada tanda-tanda standar Ramadhan ala televisi itu saja. Saya tidak mau ikut-ikutan berdebat bersama orang pintar rukyat dan orang pintar hisab. Di negeri ini sudah terlalu banyak orang pintar. Berdasarkan iklan di televisi, orang pintar itu, sebagaimana juga orang bejo, rentan masuk angin. Makanya ada obat masuk angin untuk orang pintar dan orang bejo. Untunglah saya ini orang bodoh. Jadi, insya Allah saya terhindar dari masuk angin. (mohon di Aamiin nin ya ) ^_^
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga puasa kita diterima Gusti Pangeran. Amin. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar