Selasa, 23 Juli 2013

Reportase Maiyahan: “Cahaya Diatas Cahaya”


Bertempat di Rumah Adab Indonesia Mulia di kota Pati, Sabtu 20 Juli 2013, Maiyahan Suluk Maleman mengambil tema ‘Cahaya di Atas Cahaya’. Setelah dibuka dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan persembahan Lir Ilir dari Sampak Gus Uran, Habib Anis Sholeh Ba’asyin menyapa semua jamaah dengan menyatakan bahwa puasa merupakan titik awal untuk membersihkan diri dari segala yang haram. Puasa membangun peradaban cahaya.Turut hadir di atas panggung Pak EH Kartanegara dan Pak Toto Rahardjo.

Ada sebuah cerita, seorang ayah menyuruh anaknya mencari makhluk yang paling buruk. Jika berada di posisi si anak, Cak Nun menyatakan tidak akan berangkat. Ada tiga alasannya.


Pertama, hanya Allah yang mempunyai tingkat ketelitian yang memadai untuk menilai apakah seseorang itu baik atau buruk. Jangankan manusia, malaikat pun harus konfirmasi dulu kepada Allah. Nabi juga tidak diberi kemampuan sejauh ini. Nabi tak diberi pengetahuan mengenai jumlah sel, atom, proton, dan neutron. Sangat banyak hal yang sama sekali tidak kita ketahui. Setan saja, yang teknologi batinnya jauh di atas kita, tidak mengerti baik-buruk sampai ke tingkat kasunyatan.


Kedua, kemampuan manusia tidak terletak pada daya memastikan kenyataan yang dia serap atau dia miliki. Yang bisa dilakukan manusia adalah merasa dirinya jelek – dan ini merupakan semacam kewajiban moral. Maka semua Nabi menyebut diri mereka sebagai dzalim. Jawa punya ajaran untuk ini, yakni :bisoo rumongso, ojo rumongso biso.

Orang Jawa punya peradaban dan resolusi batin yang berpuluh abad lamanya yang membuat mereka memiliki makrifat-makrifat batiniah tertentu tanpa melalui ajaran-ajaran agama. Orang Jawa bisa membedakan ‘bener’ dengan ‘pener’, misalnya. Setiap kata dan peristiwa di Jawa diterjemahkan secara sangat detil.

Acara seperti malam ini pasti disebut sebagai pengajian, bukan pengkajian.Pengkajian merupakan pekerjaan di dalam majlis taklim berupa pengumpulan data, analisis, dan penyimpulan. Majlis taklim adalah simposium intelektual, di mana beberapa orang yang sejajar posisinya berkumpul untuk mencari kebenaran. Tapi sekarang yang berlaku justru kebalikannya.

Baik-buruk merupakan urusan orang yang berakal, yang mengalami perjanjian dengan Tuhan untuk menjadi orang baik dan dia diberi pengertian antara baik dan buruk.

Alasan ketiga, cerita itu terjadi antara ayah dan anak yang beragama Islam, maka mungkin terjadi pada abad ke-8, ke-9, atau ke-10. Dalam sejarah, manusia mengalami penurunan jangkauan usia dan ukuran badan. Nabi Adam umurnya 900 tahun, kemudian Nabi Nuh ditingkatkan lagi sampai 3000 tahun lebih.Pada masa Nabi Adam belum ada Qur’an, belum ada bahasa. Bahasa yang ada adalah bahawa yang diajarkan langsung oleh Allah.

Mengenai tema yang dibahasa pada malam ini, yakni cahaya, Cak Nun membacakan Surah An-Nur ayat 35, lalu memberikan pendekatan untuk memahami apa itu cahaya dan bagaimana sifat-sifatnya dalam tiga tingkatan. Matahari yang selama ini kita percaya sebagai sumber cahayapun sebenarnya tidak memancarkan cahaya. Matahari hanya memancarkan energi inti sedemikian rupa sehingga ketika dia menimpa benda-benda alam tertentu akan membuat mata kita menjadi kompatibel sehingga kita bisa melihat. Cahaya merupakan sesuatu yang sangat misterius yang merupakan awaldari kehidupan kita, sekaligus sesuatu yang sangat ghaib yang merupakan ujung dari kehidupan kita.

Big Bang menyebabkan cahaya terbagi menjadi tiga macam: cahaya yang dapat diindera, cahaya berupa gelombang, frekuensi, dan energi yang tak kasat mata, dan cahaya esensial seperti wujud aslinya. Tiga padatan atau gelombang inilah yang bekerja dalam hidup, baik di dalam maupun di luar diri kita.

Gelombang pertama adalah gelombang materialisme. Bentuknya bisa berupa bumi, kekayaan, jabatan, negara, balsem, minyak tawon, macam-macam kuliner, dan semua yang terindera. Gelombang pertama ini merupakan kerak atau ampas dari cahaya. Setelah meninggal nanti, bentukan dari gelombang pertama ini tak mungkin kita bawa untuk bisa berjodoh dengan cahaya yang lebih sejati. Sementara itu, sekarang rata-rata manusia justru menyibukkan diri dengan materialisme.

Materialisme adalah alat pertama Dajjal dan Iblis untuk membalik pandangan manusia, sehingga pada gilirannya manusia justru mengejar neraka dan meninggalkan surga. Pertemuan-pertemuan Maiyah di manapun merupakan wujud kecemasan jamaah terhadap gelombang pertama, terhadap gelombang yang paling kasar dan paling pendek umurnya.

Padahal yang nanti dipanggil Allah adalah mereka yang muthmainah, mereka yang mampu merasakan ketenteraman sejati di dalam dirinya. Makan ya makan, tapi bukan makannya yang utama.

“Anda lihat dari berbagai grup musik, dari Godbless, Ucok Harahap, Panbers, sampai Noah, kami Kiaikanjeng tetap seperti ini dan itu dinamakan tidak mengalami peningkatan. Karena yang dimaksud sebagai peningkatan itu adalah peningkatan materialisme. Sejak kelas 3 SMA saya sudah menolak untuk kondang, untuk kaya, dan untuk punya jabatan. Kalau bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa terbelakang, saya merasa diri saya tidak terbelakang. Sekarang definisi bangsa maju adalah bangsa yang kaya. Saya tidak taat pada dunia materialisme, tidak taat pada dokter, tidak terikat hukum, tidak mau taat hukum. Karena mau kamu bikin aturan atau tidak, saya akan tetap jadi orang baik – bukan karena disuruh.

“Anda saya sarankan untuk jangan sampai dikuasai oleh gelombang pertama. Anda tidak boleh tertekan, sedih, stress, bingung. Anda harus lepas dari kebingungan-kebingungan itu.

Uang itu kerak cahaya, kerak materialisme yang tidak bermutu, tapi ketika dia digunakan untuk menafkahi anak, istri, dan tetangga, itu menjadi gelombang cahaya yang lebih sejati.

“Amati di dalam dirimu, mana yang merupakan gelombang pertama, kedua, dan ketiga. Saat menjadi pegawai, absen pagi-sore, mengerjakan urusan-urusan pekerjaan, itu merupakan pekerjaan gelombang satu.Dia bisa menjadi gelombang kedua tergantung dari caramu memaknainya. Batas-batas hubunganmu dengan materialisme harus kamu manage terus. Pokoknya cari terus gelombang ketiga (Nur Muhammad). Tiap hari Anda harus bermain silat untuk tidak membiarkan diri Anda diperbudak gelombang pertama.

Setelah penampilan dari kelompok Jazz Ngisor Ringin, Habib Anis menambahkan, “Kalau kita balik, cahaya tahap pertama sampai keempat, apakah kebenaran itu ketika yang di dalam sesuai dengan yang di luar? Kita bisa melihat daun hijau karena ada sesuatu di dalam diri kita yang bisa melihat ketika nyambung dengan dunia luar.

“Setelah menemukan kebenaran yang material, kita akan menemukan kebenaran yang sifatnya cahaya. Kalau ada cahaya matahari yang membuat kita mampu menangkap warna hijau, kita akan mencari sumber cahayanya. Kehidupan kita bukan hanya menerima atau memantulkan tapi juga turut berpartisipasi dalam pembentukan cahaya dalam diri, keluarga, masyarakat, dan semesta. Kalau kita mengerjakan kebenaran kecil, akan muncul efek akumulasi yang bergulung-gulung menjadi kenyataan besar di semesta ini.

“Allah manciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan – juga yang di dalam diri Anda, itu punya koneksi dengan yang ada di alam semesta. Hiduplah dalam kebenaran, sampai nanti Anda menemukan sumber cahayanya, yaitu Nur Muhammad, lalu ke sumber dari sumbernya yaitu Allah sendiri.

Pada sesi tanya-jawab, empat jamaah mengajukan pertanyaan. Pertama, rumus seperti apa yang bisa digunakan untuk menuju gelombang ketiga. Kedua, apakah cahaya kuning, biru muda, hitam, merah yang melekat pada beberapa orang itu yang dimaksud sebagai cahaya dalam bahasan tadi. Ketiga, seperti apa level gelombang ketiga. Terakhir, ketika orang merenung, apakah itukah cahaya yang sebenarnya.

“Godaan untuk manusia adalah pertanyaan-pertanyaan seperti ini,” jawab Cak Nun, “Kalau istrimu hamil, apakah Anda harus melihat wujudnya pada beberapa minggu pertama atau nanti saja kalau sudah waktu kelahirannya?

“Jangan minta sekarang ini, bagaimana rasanya bertemu dengan Allah, atau bagaimana wujud gelombang sejati. Sekarang masalahnya tinggal: kamu mau ke sana atau tidak. Kalau tanya seperti apa wujudnya sekarang, itu seperti kamu baru mau kerja kalau sudah jelas berapa hasilnya. Akhirnya nggak jadi kerja.

“Nggak usah nanya. Nikmati saja perjalanannya, bukan panennya. Kalau ngomong wujud, ya tan kinoyo ngopo, tan keno kiniro. Kalau kamu mengandalkan pengetahuan sampai ke sana, kamu akan kehilangan kenikmatan dari ketidaktahuan. Padahal dalam beberapa hal, tidak tahu itu sangat penting. Jalani saja.

“Kemudian mengenai tiga gelombang, itu hanya simplifikasi saya. Bisa saja aslinya ada 7, 9, atau tak terbatas.Itu hanya untuk memudahkan. Pada semester pertama kita mengenal x, y, dan z, tapi sebenarnya kan ada banyak sekali di luar itu.

Maiyahan Suluk Maleman diakhiri dengan shalawatan dan doa bersama.



*source :  kenduricinta : dalam acara Maiyahan pati tgl 20 juli 2013

Senin, 22 Juli 2013

Cerita Cinta Yang Ganjil

1. Rasa cintaku yang teramat sangat , cintaku yang tulus,
2. telah hilang, menguap, dan kini rasa benciku
3. berkembang setiap hari. ketika aku mengingatmu.
4. aku tak ingin lagi melihat wajahmu sedikitpun;
5. satu hal yang sungguh aku inginkan adalah
6. mengalihkan mata ke gadis lain.dan aku tak akan bermimpi lagi untuk
7. meminangmu menjadi kekasih hallal ku , jika aku mengingat petemuan terakhir kita sungguh-
8. sungguh amat membosankan dan tak akan
9. membuat aku ingin memelukmu  lagi.
10. selama ini, kau selalu memikirkan diri sendiri.
11. jika kita menikah, pasti aku akan mendapatkan
12. hidup yang sulit, dan kita tak akan menemu
13 .kebahagiaan . sedang aku punya satu hati
14. Yang teramat aku jaga dan aku sayangi , tapi itu bukan sesuatu
15. yang ingin aku berikan semua buatmu. tiada yang lebih
16. bodoh dan egois dari kamu, kamu tak pernah
17. memerhatikan, merawat dan mengerti aku.
18. aku sungguh berharap kamu mau mengerti ,
19. aku berkata jujur. kamu  baik sekali jika
20. menganggap inilah akhir dari cerita kita . tidak perlulah kau
21. membalas jeritanku ini. Jeritan yang di dalamnya dipenuhi
22. hal-hal yg tak menarik bagimu. kamu memang tak punya
23. cinta yang tulus seperti aku mencintaimu. sampai jumpa dan percayalah,
24. aku tak akan mengingatmu lagi, dan jangan pernah berpikir
25. aku masih dan akan terus mencintaimu



srg , 0713
catatan:
tiap baris cerita ini sengaja diberi angka, agar kau
bisa membedakan baris ganjil dan baris genap.
demi malam yang jatuh hati pada kesunyian 
bacalah baris yang ganjil saja, hapus baris selebihnya.sesungguhnya, ini selembar "cerita cinta yang ganjil."untuk mu

Senin, 15 Juli 2013

Kalam Maiyah

Kalam maiyah Untuk Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah
Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh :
1.
Malam ini kita menghormati dan menyampaikan
penghargaan kepada 3 + 9 orang di antara sekian
orang yang pekerjaan sehari-harinya insyaallah
disenangi oleh Tuhan, di tengah gegap-gempita
peradaban modern yang profesi utamanya adalah
menyakiti hati Tuhan.
Malam ini kita bukan sedang memberikan
penghargaan kepada orang yang prestasinya
hebat, yang punya kekuatan dahsyat, yang punya
kreativitas mumpuni, yang punya kepandaian
intelektual, atau yang punya ketinggian spiritual.
Ijazah Maiyah dan Syahadah Maiyah juga tidak
diperuntukkan bagi orang dengan keunggulan
professional, bahkan tidak juga untuk keunggulan
itu sendiri. Maiyah berpendapat manusia tidak
perlu mengungguli sesama manusia.
Wilayah nilai yang mengumpulkan kita di sini
bukan hal-hal besar atau yang dianggap besar oleh
Peradaban Materi yang sedang berlangsung
sekarang ini, melainkan hal-hal yang kecil,
sederhana, dasar dan inti pada kehidupan
manusia.
Yakni benarnya seseorang memilih nilai dalam
hidupnya. Otentisitas pilihan itu sehingga
membuatnya punya karakter untuk menjadi orang
yang bukan dirinya. Kesungguhan di dalam
menjalankan nilai pilihannya itu. Kesetiaan di
dalam memperjuangkannya dalam rentang waktu
yang lama dan teruji. Serta keikhlasan untuk
menanggung segala akibat, resiko atau bahkan
kesengsaraan karena pilihannya.
2.
Nilai-nilai yang diambil, dipercaya dan diterapkan
selama dua abad terakhir oleh ummat manusia
sedunia, tidak lama lagi akan mengalami
kehancuran yang sungguh-sungguh.
Manusia, kelompok-kelompok, institusi-institusi
dan satu-satuan dalam peradaban yang kini
berlangsung, sudah mencapai puncak kebusukan
dan kebobrokannya. Mereka terperdaya oleh pilihan
nilainya sendiri. Mereka tertipu oleh
kebanggaannya sendiri. Mereka terbentur dan
terjerembab oleh andalan-andalan dan unggulan-
unggulannya sendiri. Maiyah menyaksikan ummat
manusia sedang menyelenggarakan upacara bunuh
diri kemanusiaan secara massal dan global.
Proses bunuh diri global atau dialektika
penghancuran yang dilakukan oleh ummat manusia
atas dirinya sendiri itu segera akan muncul di altar
sejarah berupa kehancuran ekonomi di wilayah-
wilayah permukaan bumi yang selama ini dipercaya
sebagai tonggak-tonggak kekuatan ekonomi.
Hal itu akan memacu meningkatnya secara radikal
potensi konflik, penyerbuan militer, peluncuran
nuklir, adegan-adegan bunuh diri dalam arti yang
wadag dan nyata, mengubah alam pikiran dan
psikologi ummat manusia ke arah chaos kejiwaan
dan kebingungan intelektual yang tidak bisa
dihindarkan lagi.
Gedung-gedung tinggi yang angkuh kepada Tuhan
akan ambruk. Panggung-panggung dengan aktor-
aktor sejarah yang arrogan akan berpatahan tiang-
tiang penyangganya. Lampu-lampu gemerlap yang
memancarkan kesombongan akan meredup atau
padam sama sekali. ‘Atheisme’ peradaban
abad-21 akan sampai di ujungnya.
Malam ini Jamaah Maiyah Nusantara
menyampaikan cinta dan junjungan kepada 3 + 9
orang di antara sekian orang, yang tidak ikut
menghancurkan kehidupan dan tidak turut merusak
dunia.
3.
Maiyah tidak punya derajat, fasilitas dan dana,
untuk memberi penghargaan kepada siapapun.
Sehingga Maiyah juga tidak mencari-cari orang,
tokoh atau siapapun, dari berbagai bidang atau
profesi, untuk diberi penghargaan.
Maiyah hanya melakukan tugas perjalanan
sejarahnya – yakni memperluas wilayah di mana
manusia diajak bersama-sama membangun
perilaku yang tidak dibenci oleh Allah -- kemudian
menjumpai 3 + 9 orang, kali ini, yang bukan hanya
layak atau patut dihormati, tapi bahkan wajib
dijunjung tinggi, dengan takdzim penghargaan,
sejauh yang Maiyah mampu lakukan.
Tentu saja Maiyah optimis ada ribuan orang yang
memiliki kepatutan semacam itu, tetapi Maiyah
malam hari ini hanya sanggup menjunjungkan
cinta kepada 3 + 9 orang suri tauladan.
Di tengah kehidupan yang sedang berjalan santai
menuju kehancuran demi kehancuran, yang
berlangsung sangat lamban secara materiil, namun
berlangsung sangat cepat dan radikal secara
ruhaniyah -- Maiyah memberikan penghargaan
kepada ‘3 + 9 titik cahaya’, di antara ratusan titik
cahaya lainnya, di tengah ribuan titik-titik cahaya
yang lebih luas namun samar-samar.
3 + 9titik cahaya itu menjalani kehidupan yang
bertentangan dan berarus balik dari arus raksasa
penghancuran dan kehancuran nasional global
yang sedang berlangsung.
4.
Maiyah menemukan bahwa salah satu jenis
kehancuran mendasar yang sedang kita alami
secara nasional dan sebentar lagi tiba di
puncaknya, adalah – bahwa -- di manapun
manusia berada, sebagai apapun ia, perilakunya
semakin berkecenderungan untuk tidak
memaksudkan setiap kosakata sebagaimana
makna dari kosakata itu.
Setiap kata, idiom, istilah, dimaksudkan oleh
manusia di Negeri ini tidak sebagaimana
kandungan arti yg diwakili oleh kata-kata itu. Kata
'manusia', 'masyarakat', 'Negara', 'demokrasi',
'Agama', 'pembangunan', 'kemajuan',
'kesejahteraan', 'keadilan', 'Pemerintah', 'politik',
dan hampir kata apapun saja termasuk 'Nabi',
'Malaikat' dan 'Tuhan'.
Kalau disebut ‘manusia’, ternyata bisa berarti
‘hewan’, ‘setan’ atau ‘benda’.
Kalau diucapkan ‘masyarakat’, yang
dimaksud bias ‘penduduk’, ‘gerombolan’, juga
tidak diurus perbedaannya dengan ‘ummat’,
‘kaum’, ‘bangsa’ atau ‘suku’.
Dikatakan ‘Negara’, padahal kenyataannya
‘Perusahaan’.
Dibilang ‘Demokrasi’ faktanya ‘Jebakan’.
Disebut ‘Agama’, maksud tersembunyinya
adalah ‘Komoditas’.
Diumumkan kata ‘Umroh’, maksud aslinya
adalah ‘Money Laundring’.
Dipidatokan ‘Pembangunan’, kandungannya
adalah ‘Pegadaian’.
Diorasikan ‘Kemajuan’, prakteknya adalah
‘Kemacetan’.
Membangga-banggakan ‘Kesejahteraan’
tanpa menyebutkan bahwa itu tidak
dimaksudkan untuk rakyat.
Menuturkan ‘Keadilan’, tidak ada ilmunya,
sehingga tak ada pula kenyataannya.
Kita pikir ‘Pemerintah’, ternyata Buruh yang
berlaku Juragan.
Ngomongnya politik, ternyata yang dimaksud
adalah Penipuan.
Yang dimaksud ‘Nabi’ adalah Dukun
Yang dimaksud ‘Malaikat’ adalah adalah Peri
Yang dimaksud ‘Tuhan’ adalah Artis.
Jamaah Maiyah Nusantara melihat, menyaksikan,
menemukan dan membuktikan dalam jangka waktu
puluhan tahun
Bahwa Bunda Cammana benar-benar Bunda
Cammana
Bahwa Kartolo sungguh-sungguh Kartolo
Bahwa Joko Temon asli Joko Temon
Bahwa Pakde Nuri sejatinya memang Pakde
Nuri
Bahwa Bang Alisyahbana adalah pohon yang
meskipun hidup di tanah yang hampir tak
memungkinnya tumbuh, ia tetap subur
rindang sebagai Bang Alisyahbana
Bahwa Pakde Heru Yuwono tak ada lain
kecuali Heru Yuwono
Bahwa Harwanto Dahlan dari lahir hingga
wafat adalah Harwanto Dahlan
Bahwa Lik Rahmat Mulyono tidak pernah
sedetikpun menjadi bukan Lik Rahmat
Mulyono
Bahwa Cak Sumitro Sumajah penuh
penderitaan untuk bertahan menjadi Sumitro
Sumajah
Bahwa Mas Uki Bayu Sejati tidak pernah
masuk angin sehingga mengubahnya menjadi
bukan Mas Uki Bayu Sejati
Bahwa Joko Kamto jiwa hidupnya bertapa
sehingga gegap gempita dunia tak sanggup
menggesernya dari kepribadian Joko Kamto
Bahwa Nevi Budianto tidak terpengaruh oleh
nikmatnya sorga untuk terus berdiri tegak
sebagai Nevi Budianto
Wassalam

Surabaya 14 November 2011
Sabrang Mowo Damar Panuluh

*) dibacakan pada saat acara IJAZAH MAIYAH
 14 November 2011, di Gedung Cak Durasim,
surabaya

Kado yang Tak Sampai

link : DEARYOU



Humoriz Dropbox

upgrade kapasitas dropbox dari 2gb - 50 gb
langsunng aje monggo di sedot bahannya :

1. download dulu filenya di marii : humoriz-db



2. uninstal dulu Dropbox di HH njenengan

3. extrack dulu downloadtan tadi , kemudian copykan file yg udh di download td ke folder system - app dan system - framework

4. jangan lupa set permisionnya ( rw--r--r-- )

4.  reeboot

5. login dropbox dengan account njenengan , tunggu sampai dapat email dari dropbox dulu .

6. kemudian buka email yg dari dropbox tadi

7. dwooyyyrrr : jadi deh .

SELAMAT MENCOBA , SEMOGA BERMANFAAT ^_^  BARAKAHLLAH



Kamis, 11 Juli 2013

Reportase Maiyahan Ramadhan " Cakrawala Puasa "

    Bangsa ini membakar dirinya. Jadi yang paling penting di Indonesia adalah yang memadamkan api dari orang yang membakar dirinya.Jiwa mereka, mereka bakar sendiri sehingga kehilangan iman, kehilangan Tuhan.Pikiran mereka mereka bakar sendiri sehingga kehilangan logika dan akal.Konon katanya hnya manusia yg brwadah bsar yg mmpu mnerima, mnyimpan&meraga energi yg datang dri luar msuk kedlm dirinya.Sbut sja kesaktian.

   Apakah kalau Ramadhan berlalu, anda masih ingat Puasa ?Apakah kita telah berpuasa? Pertanyaan ini sering mengusik kalbu insan berpuasa.Ketiadaan tahu pelaku puasa dikarenakan puasa adalah ibadah yang tergolong private langsung kepada Sang Khalik.
Tak ada garansi maupun indikator diterimanya karena mutlak hak preogatif-Nya.Ibarat perlombaan lari yang tercepat belum tentu bebas dari diskualifikasi sang juri dan pemenangnya tak pernah diumumkan.

   Puasa adalah sunyi dan hening.Ironi di negeri yang diklaim sebagai pejalan puasa terbesar di muka bumi, ibadah yang harusnya individual, sunyi dan hening berubah menjadi kerumunan yang penuh gegap gempita mengundang perhatian khalayak ramai.Tak peduli Ramadhan jatuh di Januari, Agustus / Desember,musim hujan/musim kemarau,kemeriahan puasa selalu trjadi di sgala geliat kehidupan.Pasar-pasar makin ramai transaksi, masjid/mushola/langgar/surau mendadak ramai pada lima waktu penuh isi, ucapan selamat dan hormati bulan puasa dalam berbagai bentuk poster spanduk/baliho/umbul-umbul menghiasi pelosok negeri,tokoh dan pemuka dari berbagai golongan pun bergantian menghiasi layar televisi sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat puasa,brbuka puasa yg hikmad brubah mnjdi upacara penuh riuh tawa ceria,bhkan suasana sahur pun disulap mnjadi kmeriahan dlm brbagai kreasi event.

 Jika pemilu dan pemilukada ditandai dengan minimnya tingkat kepedulian, namun Ramadhan di negeri ini tingkat partisipasi sangat tinggi.
 Tren busana menyesuaikan dengan kesantunan, presenter dan tokoh segala keyakinan larut dalam busana tahunan ini.Industri pun rela membanting core bussines nya demi mengeruk laba tinggi dengan menumpang semangat bunglon sesaat.
 Dimensi ketakwaan sebagai target utama puasa seakan tak pernah terdefinisi dengan paripurna.Namun puasa bagi golongan yang benar-benar berpuasa adalah sebuah proses panjang penantian.

   Jika kita terbiasa memutar kaset, puasa laksana menghentikan sesaat untuk kemudian diputar kembali atau identik dengan istilah pause? Entah karena kebetulan atau ada keterkaitan “PUASA” dan “PAUSE” seakan mempunyai kemiripan makna.Setahun membutuhkan jeda sebulan untuk merehatkan sistem metabolisme tubuh.Jika sebelas bulan adalah laksana jadwal padat sepakbola maka puasa adalah jeda musim kompetisi untuk mengistirahatkan para pemainnya.Waktu yang tepat untuk refleksi kemudian mempersiapkan diri memasuki sebelas bulan berikutnya.Sehingga insan yang berpuasa seakan seperti terlahir kembali (fitri) usai keluar dari pemusatan latihan.Latihan membutuhkan persiapan yang serius yang disimbolkan dengan keberadaan sahur.

    Menurut Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah."Namun anehnya suasana sahur tenggelam dengan prosesi berbuka yang tak jarang terasa berlebih-lebihan.Hidangan sahur bermenukan ala kadarnya, bahkan seringkali adalah sisa semalam.Tak salah jika muncul anggapan manusia berpuasa sekedar menyiapkan untuk berbuka bukan menyiapkan diri untuk berpuasa.

    Dalam konteks yang lebih luas berpuasa hanya sekedar menyongsong idul fitri, atau saat menunggu untuk kembali melampiaskan.Makna pause sebagai jeda refleksi dan pemusatan latihan kemudian diremehkan hanya sekedar waktu tunggu pelampiasan.Seperti layaknya sepak bola, manusia ketika berpuasa dilatih bertanding total football.Kehidupan tidak melulu menyerang tetapi harus bersiap untuk bertahan seketika, maju dan mundur sama baiknya.Meski berposisi sebagai pemain bertahan juga mampu menjadi penyerang tengah yang tajam.Kemampuan fisik yang prima tiap-tiap individu diharuskan dan dituntut kemampuan menyerang dan bertahan yang sama bagusnya.Sensitif pada keadaan kiri-kanan kawan, dan siap sedia untuk pertukaran posisi di lapangan pertandingan.

    Dan koordinasi antara Pelatih, Kapten Kesebelasan dan tiap-tiap Pemain dapat berjalan dengan baik. Menjadi team yang baik perlu adanya kemampuan individu dan kerjasama team.Team yang diisi oleh multi karakter tidak menjadi kendala bagi team, selama tiap-tiap individu menomor satukan kebersamaan.Puasa dapat menjadi metode latihan kebersamaan sosial bersama berbagai lapisan masyarakat.belajar memahami sepinya kaum marginal,Puasa tidak hanya menyangkut tidak makan dan tidak minum saja.Puasa berkaitan dengan seluruh mekanisme kehidupan, menyangkut seluruh kenikmatan dan penderitaan di dalamnya.

   Yaa ayyuhalladzina amanu kutibu ‘alaikumushshiyaamu kama kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.As-siyaam memiliki padanan kata yakni shaum, seperti yang terjadi pada kata qaum yang padanan katanya adalah qiyam.Qiyam artinya berdiri, sementara qaum adalah orang yang berkumpul bersama-sama untuk bersepakat mendirikan sesuatu.Manusia-manusia yang berkumpul sangat mungkin melahirkan variasi selain qaum, yakni bisa menjadi ummat, masyarakat, maupun rakyat.

    Ummat terjadi ketika orang-orang berkumpul karena ada alasan historis. Mereka berkumpul karena ada seperibuan nilai.Nilai itu bisa berupa iman, filosofi, kebudayaan, adat, dan apapun juga. Mereka berada in the same motherhood.Jadi dimungkinkan lahirnya ummat Harley Davidson,yg masing2 anggotanya brkumpul krena sama2 memiliki ibu nilai berupa kbanggaan memiliki HD.
 
     Masyarakat adalah orang yang berkumpul karena menyepakati untuk mengerjakan suatu kesepakatan di mana suatu pekerjaan akan diserikatkan. Masyarakat memiliki makna yang lebih padat atau jasadi daripada ummat.

    Kalau rakyat berasal dari ra’yah, yaitu orang-orang yang berkumpul karena sama-sama memiliki kedaulatan atas suatu wilayah dan urusan.Maka dipersyaratkan ada MoU yang kemudian diresmikan dalam konstitusi berupa negara.Rakyat adalah orang yang berkumpul dalam suatu perjanjian yang disebut negara di mana yang pegang kedaulatan adalah mereka.Rakyat tidak sama dengan masyarakat. Masyarakat bisa segmentatif, tapi kalau rakyat bersifat utuh.

    Qaum adalah orang yang berkumpul karena suatu ciri. Cirinya boleh budaya, boleh gen, boleh apapun saja.Tapi kalau qiyam adalah orang yang berkumpul untuk menegakkan kekauman mereka. Lalu bagaimana dengan shaum dan shiyam?

    “Terserah Anda apakah Ramadhan ini Anda pakai untuk shaum atau shiyam.Kalau untuk shaum, yang penting Anda mendapatkan nilai-nilai puasa secara universal,tapi kalau Ramadhan Anda pakai untuk pergerakan shiyam, maka Anda menyepakati ada satu prinsip2 nilai yang akan Anda tegakkan bersama2.Kalau bahasa Jawa memilih menggunakan shiyam dalam penyebutan puasa.

     “Kembali ke puasa. Ramadhan ini Anda desain untuk menjadi nilai kebangkitan atau yang penting Anda mendapatkan hikmah universal?Terserah Anda akan menghimpun diri sebagai ummat manusia atau bangsa Indonesia atau ummat Islam /sebagai orang Jakarta, atau sebagai apapun.Itu pilihan Anda masing-masing. Tapi hari ini Anda harus punya pilihan mau shiyam/ shaum.Minimal kita dapat shaum,syukur2 dapat shiyam.”

     Poin kedua, kama kutiba ‘alalladziina min qablikum. Puasa merupakan tradisi budaya yang sudah ada sebelum Islamnya Muhammad datang.Islam-Islam yang ada sebelumnya merupakan Islam yang belum lengkap. Allah menyebarkan ratusan ribu Nabi ... Di dalam Muhammad ada Ayub, ada Adam, ada Idris, Nuh, Hud, Ibrahim, Khidir, Isa, Yesus, Buddha dan siapa saja.dan dua puluh lima rasul kemudian dijadikan dalam satu tabung besar bernama Muhammad.Yang kita sebut Muhammad bin Abdullah ini adalah salah satu episode Muhammad yang berlangsung selama 63 tahun.Sedangkan alam semesta ini berlangsung selama beratus-ratus juta tahun dan Muhammad sudah ada sejak sebelum jagad raya diciptakan.“Maka benar kalau Maulid Nabi itu tanggal 12 Rabbiul Awwal, tapi kalau maulidu Muhammad itu sudah tidak bisa kita hitung.Nur ciptaan Allah yang pertama itu dibikin sebelum Dia menciptakan apapun.Karena Dia bahagia terhadap ciptaan-Nya yang berupa nur ini, diberikannyalah gelar Muhammad.”“Nah, Muhammad ini besok-besok dicicil dalam Adam, Idris, Ayub, sampai Musa, Ibrahim, dan seterusnya,kemudian diaplikasikan secara biologis menjadi Muhammad putra Abdullah cucu Abdul Mutholib.Jadi pemahaman mengenai Muhammad jangan berhenti pada Islam melalui fiqh yang dikenal dan diperkenalkan oleh para ulama.Kalau selama ini ada maulidun Nabi, kita Maiyah akan bikin maulidunnur.”

      Poin ketiga adalah la’alakum tattaqun. La’alakum selama ini diterjemahkan sebagai ‘dengan berpuasa mudah2an engkau menjadi bertaqwa.Allah memerintahkan hamba-Nya berpuasa dengan asumsi bahwa mereka sudah bertakwa.Kan kemarin sudah shalat, sudah zakat? Masa untuk bertakwa mesti menunggu Ramadhan?”La’alakum selama ini tidak membikin Indonesia mengalami kemajuan apapun selama berpuluh-puluh Ramadhan karena salah dalam penerjemahannya.Efeknya adalah anggapan bahwa setelah Ramadhan kita boleh tidak bertakwa lagi karena akan ada Ramadhan2 didepan untuk membuat kita bertakwa.“La’alakum" bukan berarti ‘supaya’. Kemudian, Sampeyan ini masuk Ramadhan rumangsane durung puasa? Anda kan sudah selalu puasa? Yang terus-menerus berbuka adalah parpol, dirjen, menteri-menteri, ketua partai. Anda kan tidak.

      Saya pada Ramadhan lalu bertanya pada jamaah, semua orang mengaku telah bergembira masuk Ramadhan.Ngaku kamu yang jujur apakah seneng atau nggak disuruh berpuasa? Asline mangkel to, cuma nggak berani ngelawan? Aslinya kan nggak suka to? Kalau ada pengumuman dari Allah yang membebaskan kita dari keharusan berpuasa, pasti seneng to?”“Lho, tapi bagaimana dengan orang yang berpuasa tapi hatinya tidak ikhlas? Lebih bagus dong! Kalau kamu bahagia masuk Ramadhan kemudian kamu gembira, apa hebatnya? Yang hebat adalah orang yang tidak senang tapi tetap menjalankannya.Kalau kamu suka rujak lalu memakan hidangan rujak, apa istimewanya? Tapi kalau kamu memakan rujak yang tak kamu sukai itu semata-mata karena Allah yang menyuruh, akan menjadi lebih tinggi nilainya.“Waktu Umar bin Khatab mencium Hajar Aswad kan Beliau juga ngomong gitu, ‘Kalau tidak karena Rasulullah menciummu, tidak akan aku menciummu.Tapi karena Rasulullah yang aku cintai dan aku imani menciummu,maka aku menciummu.Tapi jangan pernah berpikir bahwa aku menciummu karenamu’.“Terus ada kiai-kiai yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa? Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja.”“Jadi, sekarang kalau Anda proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, Indonesia puasa sejak kapan? Orba, Orla, Reformasi? Reformasi ini lebih banyak buka atau puasanya? Atau buka banget untuk level ini, puasa banget untuk level itu.

      Tolong diihitung semuanya. Anda dengan Ramadhan kesekian ini, akan ke mana? Maka kita butuh pause sebentar untuk tafakkur. “Kalau kita lebarkan dikit, Anda harus mengenali dirimu.Dalam rukun Islam, Anda orang dengan tipologi yang mana? Apakah syahadat, shalat, puasa, zakat, atau haji? Kecenderungan irama hidupmu, improvisasimu, ketahanan mental dan staminamu, itu berbeda-beda. Kalau kamu manusia puasa berlaku dengan budaya shalat, tidak kuat. Kamu harus menemukan dirimu. Saya tak perlu Ramadhan untuk belajar berpuasa. Anda harus menemukan puasamu sendiri.Manusia syahadat membutuhkan manusia shalat, zakat, puasa, haji. Mereka semua berfungsi.Di setiap kantor ada yang bagian syahadat thok, ada bagian sholat yang memelihara secara rutin dan istiqomah,ada bagian puasa yang mengontrol dengan menciptakan perundingan-perundingan, ada bagian zakat yang berinisiatif atas social contribution,ada bagian haji yg memastikan bahwa kelompok tersebut harus memiliki puncak-puncak prestasi. 5 jenis manusia ada di dalam setiap komunitas.

       “Kalau mau bikin kabinet, hitung dengan lima tadi. Kalau Anda memakai itu saja, Tuhan sudah senang dan akan menolong kabinetmu.Tapi kalau kabinetmu disusun berdasarkan tawar-menawar antarkelompok dan keuangan, maka kamu tidak akan ditolong sampai kapanpun.Apalagi kamu presiden yang tidak punya otoritas. Kamu hanya punya sepuluh persen dari otoritasmu.Yang tiga puluh persen ada pada istrimu, yang enam puluh persen sisanya ada pada ibu mertuamu. Itulah power sharing.

      “Memang bakatnya bangsa Indonesia itu puasa. Karena nggak tercapai hari raya yang sejati, maka ya yang penting mudik.Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah.setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman , pulang yang lebih jauh adalah ke sejarah yang lebih jauh, dan pulang yang paling sejati adalah kepada Allah.
  
      Mudik adalah kesadaran untuk tauhid.Kita pikir kita akan bertakwa setelah puasa Ramadhan. Ternyata syarat berpuasa Ramadhan adalah takwa.Kalau kita masuk Ramadhan tanpa bekal takwa, tak akan kita dapatkan Idul Fitri.Kalau tujuan utama dalam Islam selalu baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur. Bangsa kita untuk mencapai Robbun ghofur butuh berapa langkah lagi? Untuk mencapai baldatun thoyyibatun berapa lama lagi? Tahap kita ini menuju sejahtera dulu. Padahal kalau sejahtera sudah ada, nanti muncul : apakah sejahtera ditempuh dengan baik atau tidak. Baldatun : sejahtera yang ditempuh setelah melalui ujian kebenaran. Tahap kita ini menuju sejahtera.Sjahtera sja blm,apalagi adil dlm kesejahteraan.Pdahal kalau sjahtera trcapai,blum diprsoalkan apakah sjahteranya didpatkan dgn benar/tidak.Baldatun thoyyibatun mensyaratkan kesejahteraan ditempuh dan dicapai di dalam ujian kebenaran.Kalau hanya negara sejahtera, gemah ripah loh jinawi, belum tentu thoyyibah.Baldatun thoyyibatun adalah ketika ekonomi diuji oleh akhlaq,oleh moral, oleh nilai2 dasar. Itupun belum cukup kalau belum wa Robbun ghofur.Benar seperti apapun masih terbuka untuk kekhilafan-kekhilafan, maka dimungkinkan adanya amandemen pada undang2 yg sudah disepakati bersama.

      Puncak kebenaran kita adalah al Haqqu mirrobbika fa laataqunanna minal mumtarin.Agama memang diturunkan untuk membentuk karakter manusia, untuk bisa dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari.Agama diturunkan bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk membentuk manusia.La’alakum tattaqun bukan berarti ‘supaya kamu bertakwa’, karena kalau kita kaji bahasa Arab, kata ‘supaya’ menggunakan kata lam al ghayyah.Kalau la’ala merupakan alat untuk mengajak dan mengharapkan sesuatu.

      Nabi bersabda bahwa stiap hari Beliau hrus mndapatkan manfaat.Kalau tidak ada pningkatan kualitas diri,brarti hari telah brlalu tnpa berkah. Konsep dalam Islam merupakan konsep yang harus selalu naik kelas, maka ada konsep mi’raj.Dalam hadits disebutkan Ash sholatu mi’rajul mukmin. Sembahyang adalah mi’raj orang beriman.Mi’raj sendiri artinya pendakian. Tidak bisa orang sholat itu hanya mendatar. Begitu pula dengan puasa.Itulah yg menyebabkan kenapa la’alakum tattaqun mestinya kita pahami sbagai ssuatu yg mngantar manusia untuk brpuasa supaya bisa naik kelas.

      Sebelas bulan sebelum Ramadhan adalah persiapan untuk memuncaki sampai pada Ramadhan. Kalau seperti ini, asumsinya sudah bertakwa.Hanya orang yang bertakwa yang bisa berpuasa dengan benar. Maka dalam puasa Allah sendiri mengatakan, ‘Puasa itu untukKu, dan hanya Aku yang memberikan balasan’.Puasa Ramadhan merupakan puncak, karena kalau kita tidak berpuasa sebelumnya, kita tidak mampu berpuasa pada Ramadhan.Ada puasa Senin-Kamis, ada puasa enam hari di bulan Syawal, yang merupakan latihan untuk bisa selalu naik kelas.“Islam itu sangat inspiratif untuk perubahan, mencari keadilan, kebenaran,”Di dalam Islam, inspirasi apapun sepanjang itu dapat mendukung moralitas kita, sesuatu itu mubah menurut hukum fiqh-nya.

      Halal itu mestinya nggak dilabel karena sesuatu itu boleh kecuali yang dilarang. Yang diberi label itu mestinya yang dilarang.“Bulan puasa ini sesungguhnya memuncaki seluruh proses kerinduan yang terjadi sepanjang tahun. Maka ada Idul Fitri, perayaan atas kesucian.Orang yang bertaqwa dan memuncaki dengan Ramadhan barulah kembali kepada kesucian.Mengubah diri menjadi manusia yang diinginkan Allah melalui puasa membutuhkan paling tidak satu tahun untuk bisa naik kelas.

      Manusia Muhammad lahir ketika ia mampu menjadikan syahadat, shalat, puasa, zakat, dan hajinya sebagai satu kesatuan utuh.Di dalam Alquran tidak ada ayat Ya ayyuhalladzina aslamu. Jadi kewajiban puasa untuk seluruh umat manusia. Perkara mereka tidak merasa,Tuhan tidak masalah dengan semua itu. Tuhan tidak tergantung sama kita, meskipun Dia rendah hati dengan manjadi Asy-Syakur.Kita yang butuh Tuhan karena kita ingin selamat dalam menjadi apa yang dimaksudkan Tuhan pada penciptaannya. Jokowi mukmin atau tidak? Bukan mulutmu yang menjadikan Allah cinta padamu, melainkan ketulusan hatimu.Kok bertengkar mengenai mukmin? Semua mukmin kok. Allah Mahakaya kok manusia memiskinkan diri.

      Di dalam kekayaan itu tumbuh pohon yang bernama kegembiraan. Akarnya bernama keikhlasan. Kita trjemahkan Tuhan sebagai pemarah di Indonesia,pdahal kita marah itu kan krna mmiliki kpentingan&kpentingan itu terlukai oleh pihak lain. Sementara Tuhan tidak punya kepentingan apapun.Ketika Tuhan mengatakan bahwa Dia marah, itu adalah kemesraan-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya. Konsep Tuhan yang pemarah menimbulkan adanya anggapan bahwa orang berpuasa harus dihormati. Tapi tidak dengan Maiyah, yang berani mengatakan bahwa orang berpuasa untuk mendidik dirinya supaya bisa menghormati orang lain. Justru kita yang menghormati.

       Masa Tuhan bikin Alquran hanya untuk org Islam?Hanya untuk MUI,NU,/ Muhammadiyah?Alquran untukmu semua,bahkan untuk pohon,daun dan semuanya. Bahkan gunung-gunung pun bisa berbicara andai saja kau bisa menangkap bahasanya.Jangan terlalu meregulasi hidupmu. Kamu itu ahsani taqwim. Kamu itu masterpiece-nya Tuhan. Kamu tidak perlu motivasi-motivasi. Saya kira manusia Indonesia akan mengagetkan manusia dunia pada waktunya.Karena dulu,mulai generasi ke-4 dari Nabi Adam ada Anwar dan Anwas. Anwas menurunkan Yahudi, Arab, dan Eropa. Anwar lahir dari campuran manusia, malaikat, dan iblis. Dari Anwar inilah lahir orang-orang Jawa. Anda itu begitu mudah menggabungkan iblis dan malaikat menjadi pengantin. Maka bukan hal aneh jika tiba2 menjadi Muslim semua kalau Ramadhan, bukan aneh jika kita mampu menipu orang di depan Ka’bah, dan seterusnya.

       Andaikan kata mudik berasal dari bahasa Arab: dho'a=hilang, mudli'=orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang Lebaran, orang berduyun-duyun pulang dari perantauan ke kampungnya, karena selama setahun mereka merasa kehilangan. Kemudian, mereka mudik untuk menemukan kembali.Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau di negeri mana pun, kampungnya adalah rumah sejatinya. Saya punya banyak teman2 PKI /yg di-PKI-kan hidup puluhan tahun diJerman, Prancis,tapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih detail: di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka mengimpor istri dari kampung. Karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa seperti rumahnya di kampung.

       Kalau agak sok ilmiah, katakanlah: ada mudik sosiologis, ada mudik antropologis, ada mudik kosmologis. Mudik sosiologis itu waktunya ''sekarang'', ruangnya adalah skala atau teritori sosial budaya. Kita cari hidup,mengembangkan diri,dari kampung bersekolah keluar,bekerja,sampai jadi presiden/gelandangan di tepian jalan protokol Jakarta. Di depan ada masa depan, di belakang ada masa silam. Masa silam sebenarnya selalu lebih kuat dibandingkan dengan masa depan. Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap orang. Kita jadi presiden kemudian memitologisasikan kepada seluruh rakyat bahwa asal usul kita adalah anak petani, sambil meyakin-yakinkan alias menipu diri kita sendiri tentang apa saja yang kita manipulasikan secara sosial. Atau kita rekayasa bahwa memang sudah selayaknya kita jadi presiden karena aslinya kita bernasab Keraton Solo atau Yogya, atau keturunan Prabu Brawijaya, Sunan Giri, atau turunan Rasulullah Muhammad SAW.

       Pandangan ke masa silam sungguh kenikmatan tiada tara. Sementara masa depan berujung di maut. Kalau kita gagal berkarier, hidup miskin, tak punya keunggulan apa-apa, menabung kematian dalam kehidupan, mungkin malah agak enteng memandang ke masa depan. Maut sudah kita akrabi melalui riwayat-riwayat kesengsaraan dan kegagalan Tapi kalau kita sukses, dari sopir meningkat tata usaha meningkat wartawan terus jadi menteri dalam kabinet dan negara yang kita semakin takut meninggalkan apa yang kita sangka sukses hidup. Semakin uzur usia semakin menyesali berkurangnya umur. Semakin tua usia semakin karib dengan kekosongan dan kengerian berada dalam kubur. Maka upacara mudik kita prlukan agar para krabat&handai tolan dikampung mngerti sukses kita&itu mrupakan snack kepuasan sosial budaya sesaat

        Orang tak pernah punya sukses kayak saya terbebas dari post-power syndrome. Tetapi bisa juga ada dialektika yang sebaliknya. Karena hidup tak begitu sukses, masa depan terjauh hanya tua dan mati, maka mumpung masih dikasih jatah hidup oleh Tuhan, mending kita rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu. Mudik sosiologis setiap Lebaran menjadi momentum yang jangan sampai terlewat. Karena masih lbih nikmat mngenang sejenak asal usul sosial budaya kita di kampung brsama keluarga,dibandingkan dgn mnikmati kehidupan nyata.

       Orang sukses sangat membutuhkan mudik antropologis, karena melancong ke wilayah nasab diri dari Hayam Wuruk sampai Homo sapiens , dan mungkin Homo erectus sungguh menambah bersinarnya ikon eksistensi kita. Sekarang bahkan sangat banyak kartu ID yang mencantumkan nama plus gelar plus nenek moyang hebat. Kebanyakan orang akan mengenal nama itu dan kagum kepada pemilik ID-card itu. Gus Fullah bin Kiai Haji Fulan keturunan Syekh Falun bin Maulana Fulun bin Ayatullah Fulus..

       mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan. Mudik Lebaran setahun sekali, tapi banyak modus mudik yang bisa kita lakukan.Saya tidak punya prestasi apa-apa tidaklah penting, pokoknya saya keturunan Nabi Ibrahim. Adapun mudik kosmologis adalah hakikat setiap detik untuk berproses dalam lingkar Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Orang tak bisa untuk tidak mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali. Takkan ke mana-mana engkau pergi, meskipun kau lalui seribu peperangan dan kemenangan, kau libas setiap pesaing, kau menangkan pemilihan nasional, kau pertahankan kursi kekuasaan, kau memancar di puncak mercusuar popularitas,kau bangun segala kemegahan, kau tumpuk gumpalan emas dan kau himpun seribu dayang menjadi budak yang melayanimu memakaikan baju, menyikat gigimu dan menceboki tinjamu. Tak kan ke mana engkau pergi kecuali menyerahkan dirimu kembali, terpaksa atau ikhlas, kepada asal usul yang sejati. Juga apa pun saja yang kau pikir kau miliki: kekayaan, harta benda, kau tumpuk-tumpuk,... mereka hanya untuk satu tujuan: mereka meninggalkanmu atau engkau mendadak meninggalkan mereka, Kalau kau curi uang dan harta milyaran trilyunan itu untuk kau pergikan ke mana? Sebab setiap momentum pergi adalah kembali. Engkau mncuri ssuatu dari suatu tempat yg srtifikatnya milik Tuhan,engkau memindahkannya mentransfernya ke suatu tempat yg juga milik Tuhan. Stiap tempat pergi adalah tmpat kembali. Setiap barang yg kau curi tidak punya jalan lain kecuali kau setorkan kembali ke "TukangTadahAgung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali milik-Nya sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguh-sungguhnya kita dan apa saja adalah adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya. Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa untuk saham rencana kelahiranmu.

       Jangan sekadar katakan bahwa kekuasaan hanyalah titipan: dirimu sendiri pun titipan. Krena engkau tak mmpu menciptakan dirimu sndiri.Bahkan kedua orangtuamu tak bisa mrancang pnjang hidungmu,aplgi tingkat kcerdasan pikiranmu. Tak ada kemenangan yang sejati engkau raih. Karena setelah seorang petinju menjatuhkan lawan, tunggu sejam lagi dan pertarungkan mereka kembali: kemungkinannya bisa berbeda. Kemenangan berlaku sesaat, dan batal substansinya pada detik berikutnya. Indonesia menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih presiden langsung dengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan kedamaian pemilu. Tetapi apa hasil dari puncak demokrasi itu hari ini? Bertanyalah kepada hati dan analisis akalmu, mintalah mereka berdua agar tak terkontaminasi oleh apa pun untuk jujur menjawab. Budaya keagamaan islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan konsum warna-warni mewah meriah kita pajang. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan ramadhan, atau untuk pemirsa?

        Kita ber-husnudhan bahwa kita ini semua sangat mencintai&menghormati Allah. Hanya saja,seakan2 hanya pada bulan ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada bulan ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli seakan-akan hanya didepan kamera saja kita menghormati Allah. Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.

     Puasa Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yg ditentukan,seperti disebutkan al-Qur’an. &waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan. Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng-engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu. Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya. Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.

       Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan.Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

        Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah. Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal&personal yg tidak menjanjikan kesejatian&keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah. Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir kembali ke kemegahan2 dunia–tak lagi untuk disembahnya. atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

         Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa? Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dgan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk,memiliki rumus dan formulanya sendiri2. Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa– sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi.

        Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi,pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai-rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sbg perjalanan deindividualisasi brarti menyadari&mengupayakan proses untuk larut menjadi 1 / lenyap ke dalam wujud-qidam-baqa’Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.

       Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.

      Proses dematerialisasi,proses ruhanisasi / proses transformasi menuju (bergabung,menjadi) Allah,mminta hal2 trtentu ditanggalkan&ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati. Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru. Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.

         Pada ‘citra’waktu,dematerialisasi, peruhanian,deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu. Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yg individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial(tawhid basyariyyah),ia mencair,melembut.Yg ananiyyah itutemporer&berakhir,yg tauhid basyariyah itu baqa’&tak berakhir. Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal. Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.

          Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan,negara, sistem,organisasi) melalui terma-terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri-konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.

       Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total. Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan-Hewan-Manusia- Ruhanisasi- Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia. Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’ kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan2 aliran,sekte,kelompok, mazhab atau organisasi agama.
 
      Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak-takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa.

       Kita menghormati ramadhan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci ramadhan. Mungkin karena ramadhan ini memang khas. Ramadhan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhususan. Padanya al-quran diturunkan,& Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yg 1 ini khusus untukNya. Apakah bulan yang selain ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yg sukses mencapai kesucian atau kefitriannya kembali?
Apakah ada bulan yang tidak suci? Apakah ada tahun, hari, jam, menit, detik, second atau waktu ciptaan Allah yang tidak suci? Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian?.

bersambung .

Selasa, 09 Juli 2013

Curhat Setan : AL-Quran yang di Bakar..!!

Pembatalan pembakaran Al-Quran hanya omong kosong belaka. Faktanya, dua pendeta justru melakukannya. Yang melakukan bukan Pendeta Terry Jones, tapi kedua pengikutnya. Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Al-Quran. Bersama Pendeta Danny Allen, Old melakukan aksinya di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media, Sabtu (11/9) lalu, sama persis pada hari yang dideklarasikan Terry Jones. Kedua pendeta itu menyiram dua buah mushaf dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api. Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu. Aksi dua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang kediaman Old. Mereka mengatakan aksinya merupakan pesan dari Tuhan. Old mengatakan gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya. “Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya,” ujarnya sebagaimana dikutip media online Tennessean (12/10).

“Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta,” katanya sambil memegang Al-Quran sebelum kemudian membakarnya. “Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu,” tambahnya. Kedua pendeta itu lantas melakukan apa yang disebutnya sebagai “demonstrasi damai” dengan sedikit gegap gempita. Delapan orang wartawan ikut menyaksikan aksi kedua rohaniwan gereja itu. “Anjing!” kutuk saya sesaat setelah membaca berita itu, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki saya keluar tanpa kontrol.

“Setan!” teriak saya sekali lagi. Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapan saya! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba. Jelas saya berang mendengar ucapannya. Emosi saya naik pitam. Dada saya turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulut saya. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!” “Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajah saya. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!” Napas saya turun naik, mata saya memerah, tangan saya mengepal. “Terkutuklah kau!” teriak saya. “Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.

Tiba-tiba saya tersintak. Tiba-tiba saya merasa harus menemukan Al-Quran milik saya yang entah saya simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Saya terus mencari.  Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya? Saya membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari.Saya mulai resah mencari di mana Al-Quran saya. Saya ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Saya memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, saya tak menemukan Al-Quran saya! “Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!” “Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba. Dada saya berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti saya mulai menangis—tetapi saya belum menyerah untuk terus mencari Al-Quran saya. Di mana Al-Quran saya? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, saya kira itulah Al-Quran saya, setelah saya ambil ternyata bukan “Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaran saya.

Tetapi kini saya tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dada saya. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup saya tahan. Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatap saya dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” kemudian ia tertawa. “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak memperdulikannya selama ini?” Saya terus menangis. Dada saya berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dada saya, mendesir gamang ke seluruh persendian saya.

Tiba-tiba saya ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Saya bergegas bangkit dari tubuh saya yang tersungkur, saya berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, saya segera ingat di situlah saya menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika saya hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… saya mendapatkannya: Al-Quran saya! Saya terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskan saya melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah saya harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah saya kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika saya jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!? “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Sabtu, 06 Juli 2013

Berpuasa Di Negeri Orang Pintar

 " MARHABAN YA RAMADHAN "
Sebagai orang bodoh, hampir setiap menjelang Ramadhan, saya selalu ditikam-tikam kebingungan. Di negeri ini, menjelang Ramadhan, biasanya orang pintar ilmu hisab dan orang pintar ilmu rukyat mulai terkesan saling ribut. Mereka bertekak, bersitegang, dan bersikeras dengan pendapatnya masing-masing dalam penentuan jatuhnya 1 Ramadhan atau 1 Syawal.

Entah mana yang benar. Saya tidak peduli. Bisa berpuasa saja, bagi saya sudah syukur. Soalnya, saya malu kepada Allah SWT yang masih mau menghadiahi saya kesempatan bertemu Ramadhan. Padahal, setiap detik, saya cuma bisa terus-terusan berbuat dosa.

***

Sebagai orang bodoh, saya mulai bertanya- tanya. Mengapa penentuan jatuhnya bulan baru cuma dirukyat atau dihisab pas mau masuk Ramadhan atau Syawal saja? Kalau dipikir-pikir, harusnya awal-akhir bulan-bulan lain juga mesti dirukyat dan dihisab, dong!? Setiap bulan seharusnya ada petugas yang mengamati (merukyat dan menghisab) pergerakan bulan. Sehingga, pas mau masuk bulan baru setiap bulannya, pemerintah dan ormas yang pakai hisab atau rukyat harus mengumumkan hasil sidang isbat juga. Misalnya, kalau mau masuk bulan Shafar, seharusnya diumumkan: bahwa berdasarkan hasil hisab atau rukyat, besok akan masuk bulan Shafar. Begitu seterusnya setiap akan masuk bulan baru.

Selama ini, tradisi itu yang tidak tampak. Ribut-ribut Hisab-Rukyat biasanya cuma di awal-akhir Ramadhan saja. Padahal, Ramadhan itu kelanjutan dari Sya’ban. Sya’ban itu kelanjutan dari Rajab. Rajab itu kelanjutan dari Jumadil Akhir. Jumadil Akhir itu kelanjutan dari Jumadil Ula. Jumadil Ula itu kelanjutan dari Rabi’ul Akhir. Rabi’ul Akhir itu kelanjutan dari Rabi’ul Awwal. Rabi’ul Awwal itu kelanjutan dari Shafar. Shafar itu kelanjutan dari Muharram. Muharram itu kelanjutan dari Dzulhijjah. Dzulhijjah itu kelanjutan dari Dzulqo’dah. Dzulqo’dah itu kelanjutan dari Syawal.

Nah, begitu kan seterusnya? Jadi, apa mungkin kita meributkan kedatangan awal bulan Ramadhan saja, namun kita sama-sekali tidak menggubris kapan tepatnya Rabi’ul Awal datang? Anak ayam itu awalnya telur. Baru setelah menetas, dia jadi kuthuk. Selama ini, kita langsung menganalisis kuthuk. Tanpa melihat fase saat kuthuk itu masih berupa telur. Ini namanya keterputusan sejarah!

“Cuma” masalah fiqh
Lalu, di televisi nanti biasanya petinggi ormas yang biasanya puasa duluan akan bilang bahwa keputusannya untuk berpuasa duluan itu adalah masalah akidah. Jadi, tidak bisa diutak-atik lagi. Nah, masalahnya di sini! Kalau sudah pakai kata-kata “akidah”, pintu dialog dan usaha untuk mempertemukan perbedaan agar umat bisa berpuasa berbarengan pasti sudah tertutup.

Menurut saya yang bodoh ini, keputusan puasa hari ini atau esok hari itu bukan masalah akidah. Itu “cuma” masalah fiqh. Penentuan awal-akhir bulan itu hasil ijtihad yang status “benar-salahnya” masih “tergantung”. Tergantungnya bisa karena beda mazhab, beda pemikiran, dan beda tafsir atas sumber-sumber. Terserah bedanya karena apa, yang pasti, awal-akhir puasa itu bukan masalah akidah. Tapi masalah fiqh. Karena itu, meskipun berbeda, seharusnya kita bisa berbareng-bareng puasa. Tidak duluan-duluanan!

Kalau Anda menyembah Eyang Subur, sedangkan saya menyembah Allah, itu baru namanya masalah akidah. Jadi, kita tidak bisa berbarengan. Lha kalau cuma soal penentuan awal-akhir bulan, menurut otak saya yang awam ini, kan itu masalah fiqh. Selama masih masalah fiqh, pasti bisa dikompromikan, dipertemukan, dan dimufakatkan agar umat ini bisa kompak puasa berbarengan. Tinggal lagi, ada yang mau mengalah dan merendah-diri, tidak? Ingat! Ilmu manusia itu sudah pasti salah dan belum tentu benar. Sedangkan ilmu Allah SWT itu pasti benar dan tidak mungkin salah.

Hijab identitas
Lagi. “Tergantungnya” hasil ijtihad itu juga terkadang terjadi karena faktor “identitas”. Apa itu identitas? Identitas adalah sesuatu yang membuat kita identik atau sama dengan kita. Misalnya, seorang mahasiswa bernama Marcengoh punya Kartu Identitas Mahasiswa (KTM). Nah, KTM itu jelas bukan mahasiswa bernama Marcenguh. Akan tetapi, saat ia menunjukkan KTM-nya, KTM-nya itu identik atau sama dengan dia.

Bagaimana faktor identitas masuk ke dalam masalah penentuan awal-akhir Ramadhan? Mudah saja. Apakah sesuatu yang identik dengan kelompok yang sering “ribut-ribut” masalah awal-akhir bulan? Salahsatunya, yang identik, adalah metode penentuan awal-akhir bulan, yaitu Hisab dan Rukyat. Hisab identik dengan Muhammadiyah. Rukyat identik dengan NU. Imkanur Rukyat identik dengan pemerintah. Rukyat Global identik dengan Hizbut Tahrir (HT). Mengapa bisa identik? Tentu sejarahnya panjang. Bahasannya di lain tempat.
Saya cuma mau menekankan, bahwa masalah “identitas” ini sering bikin runyam. Sebuah ormas yang dikenal atau identik dengan Rukyat, misalnya, biasanya akan terus-terusan pakai Rukyat tanpa menjumpakannya dengan Hisab. Ormas yang pakai Hisab, biasanya akan terus-terusan pakai Hisab, tanpa mempertemukannya dengan Rukyat.

Seperti saya sebut di atas, masalah itu kan “cuma” masalah fiqh. Seharusnya itu bisa dipertemukan. Kalau ternyata tidak bisa dipertemukan dan jika memang keduanya tidak mau bertemu, itu besar kemungkinan karena “identitas kelompok” lah yang menjadi hijab keduanya. Maksud saya, masing-masing kelompok bersikukuh karena untuk menegaskan identitas dan eksistensi (keberadaan) mereka. Atas dasar identitas, ormas ahli Rukyat mati-matian harus pakai Rukyat, biar berbeda dengan ormas ahli Hisab. Begitu sebaliknya. Kalau tidak begitu, apa bedanya ormas yang ahli Hisab dan ormas yang ahli Rukyat? Ah! Mudah-mudahan sangkaan saya ini salah.

Berkah orang bodoh
Itulah dilema jadi orang bodoh seperti saya di negeri orang pintar ini. Mau berpuasa saja bingung. Harus mendengar debat tentang awal-akhir bulan di televisi, radio , koran , internet, facebook, maupun di twitter dulu. Alhasil, daripada bingung, bagi saya, standar datangnya Ramadhan itu cukup hanya dengan menonton televisi sesering-seringnya sajalah! 

Asal di televisi mulai ramai iklan sarung, iklan baju koko, dan iklan sirup, berarti sebentar lagi kita mau masuk bulan puasa. Gitu, kan? Asal Ungu, GIGI, , The Changcuters syukur2 NOAH juga ikutan , buat lagu religi dan suara Opick sudah cetar-membahana di televisi, pasti sebentar lagi kita akan memasuki musim Ramadhan.Gitu, kan? Kalau Luna Maya, Nikita Mirzani, Tyas Mirasih, Julia Perez, Dewi Perssik, dan para presenter acara gosip sudah tampak menutup aurat, berkerudung, dan memakai busana muslim, itu berarti kita akan berjumpa Ramadhan. Gitu, kan? Tambahan: kalau mall-mall dan pusat perbelanjaan sudah mulai menggelar diskon besar, itu juga berarti kita mau bersua bulan Ramadhan. Betul, kan? 

sekali lagi Saya cuma orang bodoh. Saya hanya berpandu pada tanda-tanda standar Ramadhan ala televisi itu saja. Saya tidak mau ikut-ikutan berdebat bersama orang pintar rukyat dan orang pintar hisab. Di negeri ini sudah terlalu banyak orang pintar. Berdasarkan iklan di televisi, orang pintar itu, sebagaimana juga orang bejo, rentan masuk angin. Makanya ada obat masuk angin untuk orang pintar dan orang bejo. Untunglah saya ini orang bodoh. Jadi, insya Allah saya terhindar dari masuk angin. (mohon di Aamiin nin ya ) ^_^

Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga puasa kita diterima Gusti Pangeran. Amin. Wallahu a’lam.